Saya termasuk manusia jadul. Hehe…Hingga 2015 belum merasa perlu punya smartphone. Saya khawatir smartphone membawa pengaruh buruk misalnya kecanduan dengan smartphone. 

Nanti malah buang-buang waktu dengan scroll media sosial terus. Jadi handphone saya hanya cukup untuk menelpon dan kirim pesan saja. Bahkan sejak ada blackberry, saya juga belum pengen beli juga.

Tahun 2015 saya beli Xiaomi Redmi 3S. Selain takut kecanduan, saya pikir smartphone itu mahal. Saya sudah berkeluarga. Ada hal lain yang lebih penting dan mendesak dari sekadar beli smartphone.

Fitur Xiaomi 3S pun seadanya. Kameranya 13 MP dengan memori 3GB+32GB. Dulu saya merasa sudah cukup dengan Xiaomi 3S. Namun, saya akui banyak keterbatasan dengan alat tempur itu. Saya belum pengen ganti smartphone spek lebih tinggi. Namun, pandemi kemudian mengubahnya.

Bulan Maret 2020, karena pandemi, sekolah menerapkan belajar daring. Salah satu strateginya adalah membuat video pembelajaran. Dibanding memberikan video pembelajaran yang sudah jadi di akun YouTube orang, saya sering membuat video pembelajaran sendiri. 

Karena kita bisa memilih materi tertentu sesuai yang kita ajarkan kepada siswa. Kalau kalau video pembelajaran yang sudah jadi biasanya materinya terlewat. Selain itu, kalau materi pembelajaran terlalu panjang, tidak efektif untuk siswa. Pembelajaran itu nggak usah panjang-panjang. Kalau sudah lewat 10 menit siswa itu sudah tidak konsentrasi.

Sadar kalau storage terbatas, saya menghapus semua video di handphone. Foto-fotonya dikurangi. Memori handphone harus dikosongkan. Saya mulai merekam video untuk membuat video pembelajaran. 

Durasinya sekitar 15 menit. Saya mengeditnya dengan aplikasi kinemaster. Ada tiga lapisan dalam video yang saya buat.

Sedang serius mengedit, tiba-tiba kinemaster menutup dengan sendirinya. Saya heran. Kenapa ini? Saya coba buka lagi aplikasi kinemaster. Asyik mengedit, tiba-tiba menutup lagi. Kesel dan bingung. Sudah payah-payah bikin eh ada error.


 

Lalu saya searching. Ternyata, spesifikasi smartphone mempengaruhi banyak lapisan kinemaster.

Seketika saya lemas. Duh, gimana ini? Mana sudah belajar daring. Gimana membuat video pembelajaran kalau handphone nggak support begini?

Padahal belajar daring belum tahu entah sampai kapan. Kalau lama, gimana saya mengajar? 

Lalu saya ngobrol dengan istri. 

"Kalau memang butuh, ya ganti aja, Mas. Beli handphone itu kan sesuai kebutuhan," katanya. 

"Ada sih yang lumayan bagus. Teman ada yang beli xiaomi note 8. Tapi harganya Rp. 2 juta lebih. Lumayan juga, Dek."

"Iya, Mas. Lumayan juga. Lha ada tabungan nggak, Mas?"

"Nggak ada dek,"

Harga Smartphone itu setara dengan gaji bulanan. Sebagai guru honorer di sekolah swasta, gaji segitu cukup untuk kebutuhan keluarga. Lha kalau dipakai beli handphone, bagaimana saya menghidupi keluarga?

"Ya udah, gaji Mas buat beli handphone aja. Kita masih punya tabungan. Juga ada keuntungan dari usaha. Bisa pakai itu dulu buat bulanan."

Saya tak bisa berkata-kata. Kalau bukan karena kebutuhan, tidak mau saya beli handphone. Saya beli handphone bukan buat gaya-gayaan. Tapi karena terdesak dengan pekerjaan. Saya tak mau menyia-nyiakan pengorbanan istri. Lalu saya bertekad memanfaatkan sebaik mungkin smartphone untuk mendukung pekerjaan. Bahkan saya harus berprestasi.  

Membuat Video Pembelajaran Dengan Smartphone

Karena membuat hal yang baru, saya bersemangat mengerjakannya. Sayangnya, semangat saya diuji. Buat pembelajaran itu tidak mudah. Video pembelajaran yang hanya 15 menit saya memerlukan waktu 1 sampai 2 hari.

Tapi karena sering berlatih saya jadi mahir. Untuk membuat satu video pembelajaran cukup satu hingga dua jam saja. Bahkan 15 menit pun jadi.

Dilihat dari kesulitannya, ada tiga jenis video pembelajaran. 

Pertama, pembelajaran yang memakai efek dan green screen seperti punya lembaga bimbel atau belajar online. Kalau seperti ini biasanya memang satu hingga dua hari. 

Proses membuat video pembelajaran. Syuting dengan greenscreen

Kedua, dengan merekam presentasi di PowerPoint. Siapkan materi di powerpont, rekam lewat powerpoint atau aplikasi Bandy Cam, atau CTRL+G untuk merekam langsung lewat laptop. Lalu kirimkan rekamannya ke siswa.

Ketiga, video pembelajaran yang sederhana. Guru menuliskan materi di kertas atau whiteboard. Rekam dengan Smartphone. Unggah ke Youtube. Linknya diberikan ke siswa. Sekalian nambah viewers channel Youtube kita. Hehe... Jadinya sekali dayung tiga pulau terlampaui.

Sebelum pandemi, saya belum punya konten di Youtube. Hanya penonton konten orang lain saja. sekarang sudah puluhan video pembelajaran. Bisa dilihat dichannel saya. Punya smartphone yang mumpuni itu memantik kreativitas.

Pandemi Membuat Semakin Lengket dengan Gadget

Sejak pandemi akibat Covid-19, saya semakin lengket dengan gadget. Mau gimana lagi? Di bidang pendidikan, dampak pandemi mengubah sistem belajar dari pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring.

Mengelola kelas pakai WhatsApp, mengajar lewat zoom atau google meet, memberikan tugas pakai google classroom, ujian pakai google form, dan aktivitas lainnya. Kalau tidak pakai smartphone, ya pakai laptop. Selama pandemi, banyak sekali manfaat gadget.

Banyak sekali webinar di saat pandemi. Ada sosialisasi kebijakan pendidikan. Saya bisa mengikutinya dengan baik. Koneksi internet pun lancar di smartphone baru. Dalam sehari bisa ada 2 hingga 3 webinar. 

Saya sadar bahwa gadget bukan sekadar untuk gaya-gayaan. Gadget yang mumpuni sangat membantu profesi. Tugas sebagai guru semakin lancar. Lancar membuat video pembelajaran, membimbing club desain grafis, dan ikut lomba video. Meskipun belum menang, yang penting berani tampil.


So, kalau ada budgetnya, jangan nanggung beli gadget. Pertimbangkan berbagai hal sesuai kebutuhan kita. Kita juga musti jeli menyesuaikan spek dengan harganya. Carisinyal gudangnya informasi tentang gadget dan teknologi yang sangat lengkap.

Umumnya orang beli handphone punya pertimbangan seperti ini.

  • memori besar,
  • performa kenceng, 
  • kamera bagus, 
  • fast charging, dan 
  • awet dipakai.

Bagaimana dengan harga? Mahal atau murah ternyara relatif. Karena orang pada sadar ada kualitas ada harga.

Pada dasarnya memilih gadget disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau kebutuhan kita hanya untuk telepon dan berkirim SMS, tidak terlalu penting spek tinggi. Harganya pun relatif tidak mahal. Tapi kalau untuk mendukung fotografi, desain grafis, dan kerja-kerja yang membutuhkan performa kencang, pilihlah gadget dengan spek tinggi. Biasanya harganya pun mahal.

Kalau sudah jadi kebutuhan harus kita usahakan punya. Bisa cash atau kredit. Tapi, beli cash lebih tenang.


'evolusi' handphone yang saya pakai

Desain Grafis Lewat Smartphone Saja. Mudah dan Fleksibel

Saya juga hobi desain grafis. Meskipun tidak ahli benar. Sejak 2013 lalu sering mendesain di laptop pakai Coreldraw. Saya punya usaha percetakan digital meskipun tangan kedua. Cetaknya di percetakan lain. Saya hanya mendesain. Saya biasa membuat spanduk, sertifikat, banner, dan sejenisnya. Untungnya lumayan. Bisa buat beli kopi juga uang bensin. 

 

Sayang, belum didukung laptop khusus desain grafis. Laptop seakan diajak ‘kerja paksa’. Akibatnya fatal. Laptop jadi overheat. Performanya menurun.

Sekarang tak harus pakai Coreldraw. Saya pakai aplikasi sejuta umat; Canva yang bisa dipakai di smartphone saja. Malahan lebih fleksibel. Lebih mudah karena banyak templatenya. 

 Yang penting ada kuota internet. Bisa dikerjakan di mana saja. Tidak perlu cari meja atau menghidupkan laptop yang bisa membutuhkan waktu lebih lama. 

Dengan smartphone lebih maksimal menjalankan amanah saya. Di sekolah saya diamanahi Humas. Selain berkomunikasi dengan orangtua saya mengelola media sosial sekolah seperti website, instagram, facebook, dan Youtube. Saya sering merekam kegiatan sekolah pakai smartphone. Selama ini lancar jaya dan tanpa nge-lag. Mengajar semakin lancar, amanah pun sukses ditunaikan.



Selalu ada smartphone baru yang semakin canggih. Semakin menggiurkan.  Kalau tidak kuat iman, bisa pengen ganti smartphone lagi. Iya kalau ada uangnya. Kalau tidak? Masak ngutang? Jangan sampailah. Tapi kadang mikir. Kalau diturutin, nggak ada habisnya. 

Sekarang ini saya membidik Xiaomi Mi 10TMudah-mudahan ada jalan untuk memilikinya. Aamiin.


 


31 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Kesederhanaan bukan tergantung profesi, melainkan jiwa yang terbentuk dari waktu yang sangat lama. Berawal dari kondisi pula, kesadaran untuk berbuat lebih menjadi seumber kekuatan untuk berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Emak. Banyak pengalaman yang mengatakan bahwa semangat menjadi sumber energi bisa melakukan banyak hal. Termasuk didukung gadget juga. Tapi itu nggak mutlak. Yang utama adalah kemauan belajar. Makasih sudah berkunjung, Emak.

      Delete
  2. Setuju Pak Padil... pelan-pelan belajar dengan merekam dan di aploud ke yuotube

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari, Bu. Belajar tanpa kenal usia. Hehe..meskipun sudah jadi guru, harus terus belajar. Jangan kalah sama yang muda-muda kalau dalam hal ini. Hehe

      Delete
  3. Ini nih saya masih males-malesan bikin konten video buat pembelajaran malahan bikin konten seru-seruan aja di tiktok, dasar aku. wkwkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..ayo Bu beranjak bikin sendiri video pembelajarannya. Sederhana juga bisa kok

      Delete
  4. Ada hikmah dibalik peristiwa. Pandemi yang banyak membuat orang tak berdaya, ternyata membawa banyak pelajaran.

    Cinta Laura yang artis, menghindari hidup gelamor. Sebuah pelajaran banget buat kita. Kedermawanannya semoga bisa menular bagi semua..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Pak. Selalu ada hikmah kalau kita mau belajar. Kalau tidak bisa, harus belajar. Insya Allah sampai bisa. Aamiin

      Delete
  5. Mau juga bisa bikin video yg cepat. Sdah download Polaris dan muvizen malah. Tapi masih belum bisa. Harusnya perlu waktu khusus untuk belajar sepertinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya pakai kinemaster Bu lebih ringan dan simple pertama untuk video-video yang ringan tapi kalau mau yang banyak animasinya tentu pakai aplikasi yang lebih lengkap Bu.

      Delete
  6. Setuju belajar dari yang sederhana dulu. Yang penting mengena ke materi. Saya masih perlu berjam-jam buat video. Belum pede he he.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Bu. Saya juga lama lho bikin video pembelajaran. Tapi ya giman lagi. Saat pandemi, harus dipaksakeun. Bismillah...:)

      Delete
  7. Saya suka memakai cara kedua saat membuat video Youtube...
    Cepet gak pakai ribet, salah tinggal rekam ulang... hehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Pak lebih ringan dan bikinnya pun bisa cepat selesai.

      Kalau yang bagus-bagus membutuhkan waktu yang lebih lama jadi kita pun harus bikinnya lebih ekstra.

      Delete
  8. Keren perjuangan pa padil ingin membuat konten 🎉🎉 saya jadi tahu tentang optimasi gadget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aseeek. Makin semangat nih ngeblog dan berkarya. Dukung ya. Kuncinya sih sabar dan telaten di dunia Maya. Bakal banyak ilmu kalau begitu

      Delete
  9. setuju pak. bikin vidionya jadi bisa tambah cepet kalo begitu caranya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Iya. Semoga semakin jelas ya. Buat pembelajaran yang bisa semakin paham. Mari saling berbagi ilmu ya

      Delete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Saya setuju pak, karena dengan gadget kita mudah untuk mendapat informasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, emang bergantung pada sang pemakai ya. Nah, kalau mau berprestasi, jadi gunakan gadget untuk hal positif ya. Keep fight

      Delete
  12. Cara desain menggunakan canva sulit gak pak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah nggak susah. Justru sangat mudah. Canva itu dijuluki aplikasi sejuta ummat saking mudahnya.

      Delete
  13. Keren sih!
    Iya tuh bener banget ye kan.. manfaat kan handphone kalian dengan hal yang berguna.. 🦾📱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, gadget tergantung pemakainya. Kalau dipakai untuk hal positif, akan sangat berguna. Misalnya mengembangkan hobi. Kuy lah

      Delete
  14. setuju pak, di era sekarang yang serba digital ini mengharuskan untuk memanfaatkan gadget hampir di setiap kegiatan. aku juga terbantu lewat pembelajaran video yang bapak upload di youtube, untuk sekedar mengulang pelajaran, terlebih selama kbm daring kemarin, penyampaian materi berupa video memudahkan kita untuk memahami materi dibanding via voice note whatsapp atau zoom (yang sering terkendala sinyal).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, really? Duh, senang banget kalau ternyata yang bapak bikin ada manfaatnya. Siip. Jadi semangat nih. Kalau ada kekurangan ya gak papa sih dikasih tahu. Supaya bisa meningkatkan kualitasnya. Hehe ..

      Delete
  15. Semoga dilancarkan rezekinya unyuk ganti HP yg diidamkan..

    ReplyDelete
  16. Replies
    1. Sama-sama, Pak. Tetap semangat ngeblog. Aamiin

      Delete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post