Sambil mikirin lomba-lomba 17-an saya mengonsep dua lomba. Pertama, lomba Kominfo DIY. Kedua, lomba blog Aplikasi Tomps. Daerah saya termasuk zona kuning, jadi agak longgar penyelenggaraan kegiatan masyarakat. Warga pun berinisiatif untuk memeriahkan peringatan 17-an. 


 Berbagai macam lomba digelar seperti mancing, nangkap ikan di kolam, balap karung, lomba memasukkan pensil dalam botol, estafeta tepung, lomba baca Pancasila dan lainnya.

Saya kebagian juri lomba baca Pancasila. Lomba ini untuk anak-anak anak. Ada usia 3 sampai 15 tahun. Ada kategori putra dan putri. Di antara lomba-lomba lain, lomba baca Pancasila ini yang paling bergengsi. Karena hadiahnyapiala dan bingkisan. Sementara, lomba lain hanya bingkisan saja.

Menariknya dalam lomba ini setiap anak-anak mendapatkan hadiahnya. Ya, supaya mereka merasa dihargai. Sekali lagi, semua anak mendapatkan hadiah. Jadi, mereka pulang bawa hadiah masing-masing.

Meskipun di tengah pandemi, warga tetap antusias mengadakan lomba. Kata seorang warga, supaya anak-anak nggak terlalu jenuh lama berada di rumah. Selain itu, juga untuk mempererat silaturahim warga. Benar juga sih. Supaya lingkungan menjadi berkah pula. Wah, banyak ya manfaat ngumpul bareng dengan konsep lomba 17-an ini.


Seru banget lombanya. Kelihatan para peserta semangat saat saling mencapai kemenangan. Tentu saja ada ketawa-ketawanya. Itu yang paling dicari. Hehe ..

Yah, mudah-mudahan tujuan itu tercapai. Meskipun belum melibatkan semua warga. Karena pada saat yang bersamaan ada warga yang harus tetap datang ke tempat kerja. Mereka yang pegawai kesehatan atau polisi. Atau punya kepentingan lain yang tidak bisa ditinggal. 

Oke saatnya saya cerita dibalik layar memenangkan juara 3 lomba Kominfo DIY. 

Saya merasa story telling atau pengalaman menjadi nilai yang paling diperhitungkan. Yang paling kuat sehingga diperhitungkan oleh juri. Ya, saya mengalami apa yang saya ceritakan di postingan itu. 

Kemudian saya tidak melewatkan pengalaman itu hari per hari. Saya catat dan dokumentasikan terutama lewat foto. Sewaktu ada orang yang memberikan sumbangan makanan secara sembunyi-sembunyi yang diletakkan di pagar saya foto. Ada yang memberikan makanan di teras saya foto. 

Mungkin faktor itulah yang membuat tulisan saya mendapatkan juara 3 di lomba itu. 

Saya menangkap potret gotong-royong yang dilakukan oleh warga. Dengan gotong-royong itulah kami bisa bersama-sama melewati pandemi. Ketika ada tetangga yang gantian kena covid-19 kami bahu-membahu. Bukan mengucilkannya seperti di berita-berita itu. 

Dan menurut saya sangat relevan sekali dengan tema lombanya. Saya tidak mencantumkan video ataupun infografis. Jadi kekuatan tulisan ada di foto dan storytelling. 

Dan yang nggak boleh lupa dipenuhi ya syaratnya misalkan harus share ke media sosial menggunakan SD tertentu atau signature text

Artikel juara 3 itu ada di sini.  Selain itul tulisan harus sesuai tema. Walaupun tulisan kita panjang atau bagus tapi kalau tidak sesuai dengan ketentuan atau tidak sesuai dengan tema maka karya kita tidak bakal juara. Paham ya?


 Pengumuman juara 3 lomba blog Kominfo DIY

Setelah itu saya tidak bosan untuk menyebarkannya lewat media sosial bukan hanya untuk memenangkan lomba tetapi agar banyak orang yang yang mendapatkan inspirasi dari pengalaman saya. Walaupun pengalaman seperti itu sudah banyak dialami. 

Karena itu jangan bosan untuk mendokumentasikan pengalaman. Kita harus jeli menangkap pengalaman atau potret sekecil-kecilnya. Siapa tahu akan dipakai saat ada lomba. Demikian cerita dibalik layar cerita tentang yang memenangkan lomba menulis blog yang diadakan oleh kominfo DIY. 

2 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Seru sekali lombanya seseru menjadi juara 3 lomba blog. Semoga kesuksesan terus berpihak kepada Bapak. Terus berbagi kebaikan untuk kebaikan bersama. Selamat ya, Pak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Bu. Hehe..meramaikan 17-an. Jarang-jarang bisa begini jadi dimanfaatkan betul. Terima kasih sudah berkunjung, Bu

      Delete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post