Hari kedua isolasi mandiri atau isoman. Kondisi kami sudah agak mendingan. Meskipun istri masih ada batuk dan lemas. Kalau saya? Sebenarnya sudah merasa sehat. Tapi penciuman belum ada. Beberapa kali membaui parfum tapi tak ada bau harum yang tercium.

Pagi sekali ibu menanyakan kabar kami berdua dan anak-anak. Alhamdulillah, sudah membaik. Lebih baik dari hari kemarin. Anak-anak masih aktif. Semoga tidak tertular kami.

Sekitar pukul 7 pagi datang Mbak Asih bawa makanan. Ada peyek, bakwan jagung, nasi, sayur nangka plus daging, dan pisang. Mbak Asing bawa makanan itu sambil berangkat ke kantor. 

Nasi dan lainnya nggak sempat di foto. Malah ini yang sempat difoto


Hari ini saya juga membatalkan kegiatan yang direncanakan sebelumnya yaitu wawancara PPDB sekolah. Dilakukan secara online lewat video call. Tapi saya minta diganti. Alhamdulillah, ada yang bisa menggantikan.

Dapat kabar juga beberapa orang di komplek saya juga terkenal Covid-19. Bahkan ada anak-anak juga. Wah, berarti memang kasus Covid-19 sedang dalam grafik naik. Di perumahan yang biasanya sepi kabar ini, kali ini ramai.  Semoga mereka lekas sembuh.

Daerah kami juga menerapkan PKMM darurat. Jalan protokol ditutup di malam hari. Mengantisipasi kalau banyak yang aktivitas atau nongkrong di jalan-jalan atau mobilitas tinggi di jalan tersebut.

Jadwal kereta api juga dibatasi. Hanya sampai jam 8 malam. Bahkan, kereta api lokal Rangkasbitung-Merak ditiadakan. Hal ini bertujuan mengurangi mobilitas warga. Dampaknya langsung terasa. Warga terpaksa mengantre di stasiun. Bahkan antreannya sampai panjang. Sebuah kebijakan biasa memakan korban. Memang sih kita harus bersabar dengan kebijakan ini. PKMM darurat diambil lantaran kasus Covid-19 yang menanjak. Semoga dengan kebijakan ini, kasus Covid-19 berkurang. Sambil menunggu vaksinasi yang bekerja, kita berharap kasus Covid-19 berkurang bahkan menghilang.

Kondisi anak saya masih sama seperti kemarin. Untungnya mereka bisa mandiri. Mereka mandi sendiri, makan kadang disuapin, juga nggak rewel. Dalam kondisi begini, kami terpaksa memberikan dispensasi yang tidak seperti biasanya. Mereka nonton laptop lebih lama. Dan lebih sering. Bisa 2-4 jam sehari semalam. 



 Mau bagaimana lagi. Mereka nggak bisa diungsikan. Kalau ada keluarga di sini, yang nggak terlalu repot, bisa saja dititipkan. Misalnya di orang tua saya atau orang tua istri. Tapi, keluarga kami jauh di Jambi sana. Akhirnya, anak-anak pun harus dikondisikan perasaannya. Rasa bahagianya. Yang penting mereka seneng, nggak bosen, atau minta maen keluar. Doakan mereka tidak tertular ya. Aamiin.

Yang paling susah itu di malam hari. Soalnya, biasanya si sulung kalau mau tidur minta dibacakan buku. Tentu saja hal ini susah dilakukan. Mengingat kami harus jaga jarak. Maka, di malam pertama itu, si sulung nangis.

Karena nggak tega, saya dekat. Tapi tidak dibacakan buku. Melainkan dipuk-puk saja. Begitu juga si bungsu. Minta ditemeni tidurnya.

Malam kedua alhamdulillah ketiduran karena siangnya nggak tidur siang. Jadi malam kedua nggak minta dibacakan buku. Hehe...


Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post