"Gurunya harus asyik. Kalau nggak asyik, mana betah anak. Ada yang matiin kamera, ada yang sambal tiduran, atau malah ditinggal sendirian di ruang zoom."

Demikian kata Shannaz Haque pada IG Live tadi sore. Temanya pas banget buat kita lho. Mengelola Emosi Bagi Orangtua. Dikhususkan saat pandemi saat ini. Tapi tetap relevan juga saat pandemi nggak ada lagi.

Di poster sih pematerinya cuma beliau saja. Tapi saat IG Live eh ada suaminya. Ya, Mas Gilang Ramadhan ikut. Tapi nggak satu akun, lho.Mungkin sang drummer ini sedang ada di tempat terpisah dari istrinya.

Nah, di awal, Shannaz bilang kalau mau sukses belajar daringnya, ada beberapa tips. Ini dia tipsnya:

1. Gurunya harus asyik

2. Libatkan anak

3. Bangkitkan karakter anak

4. Pahamkan literasi. Bukan hanya membaca, tapi mengerti bacaannya dan menerapakan dalam kehidupannya

5. Ajak anak agar mencintai ilmu pengetahuan

 

Tentang Positif Thinking

Mbak Shannaz bilang, positif thinking, untuk saat ini adalah Its ok not to be OK. Ringkasnya, OK-lah jika saat ini semuanya nggak seperti yang diharapkan. Misalnya, seharusnya anak paham dengan pelajaran. Tapi karena dilakukan secara daring, kalau nggak paham banget dengan materi yang dipelajari, orangtua harus nerima.

Orangtua harus sabar kalau kondisi anak nggak sama dengan orangtuanya. Orangtua jadi A. Anak nggak harus pula jadi A.

Shannaz juga bilang, “Saya sangat nggak suka dengan anak remaja saat ini. Sopan santunnya, cara ngomongnya. Tapi kita kan harus banyak memaklumi.”

DUIT dari Orangtua

Maka orangtua harus DUIT. Apa itu DUIT? Katanya Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal. “Sering berdoa. Baik setelah salat, atau ketika tidak sedang salat. Doakan yang baik-baik untuk anak kita.

 

Saat pandemi begini, orang tua nggak harus menuntut anaknya menjadi anak pintar. Bagi saya, anak yang KAK. Apa itu KAK? Kreatif, adaptif, dan kolabratif. “Anak yang seperti ini, sampai tua, dapurnya pasti ngebul. Jadikan anak kita generalis, bukan spesialis.”

Maksudnya, anak yang harus bisa banyak hal, karena situasi bisa saja berubah. Kalau hanya bisa satu hal saja, dia akan gagap menghadapi situasi yang berbeda. Nah,

 

Bicara nggak usah banyak-banyak. Bicaralah yang berkesan. Setiap anak berbeda. Jangan membandingkan dengan orang lain. Bandingkan dengan dirinya sendiri. Misalnya, “Kakak kemarin bisa merapikan kamar sendiri. Sekarang pasti bisa….”

Bicara pada situasi yang nyaman.  Kasihlah kepercayaan pada anak untuk menentukan pilihannya. Jangan hanya memberikan perintah. Suami istri harus saling mengisi. Mainkan peran ‘polisi baik’ dan ‘polisi jahat’ antara suami dan istri.

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post