Sudah lama tak baca buku. Tepatnya baca buku sampai selesai. Kalau baca 1 hingga 5 halaman sih rutin tiap bulan. 


Tapi baca yang sampai selesai, tahun 2020 ini nihil. Bahkan 2021 juga tidak ada, sampai dengan bulan ini. 


Setelah sekian lama, Oktober ini saya baca buku sampai habis. Itu pun buku fiksi. Novel tentang perundungan. 


Judulnya Lika-Liku Luka. Dua orang yang menyimpan luka akibat lisan dan jempol orang. Novel ini menjadi satu karya yang menyumbang penyadaran bahaya perundungan. 


Kritik, cela, hina hampir selalu ada di dunia ini. Kadang dibalut dengan guyonan. Namun, banyak juga yang sepenuh hati melalukannya karena benci. 


Tidak semua orang yang bisa menganggap itu biasa. Meskipun benar adanya. Misal seseorang yang dianggap kelebihan berat badan. Kalau dia dipanggil gemuk, ya karena itu benar adanya. 


Namun, banyak orang yang tidak siap menerima panggilan itu. Walaupun dia merasa badannya memang gemuk. 


Tidak setiap orang yang bisa abai dengan kritik atau candaan. Ada yang menanggapinya serius, memendamnya dalam hati, dan menjadi trauma. 


Sesuai judulnya, novel ini memang penuh luka tentang luka. Luka karena pasangannya, rekan kerjanya, hingga keluarganya. Banyak pelajaran di dalamnya. 


Membaca buku memang punya keasyikan tersendiri. Meskipun banyak film atau video yang lebih lengkap dengan audio dan visual, buku punya caranya sendiri dalam menyampaikan hikmah. Kenikmatan membaca buku ini tidak bisa digantikan dengan video atau film. Pun sebaliknya. Jadi masing-masing media punya pasarnya sendiri. 


Oh iya. Saran saya kalau pengen bisa baca buku, pengen betah baca buku, baca dulu buku yang ringan-ringan. Seperti novel ini. 


Novel ini penuh konflik. Melati dan Michael sama-sama punya luka. Keduanya teman sewaktu kecil. Saat remaja, keduanya berpisah. Melati yang berasal dari keluarga miskin tak punya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang gemilang. Meskipun, dia adalah anak yang pintar. 

Sementara, Michael yang anak direktur TV, punya priviledge tentang pendidikan, pekerjaan, bahkan kisah asmara. Namun, saat sudah mantap akan menikah, Endah, calon istrinya meninggal. Michael dituduh membunuh Endah. 

Tuduhan yang dilancarkan keluarga dan fans Endah, bukan saja membuah Michael tertekan dan istirahat dari pekerjaannya. Bahkan membuat Michael harus menjalani terapi akibat tertekan. Michael pun harus ditemani pengasuh agar ada yang menjaganya. 

Setelah berganti tiga pengasuh, tanpa sengaja, Melati lah yang menjadi pengasuh Michael. Seperti dulu, keduanya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Michael mendapat jasa dari Melati, Melati mendapatkan upah dari jasa mengasuh. 

Lalu, apa yang berbeda dari hubungan mereka kali ini? Bisakah keduanya saling menyembuhkan? Atau malah saling membuat terluka?

Buku karangan Seplia ini sukses membuat penasaran. Saya membacanya dalam dua hari. Penasaran untuk menyelesaikan. Novel ini sedap betul dibaca sambil ngopi atau ngemil. Nggak percaya? Buktikan saja sendiri. 


2 Comments

Kata Pengunjung:

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post