Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pahlawan Lingkungan Penghubung Pemulung


* * 


Tumpukan sampah menggunung hingga setinggi dua kali tinggi orang dewasa. Bermacam-macam sampah di dalam tumpukan itu. Bagi banyak orang, sampah merupakan sesuatu yang dihindari karena mau, tidak enak dipandang, dan membawa penyakit. 

Namun, tidak bagi pemulung. Sampah merupakan berkah. Makin banyak sampah, berkah semakin melimpah. Sampah itulah yang mereka gunakan untuk mencari nafkah. Mereka menghidupi keluarga, saudara, dan membiayai anak sekolah.

Pemulung menyusuri jalan mencari sampah sampai badan menghitam terkena sinar matahari. Namun, meskipun mereka sudah bekerja keras, penghasilan mereka jauh dari cukup. Dalam sehari mereka hanya bisa mengumpulkan Rp.10.000 hingga Rp. 20.000.

Begitulah beratnya kehidupan pemulung. Belum lagi masalah lain. Saat para orang tua memulung, ke mana anak-anak mereka? Bisa jadi mereka ikut memulung juga karena ketiadaan biaya untuk sekolah. Dari sekitar 3,7 juta pemulung hanya 10 persen saja yang mampu mengakses pendidikan. 

 
Potret lingkungan pemulung. Foto: Dokumentasi WasteHub


Mungkin banyak yang memikirkan hal itu. Tapi sangat sedikit yang bergerak menunjukkan kepeduliannya. Salah satu yang tergerak itu adalah Siti Salamah.

Siti mendirikan Rumah Pohon (dulu bernama Taman Magrib Mengaji) sejak 2015. Siti ingin membantu anak-anak pemulung mendapatkan pendidikan non-formal sekaligus pendidikan spiritual yang memberikan dampak baik pada karakter mereka. Anak-anak pun mendapatkan pengalaman belajar, membuat kerajinan tangan, dan karya lainnya. 

Rumah Pohon melakukan pembinaan anak-anak pemulung baik dalam bidang agama, pendidikan, dan  melakukan pengembangan masyarakat. Mereka juga memberikan pembinaan kepada ibu-ibu pemulung agar mampu bersaing dan mandiri.

 


    
Beberapa aktivitas anak-anak di Lapak Pemulung. Foto: Dokumentasi WasteHub

 

Sampah merupakan masalah bagi kita. Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan BPS, setiap tahunnya sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton dan sebanyak 3,2 juta ton sampah plastik. Indonesia sendiri berada pada peringkat kedua penghasil sampah plastik setelah Cina.  

Sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari. Jakarta setiap hari memproduksi 7.000-7.500 ton sampah. Dalam dua hari, tumpukan sampah di Jakarta setara dengan Candi Borobudur. Atas masalah ini kita tidak bisa saling tunjuk menyalahkan siapa dan pihak mana yang harus bertanggung jawab.

 

Mari kita saling peduli dan berkontribusi untuk mengurangi sampah. Belajar dari Wastehub kita bisa melakukannya. Mengurangi volume sampah di sekitar kita. Bahkan membantu pemulung untuk menaikkan tingkat kehidupannya.

Berkolaborasi Hadirkan Solusi

Waste Solution Hub (Wastehub) berdiri pada Oktober 2018. Pendiri Waste Solution Hub tersebut ialah Ranitya Nurlita.  Awal mulanya Waste Solution Hub terinspirasi dari sebuah tempat pengelolaan sampah di Boulder Colorado, Amerika Serikat. Kala itu Lita dan Yusuf menjadi delegasi Indonesia untuk program pertukaran pelajar Young Southeast Asian Leaders Initiatives (YSEALI) dan mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Recycling Center Unit, sejenis Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Hebatnya, tempat itu yang sangat bersih dan tidak bau sama sekali. Sepulangnya dari sana, mereka bermimpi besar untuk membangun Recycling Center Unit serupa di Indonesia. Mereka sempat bertemu dengan Siti di iven Youth Action Forum. Mereka lalu sepakat untuk membuat sebuah komunitas. Mereka pun sepakat mendirikan Waste Solution Hub sebagai Recycling Center Unit dengan pemulung sebagai mitra.

Wastehub adalah satu bisnis sosial yang didedikasikan untuk lingkungan dan memberdayakan pemulung.

Siti bersama empat orang lainnya mendirikan Waste Solution Hub (Wastehub). Wastehub merupakan sebuah sistem berbasis bisnis sosial sebagai recycling center (pusat daur ulang sampah yang terintegrasi). Wastehub memberdayakan kaum marjinal seperti pemulung di sekitar lapak maupun tempat pembuangan akhir (TPA).


 

Memilah dan menghitung berat sampah. Foto: Dokumentasi WasteHub

 

Nama Waste Solution Hub memiliki arti penghubung solusi sampah yang ingin menghubungkan satu sama lain agar masalah sampah dapat teratasi dengan solusi-solusi yang ditawarkan.

Wastehub juga menghubungkan antara masyarakat, bank-bank sampah, menghubungkan pengelola sampah, para pendaur ulang, TPS3R, pemulung, serta para aktivis lingkungan atau para penggerak lingkungan.

“Masalah sampah nggak akan pernah habis. Nggak akan bisa diselesaikan oleh satu orang atau satu kelompok saja. kita harus bersama-sama dan semua bergerak. wastehub menjadi salah menjadi penggerak perubahan itu,” tegas Siti. 

Wastehub juga memberikan jasa service pada kegiatan-kegiatan besar. Salah satunya pada acara halal Expo festival di 2019. Selama dua hari pelaksanaan, ada sampah 6 ton! Luar biasa ya…


Nah, dari sejumlah itu, ada 3 ton sampah organik diubah menjadi kompos dengan sangat cepat. Hal ini karena dikerjakan oleh para mitra berpengalaman. Hebatnya, di hari ketiga kegiatan kompos itu dibagikan secara gratis kepada para pengunjung. Dari 6 ton sampah tadi tidak ada yang dikirim ke TPA. Untuk sampah anorganik dijual ke bank sampah yang akan dijual lagi ke pabrik-pabrik untuk membuat bahan bijih plastik.

 

Wastehub sukses membantu pelaksanaan iven-iven dengan menyediakan tempat-tempat sampahnya, menempatkan para relawan untuk memberikan edukasi terkait lingkungan, dan memberikan kejelasan alur sampah dari awal hingga akhir.


Kegiatan relawan Wastehub di sebuah iven

Wastehub juga bekerja sama dengan beberapa daerah-daerah pariwisata untuk memberikan edukasi juga terkait permasalahan sampah di pariwisata. Pariwisata dan sampah seakan tidak bisa dipisahkan.

Banyak tempat wisata di Indonesia yang belum mampu mengelola sampah dengan baik. Sekeren apapun tempat wisata kalau tempatnya tidak bersih tentu akan mempengaruhi jumlah pengunjung yang datang. Kehadiran Wastehub menjadi solusi atas permasalahan itu. Salah satu prestasi Wastehub dalam hal ini adalah menjadi juara 2 dalam program pengelolaan sampah pariwisata di Nusa Tenggara Timur.

 

Tentang Kesetaraan


Senyum mereka menguatkan untuk hadapi tantangan. Foto: Dokumentasi Wastehub

Hingga tahun 2020, sebanyak 1100 KK terdata sebagai mitra dan terbantu oleh Wastehub. Namun, jumlah jiwa terbantu tentu lebih banyak lagi mengingat satu kepala keluarga (KK) bisa menanggung 2 hingga 5 jiwa. Jumlah ini bisa lebih banyak lagi sebab di tahun 2021 sudah ada beberapa lapak pemulung.

Wastehub membuat pemulung mendapatkan tempat. Siti selalu menegaskan kepada setiap penyelenggara event atau pihak mana pun yang bekerja sama dengan Wastehub agar menghargai mereka sama seperti kita pada umumnya.

Dengan bermitra bersama Wastehub, para pemulung bisa mendapatkan pemasukan yang lebih besar. Misalnya pada program sedekah sampah, Wastehub memberdayakan pemulung dengan membayar mereka secara professional. Bayaran mereka per hari Rp. 100.000 hingga Rp. 200.000. Penghasilan mereka pun bisa lebih besar lagi.

Dalam kegiatan edukasi tentang lingkungan, seringkali bukan Siti yang mengisi sebagai pembicara, tapi pemulung sebagai pembicaranya.

"Yang memberi materi pada sedekah sampah itu para pemulung. Karena pemulung hafal banget dengan sampah, mereka lebih menguasai tentang sampah daripada kita. Para pemulung cerita banyak yang menghubungi mereka untuk berdiskusi tentang sampah," kata Siti.

Tidak selalu pemulung digambarkan dengan penampilan yang kumuh, baju kotor, membawa pengait, dan memanggul karung. Wastehub membuat pemulung tidak lagi dianggap sebelah mata. Pemulung mendapatkan tempat dan nasib yang layak.  Sehingga pemulung punya harapan untuk menjadi lebih baik.

     

   Menyemai harapan dengan ceria bersama anak-anak Rumah Pohon. Foto: Dokumentasi Wastehub

 

Tidak terhitung lagi berapa banyak anak-anak yang terbantu oleh Wastehub. Pernah ada anak yang putus sekolah dari kelas 4 SD. Dibantu melanjutkan sekolahnya. Sekarang anak itu sudah kuliah. Namun, dia tidak lupa dengan jasa-jasa Siti.

“Terima kasih Kak atas bantuan Kakak. Kalau bukan karena bantuan Kakak mungkin saya tidak sampai menjadi seperti ini,” katanya.

Budi (47) dan keluarga termasuk yang merasakan besarnya jasa dari Siti. Dulu ia merupakan seorang pemulung. Sebelum dilibatkan dalam kegiatan Wastehub, tidak terpikir akan maju kehidupannya.

Kayaknya kalau nggak kenal kak Siti Salamah saya masih di zona pemulung. Dari sisi penghasilan tentu lebih meningkat. Saya juga bisa menyekolahkan anak. Satu anak lulus SMK, sudah bekerja. Satu lagi masih di SMK, saat ini sedang magang di resto. Itulah hasil motivasi dari Kak Siti. Dulu saya belum ada kemauan menata masa depan anak,” begitu cerita Pak Budi kepada saya.

Saat ini Pak Budi sudah tidak lagi memulung seperti dulu. Lingkup kerja Wastehub di Tangerang Selatan membuat Pak Budi tidak perlu lagi ke jalan-jalan. Saat ini Pak Budi diminta oleh warga sekitar untuk menangani limbah. Setiap Ahad mengelola bank sampah milik warga di komplek sekitar.

“Menyortir mana sampah yang bernilai ekonomis tinggi mana yang masih ada nilainya. Saya dan keluarga sering diajak Kak Siti dalam kegiatan Wastehub,” ungkapnya.

Hal seperti inilah yang menjadi energi bahagia baginya. Bisa memberikan harapan dan kehidupan kepada para pemulung yang jadi mitra. Sejak dulu hingga sekarang masih ada tantangan yang dihadapinya. Namun, Siti tidak menyerah dengan tantangan itu. Masih banyak anak-anak pemulung yang butuh bantuannya untuk punya harapan tentang masa depannya.

 


Ceria bersama. Kita setara. Siti bersama anak-anak Rumah Pohon. Foto: Dokumen WasteHub

Kepedulian Siti dalam dalam pemberdayaan pemulung dan kepedulian terhadap anak-anak pemulung menjadikannya sebagai salah satu penerima apresiasi 12th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Award tingkat nasional. Lewat Penggerak Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi Berbasis Teknologi, Siti mendapatkan penghargaan untuk Ketegori Kelompok yang mewakili lima bidang yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan dan Teknologi.



Siti Salamah terpilih sebagai penerima 12th SATU Indonesia Awards 2021. Sumber Foto: Youtube SATU Indonesia


Hingga sekarang Waste Solution Hub telah mengelola 4.388 kilogram sampah, memberdayakan pemulung lebih dari 1.222 orang di wilayah Tangeran Selatan, dan mengedukasi lebih dari 23.435 pengunjung. Untuk kegiatan itu, lebih dari 171 sukarelawan terlibat.

Selama pandemi, Waste Solution Hub telah menyalurkan donasi untuk untuk Pekerja Informal (Pemulung) sebanyak 5006 paket sembako. Waste Solution Hub punya target memiliki 10.000 mitra pemulung, meningkatkan pendapatan pemulung sebanyak 100 persen, mengelola 1.000 ton sampah per hari, menghasilkan lebih dari 1.000 produk daur ulang dan mengembangkan lebih dari 10 area pusat daur ulang dan pembelajaran di seluruh Indonesia. Mudah-mudahan Waste Solution Hub bisa mewujudkannya. Bukan hanya tentang mimpi Waste Solution Hub tapi juga mimpi para pemulung dan mimpi anak-anak.


Bahan tulisan:

1. Wawancara dengan Siti Salamah

2. Dokumentasi WasteHub



 #TersenyumlahIndonesia #SemangatSalingBantu #KitaSATUIndonesia

4 comments for "Pahlawan Lingkungan Penghubung Pemulung "

  1. Tulisan keren tentang karya yg keren. Salam utk Kak Siti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salut ya Bu sama beliau. Keren. Semoga banyak lagi Siti-siti yang lainnya. Aamiin

      Delete
  2. Sebuah pengabdian yang luar biasa. Salut. Terima kasih sudah mengabadikannya dalam tulisan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Bu. Salut sekali ya sama beliau. Peduli lingkungan dan berani berkorban untuk masyarakat marginal. Semoga beliau diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus menjalankan kegiatannya. Aamiin

      Delete