Akhirnya Covid-19 mampir juga ke rumah kami. Dan menyapa saya sama istri. Awalnya saya demam disertai pusing. Sampai 4 hari lamanya. Panas dingin bergantian. Ada lemesnya di sekitar sendi.Sampai-sampai saya tayamum untuk salat. Pernah juga nggak salat Jumat. Diganti salat Zuhur di rumah. Selama empat hari demam, penciuman masih ada. Itu makanya saya merasa nggak perlu swab. Bukan Covid-19 inimah.


Hari ke-5 sampai ke-7 saya sudah fit. Tapi masih di rumah saja, supaya semakin meyakinkan kalau sudah sembuh. Saat saya merasa sudah mau sembuh, giliran istri saya merasa sakit..pusing berat dan agak demam. Belum pernah dia sepusing ini. Bahkan sampai dua hari.

Karena merasa sehat, saya berani keluar. Termasuk ke sekolah buat ngambil pisang. Ada teman yang mau ngasih pisang. Kemudian saya ke warung juga beli beberapa makanan. Sampai hari ini saya masih ada penciuman.

Di hari ketiga istri saya sakit, pagi-pagi sekali dia mengeluhkan sakit kepala. Dan saat tanya, apa penciumannya hilang, dia jawab penciumannya hilang. Seketika dia kalut. Karena memikirkan anak-anak. Dia merasa kena Covid-19, makanya mikir gimana dengan anak-anak kalau harus isoman. Di rumah mana? Anak-anak dititip ke siapa?

Saya was-was juga. Jangan-jangan saya hilang penciuman juga. Lalu saya ambil parfum. Menyemprotkan barang dua kali. Lalu menghirupnya. Saya kaget. Penciuman saya hilang juga. Parfum yang biasanya menyengat harumnya, kali ini tidak tercium sedikit pun.

Karena masih penasaran, saya ambil parfum istri. Siapa tau parfum saya memang sudah hilang harumnya. Eh ternyata kejadiannya sama dengan tadi. Saya pun tak bisa mencium harum dari parfum istri. Lalu saya mengambil kesimpulan bahwa saya dan istri kena Covid-19.

Tapi kami tetap tenang. Tetap jaga pikiran agar tak kalut. Langsung perbanyak minum air hangat, minum BP, makan buah, dan banyak istirahat.

Makin banyak doa, zikir, dan mendekatkan pada Allah. Mengabari keluarga tentang kondisi kami. Meminta didoakan agar segera sembuh.

Bagaimana makan kami?

Untungnya masih ada beberapa stok makanan di rumah. Ada tempe, gudeg, bahan sop, dan telur. Nah, telur ini yang sangat membantu. Simpel dan enak. Termasuk bagi anak-anak. Ya, anak-anak kami memang suka banget sama telur.

Selama beberapa hari, tentu nggak cukup dengan bahan makanan yang ada. Kami pesan juga lewat ojek online baik ojek online yang sudah menasional maupun ojek online lokal. Termasuk beli beras, roti, dan lainnya kami pesan lewat jasa ojek online tersebut.

Dua hari positif Covid-19, kami mengabari saudara di sini. Beliau bekerja di RSUD di kota kami. Setelah dikabari, dengan sigap beliau mengirimkan obat yang diyakini mencegah dan mengobati Covid-19. Juga mengirimkan martabak telur 2 kotak.

Seketika kami merasa nggak enak. Karena kami tahu keluarga beliau pun sibuk. Beliau kan bekerja di RSUD dan punya posisi tinggi. Pasti sibuk.

Tapi memang mbak Asih memang ringan tangan. Kalau ada saudara repot, beliau membantu. Dua kali istri melahirkan, selalu dibantu sama mbak Asih.

Apalagi dalam kondisi seperti ini, tentu beliau tak bisa membiarkan saudaranya begitu saja. Mau repot beliau itu. Padahal, saat beliau sakit, kami belum tentu menjenguk, karena biasanya tidak tahu. Duh, jadi nggak enak.


Sudah Vaksin

Alhamdulillah, saya sudah dua kali vaksin. Lengkap. Saya mendapat vaksin di bulan Maret. Guru-guru SMA di Banten menjalani vaksinasi di lokasi KP3B, komplek pemerintahan provinsi.

Sedari dulu, saya pun tahu kalau sudah vaksin belum tentu bebas Covid-19. Saya pun tetap menjalankan protokol kesehatan. Tapi takdir berkata lain, saya harus merasakan juga. Mudah-mudahan ada hikmah dari ini semua. Aamiin

Menjelang sore hari, teman istri datang mengantarkan makanan. Beliau pegawai TU di kampus tempat istri saya mengajar. Banyak orang baik di sekitar kita.

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post