Ada siswa yang telat datang ke sekolah. Padahal saat ini ujian. Biasanya, saat ujian, harus lebih disiplin daripada hari biasanya. Eh, tapi siswa ini tetap saja telat.

Saya pun menjalankan prosedur kedatangan.

"Kenapa telat?"
"Saya harus mengantar adik. Adik yang susah berangkat, Pak."

Sebagai guru, tugas saya percaya. Itu paling awal yang harus dilakukan. Oke, saya percaya. Tapi nggak cuma sampai di situ. Saya harus berikan sesuatu kepadanya.

"Ok, bapak percaya. Bapak harap besok tidak telat ya. Bisa?"

"Insya Allah bisa, Pak," tegasnya.

"Bisa kan kamu ajak adik kamu gimana caranya biar nggak telat. Misal kamu bilang ke adik, Dek berangkat cepet yuk, biar nggak telat,"

"Bisa, Pak. Saya coba ya,"

Oke. Silakan kamu ke ruang  panitia dan bilang kamu terlambat.. minta izin untuk masuk kelas ya.

"Iya Pak. Terima kasih."

"Sama-sama."

Menangani Kesalahan Anak

Saat jadi guru, kita pasti akan bertemu dengan siswa yang melakukan kesalahan atau melanggar tata tertib.

Seorang guru harus bisa mengetahui alasan siswa melanggar. Bisa jadi alasannya benar. Mungkin siswa tidak berniat melanggar. Tapi karena sesuatu hal,  membuat dia terpaksa melanggar.

Misalnya dia sudah berangkat pagi. Sesampai di jalan ada macet akibat pohon tumbang karena hujan semalaman.

Saat musim hujan tiba, hujan deras mengguyur yang mengakibatkan banjir. Akses jalan tak bisa dilewati. Macet di sana-sini. Siswa sudah mencoba berangkat lebih pagi. Namun, sesampainya di jalan itu, dia dan pengguna jalan lainnya terpaksa antre.

Seorang anak yang tinggal bersama ibunya. Ibunya single parent.  Setiap pagi ibunya harus ke pasar membeli sayuran untuk dijual lagi di warungnya. Saat sang ibu belanja, dia harus jaga warung. Biasanya sang ibu tidak telat. Tapi pagi itu dia telat. Hal ini berakibat anaknya telat juga.

Nah, kalau ketemu kondisi di atas, apa kita tidak mau memberikan permakluman? Apa dia harus tetap dihukum? Apa dia tidak boleh mendapatkan keringanan hukuman? Tidak boleh masuk atau tidak boleh ikut ujian?

Guru tidak bisa menyamaratakan hukuman kepada seluruh siswa. Bahkan, guru juga harus paham bahwa hukuman bukanlah untuk menyakiti atau membuat jera siswa tapi untuk memberikan pendidikan kepadanya. Wahai guru, bukankah semua yang kita lakukan pada siswa merupakan bagian dari edukasi? Maka perlakuan siswa juga dengan hati.

Tipe-tipe guru dalam menghukum siswa.

A. Guru Killer
Dia tanpa ampun dalam menerima alasan siswa. Asal melanggar, dihukum. Tak penting baginya alasan siswa ditolerir atau tidak. Bahkan, baginya, semakin keras hukuman ke siswa, semakin bagus karena akan membuat siswa jera. 

B.  Guru masa bodoh
Dia tidak peduli dengan edukasi. Mengambil jalan pintas dengan membebaskan siswa dari konsekuensi pelanggaran. Maunya cepat. Daripada banyak menghabiskan waktu, lebih baik ampuni atau bebaskan saja. 

C. Guru humanis
Ada siswa terlambat,harus bereaksi.  Menanyakan kenapa siswa terlambat,baru memberikan respon. Tidak serta merta menghukum tapi harus tahu alasan siswa. 
Tidak harus menghukum juga. Namun ada konsekuensi dari apa yang dilakukan siswa. 
 
Kalau Anda seorang guru, Anda termasuk guru yang mana? Bisa jadi kita pernah mengalami sebagai guru A atau B. Tidak mengapa. Mungkin saat itu kita belum paham makna sebagai guru.

Kalau saat itu kita salah, masih ada waktu untuk memperbaiki. Betul?
 
Terdapat dua tujuan memberikan hukuman yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendeknya adalah untuk mengentikan perbuatan yang salah. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk menddik atau mendorong siswa mengentikan sendiri tingkah laku mereka yang salah itu agar mereka dapat mengarahkan dirinya sendiri ( Dr. Charles Schaefer, 1994 : 93). Hukuman sifatnya untuk mendidik dan mengendalikan siswa.

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post