Lebaran sebentar lagi. Dalam ritual tahunan itu, ada kebiasaan yang identik yaitu THR atau tunjangan hari raya. 


THR biasanya diterima pekerja dari tempat dia bekerja. Tapi istilah ini umum dipakai untuk pemberian menjelang lebaran. Anak dapat uang saat lebaran pun dikatakan THR.


Sejak kecil, mungkin kita sangat menunggu-nunggu dikasih THR. Terutama kepada saudara. Ya, biasanya yang punya hubungan saudara itu  yang sering ngasih THR. 


Dan kebiasaan ini berlanjut sampai saat ini. Sampai punya anak bahkan cucu lagi. 


Namun, belakangan ada imbauan tentang THR ini. Ada ajakan agar tak ngajarin anak minta THR kepada orang. Jangan mengajak anak membentuk budaya meminta-minta. 


Wah, apakah benar ngajarin anak minta THR sama saja dengan mengajari anak budaya meminta-minta?


"Kasih dong Om THR-nya,"


"Minta THR tuh sama Pakde,"



THR ini seperti kebiasaan. Sudah mendarah daging. Memang nggak mudah menghentikannya. 



Saya sepakat bahwa kita jangan mengajak anak punya budaya meminta-minta. Jangan ngajarin anak mental pengemis. Tapi apa iya dengan meminta THR menjadikan anak punya mental pengemis? 


Bahkan saya sepakat, ajari anak mandiri, bukan hanya saat lebaran saja. Pada bulan-bulan lainnnya pun perlu dibentuk kemandirian anak. Salah satunya jangan ngajari anak meminta-minta. Kalau diberi, diterima saja. Kalau nggak diberi, jangan meminta. 


Kalau mau sesuatu, usaha dulu. Misal mau beli mobil mainan, maka harus nabung dulu. Kalau dikasih uang, disimpan dulu. Kalau sudah cukup, baru dibelikan mobilan itu. 


Entah paham atau tidak, anak-anak pun bisa melakukannya. Bisa dikondisikan untuk nggak minta-minta. 


Tantangannya saat ada temannya pamer THR. Atau sewaktu saudaranya dapat THR, otomatis dia juga pengen minta. 


Karakter manusia nggak cuma dibentuk oleh satu momen ini, kok. Di lain momen juga ikut andil membentuk karakter manusia. Akumulasi momen itulah yang menjadi karakternya. 


Jadi, mau ngasih THR nggak nih? Hehe...


Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post