Hari ini keluarga kami mengikuti kegiatan di sekolah si sulung. Acaranya bertajuk rapat kerja keluarga. Di dalamnya dilakukan diskusi tentang menentukan visi dan misi keluarga. Mungkin Anda sedikit heran kenapa yang sekolah si anak tapi orang tua harus menyusun visi misi. Mungkin Anda juga berpikir, "Sekolah apa itu? Perasaan di sekolah anak saya nggak ada gitu-gitunya?"

Sekolah saya pun dulu nggak ada kegiatan seperti ini. Tapi, sekolah anak saya beda. Si sulung, Mas Jundi sekolah di sekolah alam. Namanya sekolah ilalang.

Di sekolah ini kegiatannya nggak sama dengan sekolah lain. Sekolah ini bukan sekolah formal. Maka, dengan leluasa sekolah menyusun berbagai kegiatan. Salah satunya kegiatan seperti hari ini. Pimpinan sekolah ilalang, Pak Apri menyampaikan bahwa keluarga harus didesain dengan sebaik-baiknya. Jangan mengalir begitu saja. 


 Ditekankan, seorang ayah Ayah harus punya misi. Karakter apa yang harus dimiliki seorang ayah?

"Yang paling harus punya misi itu adalah Ayah. Keluarga akan ngikut. Rasulullah itu punya misi. Istrinya, Siti Khadijah mendukung penuh."

Dalam menyusun misi, hendaknya misi itu punya dampak. Punya dampak bagi lingkungan dan masyarakat.

Bukan saya saja yang hadir di kegiatan ini. Ada sekitar 16 keluarga. Masing-masing keluarga membawa anak-anaknya. Ada yang 2 atau 4 anak. Jadi tempatnya memang ramai.

Menyimak berbagai misi keluarga, saya trenyuh. Misalnya begini. Ada 3 keluarga yang punya anak spesial atau ABK. Curhatan mereka tentang sikap lingkungan, pindah sekolah, lambat bicara dan lainnya. Ada yang anaknya umur 4,5 tahun baru bisa satu dua kata.

Membuat saya terharu. Juga terenyuh. Bahwa mereka adalah orang tua luar biasa. Nampak sekali ketegaran mereka. Saat bercerita lepas saja. Ah, atau mungkin kita tidak tahu saja bagaimana perasaan dan perjuangan mereka sebelum ini.

Mereka bertekad membagi semangat dan pengalaman mereka mendidik dan membesarkan anak spesial mereka.

Keluarga itu dikasih nama, lho. Ada the green family, keluarga Bintan, pendaki, HORE, dan lainnya. Ada juga namanya keluarga gepeng. Artinya generasi pengusaha. Hehe... Ada-ada aja. 


 Saya lihat, kecenderungan hobi atau skill anak sesuai orang tua. Bapaknya ngoprek, anaknya ngoprek. Ayahnya literasi, anaknya literasi. Ibunya jualan, anaknya jualan., anaknya ngoprek. Bapaknya nulis, anaknya nulis. Ibunya jualan, anaknya jualan.

Salut dengan yang disampaikan keluarga-keluarga hebat tadi. Ada yang punya target mengunjungi daerah-daerah di pulau Jawa. Ada yang mau membikin peternakan. Ada yang rencanakan satu kecepatan satu percetakan. Wah, keren-keren.

Yang perlu dicatat, dalam membuat raker, nggak ada salah benar. Fasilitator sudah mengarahkan. Ada panduannya. Tapi kalau tidak sesuai juga tidak apa-apa.

Idealnya orang tua lengkap hadir. Agar ada kekompakan. Agar semuanya tahu dengan apa yang dirakerkan. Saya membatin, kalau ini komitmen dilakukan, hasilnya luar biasa. Bakal menjadi keluarga yang luar biasa.


 Makan-makan setelah raker selesai

Sekolah ilalang ini sekolah berbasis minat atau fitrah. Banyak orang tua mengaku anaknya berubah setelah di sekolah ini. Anaknya menjadi lebih ceria, bahagia, mandiri, dan mau berbagi. ceria, bahagia, mandiri, dan mau berbagi.

Tulisan singkat saya tak bisa menuliskan lengkap pertemuan tadi. Saya pun merekam beberapa kegiatannya. Itu pun sangat sedikit. Tak bisa juga menggambarkan keseluruhan kegiatan tadi.

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post