Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sembuh Dan Bangkit Dari Covid-19 Dengan Bergotong Royong

Saat terkena Covid-19 bulan Juni 2021 lalu, yang paling saya inginkan hanya sembuh. Di saat itu saya merasa dalam kondisi yang paling dekat dengan Tuhan. Saya pernah sakit demam berdarah atau tipus. Saat itu saya merasa masih ada harapan untuk sembuh. Tapi saat kena Covid-19, saya cemas, bisa sembuh apa tidak. Setiap hari mengecek Oksimeter, memastikan agar kadar saturasi oksigennya tetap tinggi. 



 Melakukan pengecekan kadar oksigen dalam darah (dok. pribadi)

Banyak yang bilang kunci kesembuhan adalah berpikir positif. Usahakan pikiran selalu bahagia. Saya memaksakan agar terus berpikir positif, terus berpikir bisa sembuh. Sebenarnya beberapa kali kekhawatiran dan pikiran negatif (mati) datang. Namun, setiap kali datang pikiran negatif itu, setiap kali pula saya selalu memaksakan berpikir positif pula.

Kasus saya cukup unik. Sejak 2020 lalu saya sering bolak-balik ke Jakarta, sering naik kereta api, dan sering bepergian. Namun, saya tidak terkena Covid-19.

Saya kena Covid-19 di Juni 2021 saat kasus Covid-19 di daerah saya menurun. Bahkan, saya sudah melakukan vaksinasi sebanyak 2 kali. Eh, malah kena Covid-19. Ini jadi pelajaran bahwa, meskipun sudah divaksin, belum tentu bebas dari Covid-19. Namun, dengan vaksinasi, dampaknya lebih ringan.


Awalnya  demam tiga hari, namun penciuman masih ada. Sehingga saya anggap demam biasanya. Keluarga tidak tertular demam. Di hari keempat, istri saya mengalami anosmia atau kehilangan penciuman, tanpa demam. 

Jadi gejala saya dan istri berbeda. 

Saat itu, kami langsung cemas. Di sini kami merantau. Tidak ada orangtua atau saudara dekat. Kami di Banten, sementara orang tua di Jambi. Kalau dirawat di rumah sakit, anak-anak sama siapa? 

Saat itu rumah sakit kewalahan menerima pasien Covid-19. Bahkan banyak yang ditempatkan di tenda sementara karena ruangan penuh.

Akhirnya pilihan kami adalah kalau isoman dengan sangat hati-hati karena ada anak-anak. Anak sulung berusia 5 tahun, yang bungsu 3 tahun.  


Memberi Tahu Anak

“Mas Jundi dan Adek Firaz jangan dekat-dekat Ayah dan Bunda, karena sedang sakit. Doakan segera sembuh. Mas dan Adek juga harus pakai masker ya kalau di rumah.”

Mereka bilang iya saja. Entah paham atau tidak. 

Di hari kelima demam sudah hilang. Lemas juga hilang. Saya lebih banyak mengurus rumah dan anak-anak. Mulai dari masak, mandi, makan, atau main. Untungnya saya bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan istri. Jadi, walaupun laki-laki, harus bisa juga melakukan pekerjaan perempuan.

Kondisi istri lumayan mencemaskan. Dia lemas, batuk, dan demam. Mungkin karena belum melakukan vaksinasi. Saya sudah vaksinasi karena ada kebijakan guru harus divaksinasi untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Di daerah saya belum ada vaksinasi untuk masyarakat. Makanya istri saya belum vaksinasi.


Memilih Isoman dengan Ketat dan Aman

Sebetulnya kami tidak mau mengabari tetangga kalau kena Covid-19. Khawatir merepotkan. 

Hanya satu pertimbangan kami tidak mengabari tetangga kalau sedang isoman; tidak mau merepotkan tetangga.

Di hari ketiga kami isoman, mau tidak mau, banyak yang tahu kalau kami isoman. Ada yang ngasih makanan. Anak-anak kami yang menerimanya. Tapi tidak tahu namanya.

Akhirnya kami mau ngucapkan terima kasih lewat status WhatsApp.

“Nanti tetangga tahu kalau kita sedang isoman, Dek?”

“Tapi bagusnya ngabari kalau sedang isoman. Juga kasih tahu Pak RT. Biar mereka juga jaga-jaga. Atau untuk pendataan."

“Betul juga. Biar mereka tahu kalau nggak keluar rumah karena sedang isoman,”

Akhirnya kami berterima kasih lewat status WhatsApp. 

Saya juga mengirim pesan ke Pak Ridwan, ketua RT. Beliau menganjurkan agar langsung isoman saja. Mendoakan agar cepat sembuh.

Saya mengabari kepala sekolah kalau kena Covid-19. Sama seperti Pak RT, kepala sekolah menganjurkan isoman saja. 

Tidak berapa lama dari pasang status WhatsApp, banyak yang mengirimkan pesan. Banyak yang menyemangati agar tetap semangat menjalani isoman. Di grup guru pun banyak yang mendoakan.

Pak Lilo yang sudah pernah mengalami Covid-19 ngasih saran.

"Saya dulu juga banyak nonton film," katanya.

“Anggap aja ngasih istirahat buat badan.”

“Usahakan tetap makan.  Sedikit tapi rutin."

Wah, benar-benar senang dan semanga kalau dikasih perhatian. 

 



Rutin berjemur saat isoman (dok. pribadi)

Ibu menelpon. Bertanya kabar dan memberikan nasihat.

"Kesehatan itu titipan Tuhan. Saat ini kamu sedang diuji Tuhan. Kalau nak-anak gimana?” 

“Itu mereka lagi asyik main, Eyang. Mudah-mudahan nggak kena juga walaupun satu rumah ini.”

Ibu mengaminkan. Berbagai nasihat disampaikan ibu. Tujuannya menghibur kami agar terbayang hal yang baik-baik saja. 

Kepedulian dan Gotong Royong
Cepat Menyembuhkan dan Menghadapi Covid-19

 

Tuhan telah menggerakkan Tangan-Nya. Setelah banyak yang tahu kalau kami sedang isoman, banyak yang ngasih bantuan. Saudara, teman, dan tetangga yang silih berganti mengirimkan makanan.

 

Berbagai makanan yang dikirim tetangga (dok. pribadi)

Ada yang berkirim bakso, martabak, telur, sop, dan nasi berikut lauk pauknya. Ada  yang berkirim buah, minuman herbal, madu, dan obat-obatan.  Saya makin sehat karena makin banyak makan. Ada yang mengirimkan bahan makanan mentah. Selama 5 hari selanjutnya saya tidak masak karena sudah cukup dari kiriman tadi.

 

Syukurlah, di hari keempat penciuman saya berangsur muncul. Hanya tinggal lemes dan pusing ringan saja. Nantinya hilang total setelah 14 hari. Yang paling lama itu istri saya. Penciumannya muncul sesudah 5 hari. Batuk berat sampai delapan hari. Kalau sedang batuk sampai seperti kehabisan tenaga.


Sudah Vaksin, Tapi Tetap Kena Covid-19
Bagaimana Menyikapinya? 

 


Selesai vaksin tahap 2 (dok pribadi)

Oh iya, saya mengingatkan bahwa, setelah vaksin, kita belum tentu bebas dari virus. Seperti yang saya alami ini. Saya sudah 2 kali vaksin. Sudah dapat sertifikatnya. Tapi masih kena juga. Tentu ini takdir Tuhan yang mengizinkan Korona datang ke tubuh saya.

Istri saya belum vaksin. Beliau dosen. Belum ada jatah vaksi buat dosen. Sebenarnya waktu itu ada vaksi massal dari di polres bertepatan dengan HUT Bhayangkara. Tapi keburu kena.

Mungkin ini juga yang membuat istri saya lebih rentan saat kena Covid-19. Lebih lama dan gejalanya lebih banyak. Padahal dia sering di rumah dibanding saya. 

Kami juga beli oksimeter. Jaga-jaga kalau kadar oksigen sangat kurang. Alhamdulillah, oksimeter menunjukkan angka 93. Artinya kadar oksigen masih bagus. Jadi tidak perlu ke rumah sakit untuk isolasi.

 

Saat sakit saya melihat hebatnya gotong royong

Banyaknya antaran ke rumah, menandakan kepedulian teman-teman. Satu pekan saya nggak masak. Bahkan makanan berlebih. Buah-buahan banyak.

Ibu saya pesan. "Kalau ada yang nganterin makanan diterima. Pertanda mereka peduli Kalau ada teman yang sakit, gantian ngasih bantuan."

Terharu betul.

Kami sudah merasakan betul dampak positif dukungan dari saudara, teman, dan tetangga. Karena itu, saya harus bisa membalasnya. Setelah kami sembuh, kalau ada teman yang positif, kami berusaha membantu.

Kami mengirimkan British Propolis sebagai penguat imun, martabak, madu, dan lainnya. Ada beberapa yang kami kirimkan obat herbal. Kami mengirimkannya lewat ojek online. Karena kami sendiri masih isoman.

Ojek online besar jasanya. Sebagai ungkapan terima kasih, saya memberikan ongkos lebih. Bahkan kalau ada yang mengirimkan makanan, kami berikan pula ongkos tambahan untuk ojeknya. 

Pengurus RT sering mengadakan penyemprotan desinfektan. Kadang satu pekan sekali. Juga ada pengumpulan dana untuk membantu warga yang isoman.

Warga saling memberikan informasi vaksinasi. Grup WhatsApp perumahan sering meng-update informasi vaksinasi. 

Begitulah hebatnya kekuatan gotong royong. Gotong royong memberikan dampak positif bagi penyintas Covid-19. Dia akan merasa diperhatikan, menjadi semangat, dan bahagia

Itulah manfaat dari guyub rukun. Menyelesaikan beragam masalah yang terjadi di masyarakat. Pandemi akibat Covid-19 memang berat. Tapi, dengan bergotong royong, akan lebih ringan kita hadapi.


Sebagai 'balas budi' saya juga ikut berbagai kegiatan sosial dalam membantu masyarakat terdampak. 

1. Berbagi Makan siang Di Rumah Sakit


Berbagi makanan di rumah sakit (dok. pribadi)

Saya bersama teman berbagi makan siang ke rumah sakit. Paket ini diberikan kepada keluarga pasien. Kami pergi ke ruang inap. Kami membagikan sebanyak 42 nasi kotak.

Kegiatan ini cukup menantang karena tempatnya di rumah sakit. Kalau tidak tahan dengan bau khas rumah sakit, kita bisa pusing.


2. Bingkisan Untuk Guru

Untuk membantu meringankan kesulitan guru, koperasi sekolah memberikan kepada 173 orang guru. Kebetulan saya sebagai ketua koperasinya. Koperasi serba usaha (KSU) Al Qudwah, bergerak di bidang usaha dan pembiayaan. Bingkisan berisi berupa bahan pokok seperti gula, minyak goreng, daging ayam, dan sirup. Semoga bingkisan itu memberikan kebahagiaan untuk guru.


Memberikan bingkisan untuk guru (dok. pribadi)

3. Membuka Gerai Berbagi Pangan



           Stand berbagi pangan (dok. pribadi)

Sekolah kami membuka gerai pangan. Guru dipersilakan meletakkan bahan makanan yang sesuai kemampuannya. Pada umumnya sembako. Lalu guru yang membutuhkan bisa mengambil secukupnya.

Tidak jarang ada masyarakat yang juga ikut. Memanfaatkan media sosial kami menawarkan kegiatan ini. Responnya bagus. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Jumat. Hingga saat ini sudah berjalan sepuluh bulan. 


Saat ini kita memang tengah dihadapkan pada pandemi yang memberikan dampak yang luar biasa. Sekolah harus daring, temat/kegiatan wisata sepi, usaha/perekonomian lesu, kesehatan terganggu, dan lainnya.

Namun kita yakin bahwa dengan bergotong royong dampak-dampak itu bisa dikurangi atau diatasi. Semua kita harus terlibat untuk bangkit dari pandemi. Pemerintah maupun swasta harus peduli.

Setiap individu pun saling bantu. Jangan ada yang tidak peduli dengan pandemi. Mudah-mudahan dengan kepedulian bersama, pandemi segera sirna.   
   



Vaksinasi Polres Lebak (Dok Pribadi)

#BlogUnparGotongRoyong




12 comments for "Sembuh Dan Bangkit Dari Covid-19 Dengan Bergotong Royong"

  1. Replies
    1. Benar, Emak. Kerja atau beban yang berat pun jadi ringan ya dengan bergotong royong..

      Delete
  2. manisnya kebersamaan
    sehat-sehat terus ya Pak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Bu. Kalau bersama-sama, kita mudah menghadapi sesuatu.

      Delete
  3. Benar banget, jadi inget pas kasus lagi naik, setiap rumah di tempat tinggalku gotong royong bergantian memberikan makanan untuk yang kena covid. Bahkan, sampai dibikin tim khusus kalau ada yang butuh diantar ke rumah sakit tapi enggak dapat ambulan.

    Kalau semua gotong royong dan mau menerapkan prokes. Insya allah bakalan cepet pulih yaa keadaannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Bu. Memang kalau dikerjakan secara bersama-sama akan terasa ringan.
      Menghadapi pandemi ini harus dengan kesadaran bersama. Nggak bisa kalau nggak semuanya. Termasuk vaksin. Semuanya juga harus vaksin.

      Delete
  4. masyaallah pak guru, alhamdulillah ya bentuk rasa syukurnya juga membantu orang lain. semoga terus berkelanjutan estafet kebaikan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih banyak, Mbak. Semoga pademi lekas pergi ya. Aamiin

      Delete
  5. kesehatan itu titipan tuhan ya mas, sama dengan anak. selayaknya kita harus menjaganya sebaik mungkin, ya sama seperti kita merawat anak-anak kita. sayangnya ini sering membuat kita abai akan kesehatan. semangat gotong royong saling mengingatkan bagus nih buat kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mbak. Gak ada kan ya orang yang mau sakit. Tapi ya gimana lagi kalau sedang diuji sama sakit. Kalau begitu, sabar aja selanjutnya berusaha untuk sembuh. Terima kasih banyak sudah berkunjung.

      Delete
  6. Dihadapi bersama, hal yang berat menjadi ringan. Semoga jiwa gotong royong senantiasa terpelihara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Iya Bu. Dengan bergotong royong kita bisa lewati pandemi ini ya.

      Delete