Judul : Kece Tanpa Kere
Penulis : Tim PermataBank
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Februari 2018
Tebal : xii+214 halaman
ISBN : 978-602-035-340-1

Keadaan finansial sangat memengaruhi berbagai target. Ada banyak rencana hidup yang berubah atau gagal lantaran finansial tidak mendukung. Maka, perlu mengelola keuangan secara cermat. Kondisi keuangan seseorang belum tentu lebih baik, meskipun sudah berpenghasilan bagus. Ada yang tetap tidak punya tabungan, walau gajinya sepuluh kali lipat sebelumnya.

Buku ini mengajak lebih cermat mengatur keuangan. Ada beberapa masalah keuangan yang menyebabkan pengeluaran besar, di antaranya budaya konsumerisme sebagai tuntutan persepsi sosial, termasuk memperbesar pemenuhan barang-barang. Akibatnya, orang membeli banyak barang yang belum tentu dibutuhkan. Memiliki sesuatu yang baru memang menyenangkan, tapi belum tentu membahagiakan (hlm 31).

Ada anggapan, hidup hanya sekali, lalu diisi dengan bersenang-senang. Pengertian You Only Life Once disalahgunakan dengan melakukan apa saja, termasuk menghamburkan uang. Pemasukan lebih besar umumnya berbanding lurus dengan pengeluaran yang makin besar pula (hlm 6). Menurut laporan BCG tahun 2014, kelas menengah urban Indonesia, konsumsi barang-barang yang memuaskan emosional naik. 

Sering kali kebahagiaan, standar hidup, maupun status sosial diasosiasikan dengan uang. Mungkin pengeluaran bulanan lebih banyak untuk kebutuhan tersier, sehingga mengakibatkan besar pasak dari tiang. Buku ini memberi strategi untuk mengatur keuangan agar optimal.

Maka, perlu memperbaiki mindset, orang tidak membutuhkan banyak untuk bahagia. Dia bisa tetap hidup dengan milik sekarang. Saatnya berhemat. Hentikan mengonsumsi barang yang bukan kebutuhan. Tidak harus mengeluarkan biaya besar atau harga mahal untuk mendapat kebahagiaan. Sebetulnya, kebahagiaan bisa ditemukan di mana-mana, tidak perlu mencari jauh. Orang bisa menemukan atau menciptakan kebahagiaan dari diri sendiri (hlm 38).

Hentikan kebiasaan lama meskipun akan ada penolakan dan kepanikan. Misalnya, dengan tidak belanja dulu karena masih punya banyak barang serupa. Menyiapkan kopi sendiri dipercaya bisa menghemat ratusan hingga jutaan rupiah ketimbang di kafe.

Siapkan masa depan dengan menabung. Bisa juga investasi reksa dana, deposito, emas, saham, atau properti. Untuk berinvestasi bisa minta bantuan penasihat keuangan guna mendapat bantuan. Menabung mungkin memang terasa susah karena belum terbiasa, tapi semua dilakukan demi masa depan. Tindakan sekarang akan didapat masa depan (hlm 186).

Melalui gerakan #SayangUangnya, buku ini mengajak berhemat. Menghargai nilai uang sama artinya dengan menghargai nilai hidup (hal 115). Landasannya, frugalisme yang mengajak untuk mendapat sesuatu yang lebih dari hidup tanpa perlu menghabiskan uang banyak. Resep utamanya, memunculkan kebahagiaan dari dalam diri bukan dari konsumsi terus menerus.

Hidup secara #SayangUangnya bukan berarti serbamiskin dan kekurangan. Ini mengelola hidup dengan menimbang prioritas dengan menentukan financial goals. Mengejar materi dan status sosial tidak akan ada habisnya. Akan selalu ada yang lebih kaya, baru, dan tinggi.

 Diresensi Supadilah, Dimuat di Koran Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019

 

4 Comments

Kata Pengunjung:

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post