Membaca pengalaman Pak Rizky saat bagi rapor anaknya sungguh mengingatkan saya pada seseorang.

Oh iya, tulisan pak Rizky bisa dibaca di sini. Kunjungi blog beliau. Apapun tulisan pasti dibungkus dengan lucu. Branding beliau adalah tulisan lucu. Kalau tak percaya, datang saja ke rumahnya eh ke blognya.

Baru saja membaca judul blognya, pembaca bakal tertawa. Nggak percaya? Coba aja berkunjung. Semakin diselami, bakal terhibur, deh.
https://rizkykurniarahman.com/kritis-yang-lebih-kritis/

Guru bahasa Indonesia di SMA IT Al Wahdah Bombana memang piawai memilih kata, juga singkatan. Misalnya saat beliau menulis tentang inovasi saat pembelajaran, PUBG dan Free Fire beliau pelesetkan. Awas, jangan sering-sering Pak, ntar kepleset beneran.

Menurut pengakuan beliau, beliau identik tukang kritik. Wah, benarkah, Pak? Hehe...

Kalau kritik, selagi membangun, tak apa-apa. Dibarengi solusi, kata beliau. Tapi kalau selalu kritik, eh kata tukang itu menurut saya selalu kritik, nggak ada solusi sih. Jadi tukang kritik mah tidak bagus. Apalagi jika ternyata dia juga nggak becus di pekerjaannya.

Mirip banget dengan sosok yang saya bayangkan, kalau berbicara hal yang buruk, sebab saya banyak mengalami hal buruk sama beliau. Saya sering dikritiknya. Sampai panas kuping mendengarnya. Bahkan dia nggak kenal waktu kalau mengkritik. Pernah lho jam setengah 12 malam dia sampaikan kritik. Edan. Apa nggak ada waktu buat nyampaikan kritik. Besok kan masih ada waktu?

Tidak hanya sekali dua kali lho. Ke orang lain juga begitu. Beberapa kali saya mendengar keluhan orang itu ke si tukang kritik. Di situlah saya baru sadar kalau dia emang tukang kritik. Setelah itu, saya malas berurusan dengan dia. Saya juga menghindari berurusan dengan dia. Bahkan kalau dia berbuat salah saya diamkan. Kalau dia nggak bener saya diamkan. Biarlah orang lain saja yang mbenerin dia.

Beberapa kali dia kena sorot. Pekerjaannya nggak beres. Usaha merugi. Bahkan merugikan orang lain. Suka mengancam bawahannya. Padahal dia ke toko selalu hampir siang. Sewaktu rapat telat padahal dia penanggung jawab.

Seharusnya dia berkaca. Boleh sih mengkritik asal kita sudah benar juga. Lha kalau kita perlu dikritik, mbok ya mikir kalau mau ngritik orang. Urusannya belum beres eh ngurusin orang. Wkwkw... Kasihan. Ya udahlah. Jadi pembelajaran.

Tukang kritik bisa menjadi lebih baik kalau sebelum mengkritik dia berkaca. Sudahkah kerjaannya beres? Kalau belum ya ditahan kritik itu. Apalagi kalau kritiknya nggak tau apa-apa. Duh, jadi sebel. Hehe.. Sekarang mah bodo amat saya sama dia. Males berurusan lagi.


8 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Hehehe. Terkadang kritik itu pedas di telinga dan membawa panas di hati hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar OmJay. Kadang nggak siap Nerima kritik. Hehe

      Delete
  2. Jadi mari kita ambil cermin sblm mengkritik...hihi..kasih kritikan yg halus lembut dan memikat...🤣🤣...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, idealnya begitu ya Bu. Bercermin dulu

      Delete
  3. Betul...beres dulu kerjaan kita.. bru boleh kritik..n kritik di sertai dg solusi. trimkasiih.

    ReplyDelete
  4. Seru kritik mengkritik. Tapi bila kritik tanpa evaluasi diri memang bikin jengah.

    ReplyDelete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post