Ada guru yang cerita kalau siswa ada yang sudah pro dalam bermain game. Levelnya  sudah tinggi. Bahkan, setiap bulan bisa mengantongi jutaan rupiah. Tertinggi pernah mendapat Rp. 10 juta. 


“Benerin, Pak Ivan?”

“Beneran, Pak. Tanya aja sama dia,”

Penasaran, saya pun bertanya ke siswa tersebut. Konfirmasi dengan segera. Ternyata dia bilang iya.

“Kok tau, Pak? Dari mana?”

“Ya adalah. Itu gimana caranya? Kok bisa dapat uang segitu?”

“Pas ada turnamen, Pak. Kadang donasi juga dari temen-temen.”

Lalu dia menjelaskan panjang lebar yang membuat saya manggut-manggut. Tapi saya tidak menangkap kesombongan dari ceritanya. Biasa saja. Datar-datar saja. Ah, biasanya saya yang ngajarin dia. Sekarang gentian dia ngajarin saya.

Dulu saya nggak percaya kalau ada cerita maen game bisa dapat uang yang fantastis. Ternyata cerita seperti ini banyak. Misalnya saat saya menyimak podcast Deddy Corbuzier (Close the Door) yang mengundang seorang gamer. Dia dikenal sebagai RRQ Lemon. Nama aslinya Muhammad Ikhsan.

Di podcast itu dia bilang mendapatkan Rp. 11,5 miliar dari bermain game. Wah, angka sangat fantastis. Seketika saya teringat dengan gaji bulanan saya. Hehe…

Dari podcast itu pula saya tahu kalau atlet eSport bisa mendapatkan penghasilan dari  turnamen, ada kontrak, dan gaji seperti atlet-atlet lainnya. 

Oh iya, dalam gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON XX) Papua 2020 lalu, eSport jadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan secara eksibisi. Terdapat tiga cabang pertandingan yaitu eFootball PES 2021, Mobile Legends, dan Free Fire. Ada hadiah sejumlah Rp. 200 juta yang diperebutkan para finalis yang diberangkatkan ke Papua.

Dari sejumlah siswa yang saya survey rata-rata memang suka bermain game. Kemajuan teknologi memang tak bisa dihindari. Sebaiknya kita mengarahkan agar menjadi hal positif. Tentu kita menyadari bahwa profesi gamers tidak lagi dipandang sebelah mata.

Saat ini orang tua perlu mendorong anak untuk lebih fokus dan produktif dalam bermain game-nya. Jadi tidak dibiarkan begitu saja bermain game. Kalau bisa berikan dia pelatihan yang pas agar skill bermain gamenya terasah dengan baik. Bahkan kalau bisa ada mentornya. Nah, mentor inilah yang mengarahkan dan menunjukkan langkah-langkah menjadi pemain profesional.

Mengenal Akademi eSport LEAD

Untuk memfasilitasi anak bermain game bisa juga dengan mengikutkan dalam akademi eSport LEAD. Akademi yang merupakan program IndiHome ini membuat anak bisa menjadi atlet eSport profesional yang akan berkiprah di kancah nasional bahkan internasional.

Dengan konsep athlete enablement, LEAD by IndiHome memberdayakan seorang gamer (player) yang semula bermain game sebatas hobi menjadi professional player (pro player) yang bermental atlet. Melalui akademi ini pula, atlet eSport dapat merasakan pengalaman Berlatih Tanpa Batas.


LEAD by IndiHome Graduation: Ceremony & Fun Tournament (Sumber: tangkapan layar YouTube IndiHome)

Akademi ini sudah dimulai sejak September 2021. Dan saat ini sudah memasuki fase puncak inagurasi. Dari rangkaian fase kualifikasi dan pembinaan dari para mentor profesional, IndiHome resmi mengumumkan 14 akademia yang lulus sebagai atlet eSport Indonesia di Inagurasi LEAD by IndiHome.


 
Sumber foto: https://indihome.co.id/leadacademy#

 

Mereka nanti akan mengikuti berbagai turnamen eSport tingkat Asia Tenggara, salah satunya adalah Wild Rift Champion SEA (WCS). Di kompetisi bergengsi tersebut, perwakilan akademia LEAD by IndiHome berhasil masuk di enam besar di Indonesia.

Adapun para akademia yang lolos sebagai atlet eSport binaan LEAD by IndiHome adalah Henry Nathaniel Reynard, Harry Nathanael Rainier,  Muhammad Sholeh Salamudin Putra Pratama, Dewa Fabian, Michael Daniel Tabaraka, Tedy Prihanto, Steven Verdianta, Andrew Kusuma, Justin Welly Panvito, Farid Andika, M Bevi Arianda Anwar, Sultan Yudha Patra, Hizkia Noel Songgigilan dan Muhamad Tabina Widyatna.

Kelulusan akademia LEAD by IndiHome ini adalah bagian dari aksi nyata Telkom melalui IndiHome menyediakan layanan internet andal sebagai dukungan industri eSport dengan melahirkan talenta-talenta terbaik. Mudah-mudahan para akademia lulusan dari LEAD by IndiHome ini bisa mengharumkan nama bangsa dengan menjadi atlet-atlet eSport terbaik yang siap berkompetitif di tingkat nasional dan internasional.

Dengan dukungan internet cepat dari IndiHome, sangat mungkin main game, dari yang hobi sekadar hobi, menjadi prestasi. Anak-anak perlu difasilitasi. Nah, kita harusnya semakin sadar bahwa game online tidak selalu buruk. Bermain game juga punya manfaatnya seperti meningkatkan fokus, belajar mengatur strategi, meningkatkan kinerja otak, mengasah pengambilan keputusan, dan lainnya.

 

 

 

29 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Ulah anak yang kecanduan, diviralkan di media sosial, membuat para orang tua menjadi "benci" dengan game. Anak-anak perlu difasilitasi. Saya setuju, Pak Padil. Peran parenting menjadi sangat penting.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Pak D. Padahal yang punya prestasi banyak juga. Nah, ini yang juga perlu diviralkan.

      Delete
  2. Nah itu, mindset yg negatif ttg game online susah untuk dipungkiri, termasuk saya. Saya sll sewot kalau lihat anak main game online terus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..padahal, zaman now, susah dihindari ya Ambu. Di depan kita iya iya tapi dibelakang curi-curi maen game. Nah, lebih baik diarahkan aja. Terima kasih sudah berkunjung, Ambu.

      Delete
  3. Ya slm ini anggaoan anak2 ngegame sll negatif. Mllui tukisan ini smg bnuk orang tua yg sadar ternyta ngegame bs jg menghasilkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Bu. Kalau arahnya gaji, lha gaji mereka lumayan juga ya. Hehe

      Delete
  4. Sudah sering saya bicarakan dengan orangtua, jika main games itu selain menyenangkan juga menghasilkan. Namun, sudut pandang orangtua masih menganggap bermain games merupakan hal yang buang buang waktu.

    Tulisan Pak Padil bisa saya jadikan contoh, jika diarahkan dengan baik bermain games bisa menjadi hal yang positif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jadi ingat waktu zoom sama vokalis Project POP itu. Pak Indra sudah menerapkan, game yang bisa jadi jembatan belajar bersama siswa. Malah Pak Indra hafal nama tokoh-tokoh game. Salut. Luar biasa...

      Delete
  5. Anak sekarang pinter-pinter dan logikanya jalan. Luar biasa ilminya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Logika itu bisa didapat dari maen game ya Om Jay. Kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari.

      Delete
    2. betul, namanya berpikir komputasi

      Delete
  6. Sepertinya saya tersesat diantara berita negatif seputar main game online, bawaanya ngomel Mulu kalau lihat si kecil main game.
    Terima kasih pencerahannya Pak Padil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Bu. Alangkah baiknya jika diarahkan. Apalagi bisa produktif, kan lebih menyenangkan ya.

      Delete
  7. Siswa pecandu game, sedikit yg belajar di kelas dg fokus. Kebanyakan ngantuk dan tidur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... Harus ada strateginya ya Bu.. makasih lho

      Delete
  8. Kalau game bisa menambah IQ anak tidak masalah, tetapi kalau game anak jadi malas belajar. Sangat berbahaya. Sukses...tulisannya keren...

    ReplyDelete
  9. Keren nih Pak Padil. Betul, Pak, kalau diarahkan, game bisa menjadi hal positif. Nanti kalau di sekolah saya butuh konsultan, siap ya, Pak. He ... he ...

    ReplyDelete
  10. Mungkin banyak yang masih belum tahu bagaimana mengarahkan anak yang memang berpotensi dalam dunia game. Info tentang Akademi LEAD by IndiHome ini yang diperlukan agar kita tahu bagaimana mengarahkan anak sehingga bermain game benar-benar menjadi kegiatan profesional

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ,pak. Dengan arahan yang pas, hobi pun bisa jadi prestasi

      Delete
  11. Nah ini cara pandang yang berbeda. Saya suka. Hanya kita belum menyesuaikan sehingga kita seperti alergi terhadap anak yang hobi "game online".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Bu. Kalau dibuat profesional, hasilnya pun akan terlihat.

      Delete
  12. Meyakinan khalayak.bahwa msin game bisa bermanfaat untuk cuan juga sulit.pasalnya anak jika sydah main game....lupa waktu.....jika di sekokah ngantuk. Syukurlah jika ada vontoh positip dan bisa membentuk karakter posiitip. Salam bung Padil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kalau di akademi, itu ada management waktunya juga Pak. Jadi semakin terarah.

      Delete
  13. Betul, Pak. Anak-anak perlu diarahkan dan difasilitasi. 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Bu. Kalau diarahkan di jalur yang benar, akan jadi hebat juga.

      Delete
  14. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post