Jundi, Firaz, dan Adit bermain layangan. Saat itu angin berembus kencang. Saat  yang tepat untuk bermain layang-layang.

Jundi menarik layangan. Adit yang membentangkan.  Firaz melihat saja.

"Lepas, Dit. Lepasin" seru Jundi.
"Tunggu sebentar, ini pabelit,"
"Apa?"
"Pabelit ini. Nggak bisa ditarik,"

Saat itu terjadi salah paham. Jundi yang bapaknya bersuku Jawa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Adit. Ayah Adit bersuku Sunda.

"Pabelit itu apa?"


Adit tak menjawab. Dia sibuk mengurai benang yang ruwet. Tapi tidak lama. Sebentar saja dia sudah selesai dengan kesibukannya.

Mereka bermain lagi. Menarik layangan lagi, membentang layangan lagi. Angin tak cukup kuat menerbangkan layang-layang.

Mereka pun tidak terlalu bisa menerbangkan layang-layang. Hanya berlarian sedari tadi. Keringat membasahi kaus tak dihiraukan. Seru sekali bermain layang-layang. Firaz pun ikut lari-lari. Meskipun dia tidak dapat mendapatkan kesempatan menerbangkan layang-layang, dia senang saja ikut berlarian.

Mereka bermain di komplek perumahan. Ayah Jundi sudah diingatkan agar berhati-hati karena ada kabel-kabel listrik. Untungnya, benang layangan tidak terlalu panjang. Jadi tidak menabrak kabel listrik. Itu pula yang membuat layang-layang tidak terbang tinggi.

Setelah lama bermain layang-layang, mereka kelelahan dan haus.

"Pulang dulu, yuk. Minum ke rumahku aja ya," ajak Adit.

"Moh, aku ke rumahku aja," jawab Jundi.

"Apa, Jun?"

"Di rumahku aja. Lebih dekat,"

"Tadi kamu bilang apa?"

"Emoh maksud kamu?"

"Iya. Emoh itu apa?"

"Emoh itu nggak mau, Adit."

"Oh, baru tahu aku. Aku pulang dulu ya,"

Sesampainya di rumah, Jundi segera menuju dapur untuk mengambil air minum. Firaz adiknya menyusul di belakang.

Setibanya di rumah Jundi lihat ayahnya sedang membereskan buku-buku. Kelihatannya sedang mencari sebuah buku.

"Ayah, tadi Jundi bilang emoh, Adit nggak tahu artinya," cerita Jundi.

"O ya?"

"Iya, Ayah. Dia bingung. Terus dikasih tahu deh artinya."

"Jundi tahu kan artinya emoh?"

"Ya tahu dong. Tapi Jundi nggak tau apa itu pabelit,"

"Siapa yang bilang pabelit?"

"Si Adit,"

"Wah, sama-sama nggak tau dong tadi,"

"Iya, Ayah. Jadinya gantian nggak tahu,"

"Ya nggak papa. Sekarang kan jadi tahu ya,"

"Iya, Ayah. Mau minum dulu ya,"

Jundi segera ke dapur mengambil gelas. Lalu mengisinya dengan air minum. Tidak berapa lama, dia kembali ke depan rumah dan bersiap bermain lagi.

Di teras Jundi berpapasan dengan ayahnya.

"Emoh itu bahasa apa, Yah?" 

"Bahasa Jawa," jawab Ayah singkat.

"Bahasa itu ada banyak? Ada berapa, Yah?" tanya Jundi.

"Hm, berapa ya? Banyak banget. Di negara kita itu punya banyak bahasa daerah. Bahasa Jawa itu termasuk bahasa daerah. Mungkin ada ratusan bahasa daerah di Indonesia," terang Ayah.

"Banyak juga, Yah. Apa aja?" kejar Jundi.

"Bahasa Jawa, Sunda, Minang, Batak, Bugis, Lampung, Melayu, dan lainnya. Ayah nggak tahu semuanya. Karena banyak sekali itu," jelas Ayah.

"Apa kita harus belajar semua bahasa daerah itu Yah?"

"Nggak. Nggak harus. Kalau mau ngomong sama orang dari daerah lain kita bisa pakai bahasa Indonesia. Kita ini lagi ngomong pakai bahasa Indonesia.. "

"Jun.. Jundi... Main yuk," terdengar suara Adit dari arah pagar.

"Ayok. Ayah, Jundi mau main lagi ya,"

"Iya, jangan lupa adik dijaga. Diajak main juga,"

"Iya Ayah. Yuk, Dik. Kita main lagi," Jundi lalu mengggandeng tangan adiknya. Mereka pergi bermain lagi. Kali ini bermain mobil-mobilan di depan pagar rumah.

 

 

 


#30daysreadingastorywithyourkids

#onedayonestory

13 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Enak bacanya, mengalir ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak, Bu. terima kasih sudah berkunjung

      Delete
  2. Senangnya menambah pembendaharaan kata

    ReplyDelete
  3. Wah keren juga menulis cerita anak. Edukatif, mengenalkan bahasa2 di negara kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak Bu. Meskipun, singkat banget ya. Hehe

      Delete
  4. Mengenal berbagai bahasa daerah.
    Belajar bahasa daerah...susahkah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan mudah sih Bu. Karena ada sedikit sama juga sih antar bahasanya.

      Delete
  5. Keragaman bahasa menjadi tema yang enak dinikmati dalam cerita.

    ReplyDelete
  6. Ha ha ha ... teringat awal-awal bekerja di rantau, bahkan "dijerumuskan" mengcapkan kata bernada "carut", tabu , saru,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar bahasa biasanya yang jelek-jelek dulu ya Pak D. Lebih nyantol. Hehe...

      Delete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post