Saat membaca kiriman di grup WhatsApp bahwa vaksin akan dipasangi chip sehingga orang yang sudah divaksin akan mudah diawasi saya langsung bingung. Malah, ditambah pula video Menteri BUMN.

"Nih, buktinya." Kata teman di grup WhatsApp itu. Kalau lihat videonya saya langsung curiga. Wah, jangan-jangan hoaks. Video juga gampang dipotong dan digabung-gabungkan.

Saya mikir bagaimana caranya memasukkan chip ke vaksin yang berbentuk cair. Lalu vaksin kan disuntikkan. Seberapa besar chip sehingga lolos dari lubang jarum?

Sampai di sana saja berita yang disebar lewat WhatsApp tadi sangat besar kemungkinannya kalau berita itu hoaks.

Termasuk saat ada video magnet bisa menempel di bekas vaksin, lha...saya mikir banget apa iya bisa begitu? Paling-paling keringat itu. Kan waktu kecil juga pernah nempel-nempelin koin di pipi atau kening. Bisa nempel juga.

Dan kemudian, dua berita di atas ada klarifikasinya atau penjelasannya dari yang pakarnya.

Mengenali berita hoaks itu mudah lho. Informasi dalam berita hoaks itu informasinya  tidak masuk akal.

Tapi, tidak semua orang memiliki pola berpikir kritis, khususnya bagaimana membedakan mana informasi hoaks dan mana yang bukan.

Berita hoaks itu punya ciri-cirinya. Bisa dengan mudah dikenali. Nah, berdasarkan buku Antisipasi Hoaks yang diterbitkan Kominfo, inilah ciri-ciri berita hoaks.

  1. Diawali dengan kata-kata sugestif dan heboh
  2. Kerap mencatut nama-nama tokoh atau lembaga-lembaga terkenal.
  3. Terdengar tidak masuk akal, sehingga kerap disertai dengan hasil penelitian palsu.
  4. Tidak muncul di media-media arus utama, biasanya hanya beredar melalui pesan singkat atau situs yang tidak jelas kepemilikannya.
  5. Biasanya disertai dengan penulisan huruf kapital dan tanda seru.

Pernah dapat pesan dengan ciri-ciri di atas? Segera waspada segera curiga. Jangan-jangan berita itu hoaks. Cara paling mudah cek apakah itu berita hoaks adalah cek di internet. Biasanya di google juga sudah ada pembahasan berita tersebut. Ya, jangan malas untuk cek berita ya.

Mengutip dari Antara, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate mengungkapkan terkait isu hoax di tahun 2021, paling banyak adalah mengenai berita COVID-19.

Berdasarkan data dari tanggal 23 Januari 2020 sampai 10 Maret 2021, total ada 1.470 isu hoax terkait COVID-19. Namun, hoax yang paling banyak disebar adalah di media sosial yaitu sebanyak 2.697, paling banyak di platform Facebook dan Twitter.




Selain itu, terdapat beberapa cara singkat untuk mengidentifikasi apakah suatu informasi itu tergolong hoax atau bukan. Berikut di antaranya.

Periksa alamat URL atau website apakah kredibel atau tidak.
Website yang biasanya menyebar berita hoaks biasa mengandalkan domain gratisan. Itu tuh yang ada blogspot.com atau wordpress.com-nya.

Periksa halaman tentang situs website yang menampilkan informasi tersebut.
Ketikkan saja di google. Biasanya google sudah memuat pembahasan tentang berita itu.

Periksa apakah ada kalimat yang menyuruh pembaca untuk membagikan pesan tersebut.

Kita jangan mudah percaya dengan berita yang disebarkan. Apalagi di WhatsApp sekarang ada fitur 'diteruskan berkali-kali' di WhatsApp. Kalau ada tanda seperti ini, wajib waspada.

Waspada juga walaupun berita itu disebarkan walaupun disebarkan oleh orang yang secara jabatan lebih tinggi dari kita atau lebih tua dari kita. Banyak orang meneruskan berita tanpa membacanya lebih dulu, tanpa mengecek beritanya.

Semoga bermanfaat.

2 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Setuju saya dengan sudut pandang Pak Supadillah.
    Ciri-cirinya juga saya setuju.
    Sekarnag kita harus lebih cerdas dalam memilih informasi yang disebar media sosial.
    Saring dulu baru Shering
    Terimakasih Pak, Sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Pak. Kalau nggak jeli, bisa termakan hoaks. Salam sehat selalu Pak Indra...

      Delete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post