Seandainya sekolah dianggap sebagai sebuah agen wisata, guru sebagai pemandu wi sata, dan murid belajar sebagai berwisata, sejum lah hakikat luhur pendi dikan akan muncul dengan sendirinya.



Saat pertama pelanggan mengunjungi sebuah agen wisata, pe langgan akan dilayani oleh pe tugas di sana dan mendiskusikan beberapa pilihan program wisata Pelanggan memperoleh jasa la- yanan konsultasi dalam memilih program wisata yang paling se- suai dengan harapan dan karak teristik dirinya.


Jika dianalogikan dengan sis tem persekolahan, pada awal se- mester murid berinteraksi de- ngan guru wali guna mendis- kusikan apa saja yang mau di- pelajari murid dan bagaimana rencana mempelajarinya. Dija- barkan dan disepakati bersama rencana belajar untuk semester itu cara belajar yang direnca- nakan dan sumber ajar yang akan digunakan.


Sistem agen wisata



Seperti tak mungkin memaksakan satu program yang sama persis bagi tiap wisatawan, de mikian pula tak mungkin me maksakan satu program belajar yang sama bagi tiap murid. Tiap murid perlu memiliki kesem patan, dalam batasan tertentu, memodifikasi program belajar- sesuai minat dan keunikan di rinya. Taraf modifikasi program. belajar ini tentu bergantung ke luwesan masing-masing sekolah.


Masukan dalam sistem agent wisata berupa berbagai program wisata dan keluarannya ialah jasa layanan konsultasi serta peman duan wisata Analoginya, dalam sistem persekolahan, masukan nya ialah kurikulum yang dita nya warkan, sedangkan keluarannya ialah jasa konsultasi serta pe manduan belajar. Implikasinya, makna "masukan yang baik bagi sistem sekolah ialah kurikulum serta semua fasilitas yang dita warkan sekolah memang relevan dengan harapan murid dan cara belajar-mengajar sesuai dengan

karakteristik murid serta zamannya. Perlu digarisbawahi, salah ka prah memodelkan institusi pen- didikan sebagai sistem dengan calon murid sebagai masukan, dan lulusan sebagai keluaran, akan memunculkan kontradiksi terhadap keluhuran pendidikan.


 Anggapan sekolah sebagai pabrik ini mengakibatkan "masukan yang baik diartikan sebagai se- kolah memilih "bahan mentah" calon murid yang baik saja. 


Anggapan keliru ini mungkin yang membenarkan tindakan sekolah umum menerima calon murid ideal dan mengesampingkan mu- rid yang di luar standar.


Beberapa sekolah dasar men- syaratkan calon murid dari tam- an kanak-kanak yang sudah ca- kap membaca-menulis dan eng- gan menerima calon murid yang belum mampu, apalagi yang ber- kemampuan berbeda. Jika salah! kaprah ini diteruskan, anak peng- idap autisme dan berkebutuhan khusus lainnya akan dianggap "bahan mentah" tak ideal.


Sementara sekolah sebagai pabrik menganggap lulusan se- bagai keluaran, pada sekolah se- bagai agen wisata, keluarannya berbentuk layanan. Dampaknya, keluaran sekolah yang bermutu diartikan sebagai layanan kon- sultasi, fasilitas perpustakaan, ke- bersihan lingkungan sekolah, dan seterusnya, yang terjamin dan. andal. Ini amat berbeda dengan salah kaprah sekolah sebagai pabrik, yang mana keluarannya ialah lulusan yang harus dicetak dengan seragam.


Sekolah perlu senantiasa me- nyediakan dukungan dan pelu ang bagd tiap pelajar agar dapat sooptimal mungkin mengem- barikan diri sesuai keunikannya. Hasrat menyeragamkan lulusan merupakan virus yang meng ganggu hakikat luhur pendidikan Institusi pendidikan perlu berka wan dengan keanekaragaman ketimbang keseragaman.


Memandu wisata


Setelah menetapkan pilihar program wisatanya, wisatawar melakukan perjalanan wisata ke daerah tertentu dengan didam pingi pemandu. Analoginya, mu rid berwisata ke "alam ilmu pe ngetahuan" dengan guru yang mendampingi.


Selanjutnya, dalam berwisata, setiap wisatawan merasakan sen diri keindahan dan petualang annya dibumbui kesulitan sesuai kemampuannya analoginya, murid sendiri juga perlu meng alami, merasakan, dan menik mati keindahan ilmu pengeta huan lengkap dengan merasakan kesulitan belajar sebagai bumbu pengalamannya.


Sebagai ilustrasi dalam pem belajaran Matematika SD, mi salnya, murid diajak berwisata menjelajah ke alam gagasan bi langan nol dengan netra nalar. Dalam memandu, guru sesekali memprovokasi murid dengan mengajukan pertanyaan penting, seperti bagaimana kehidupan ini jika tidak ada bilangan nol. 


Bagaimana bentuk buku tabungan hari ini, jika tak ada bilangan nol? Bagaimana mengalikan dua bilangan dalam bentuk angka Romawi, misalnya XXXVII x XVI? Murid akan terlibat aktif berpikir dan tentunya menghargai dah syatnya peran bilangan nol. Ke giatan seperti ini membuat kelas menjadi komunitas pemikir sekaligus penjelajah peradaban manusia yang akan mencecap ke radikalan Matematika dan ilmu

pengetahuan.


 Pengalaman murid menjelajah

alam gagasan dan merasakan sendiri agungnya semesta ilmu pengetahuan ini akan membang kitkan kasmaran belajar. Dari si tu, murid akan mengembangkan kebijaksanaan sekaligus mem perhalus karakternya sendiri se bagai manusia bersahaja yang haus belajar.


Pengalaman bermakna seperti ini yang mungkin hanya sesekali akan menjadi satu catatan pen ting dalam sejarah perkembang an intelektualitas murid. Peng alaman merasakan awe atau ketakjuban pada kegiatan bernalar ini akan menjadi bibit belajar sepanjang hayat, sekaligus me ningkatkan kepercayaan diri.


Selanjutnya, pemandu wisata tak pernah berkata ke wisatawan, "Jalan ke danau itu susah, biar saya saja yang melihat danaunya, nanti saya potretkan dan ceri takan indahnya ke Anda sekalian." Namun, menyedihkannya, praktik ini justru kerap diterapkan di kelas, yakni pengetahuan dan gagasan dikunyahkan, dirangkumkan, lalu dipotret men jadi ringkasan atau rumus cepat dan murid cukup mengingatnya.


 Gagasan seperti bilangan nol tadi, boleh jadi hari ini diceramahkan ke pelajar hanya dalam tempo tak lebih dari satu menit. Kedah syatan Matematika sebagai karya peradaban manusia menjadi se a butir debu dalam pengajaran yang mendewakan prosedur.


Gambaran wisata yang melibatkan petualangan seperti naik sampan, memanjat tebing, me masuki gua, dan lainnya, tentu menyulitkan, tetapi mengasyik kan. Kesulitan dan pengalaman menjalani kesulitan tadi mem buat penasaran dan ingin berwi sata lagi. Ini mengingatkan bah wa guru tak dapat menjanjikan belajar sebagai kegiatan yang  mudah, tetapi guru harus me yakinkan bahwa belajar itu senantiasa mengasyikkan.

Sebagai catatan akhir, semua analogi tentu saja tak pernah tepat mutlak, termasuk analogi sekolah sebagai agen wisata ini. Namun, setidaknya analogi ini  mengingatkan kembali hakikat luhur pendidikan. 


IWAN PRANOTO Guru Besar ITB dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI New Delhi, India (Dimuat di Kompas, 20 Mei 2016)


Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post