Mendengar kata kusta atau lepra, mungkin bukan hal yang aneh. Kita pasti sudah akrab dengan penyakit ini ya. Di Indonesia kasus kusta sangat banyak. Hm, apakah karena jumlah penduduk Indonesia yang banyak juga ya?

Cerita tentang kusta sering kali cerita yang sedih. Pengucilan atau diskriminasi penderita kusta acap kali kita dengar. Atau, penderita kusta yang dimanfaatkan untuk mengemis. Hm, kapan ya lepra ini musnah dari negeri kita?

Padahal, Indonesia merupakan urutan ke-3 dunia sebagai penyumbang kasus baru per tahun. Sebuah rekor yang membuat miris ya. Namun kita tidak boleh langsung apatis dengan hal ini.

Apa dan bagaimana sikap terbaik kita tentang kusta dibahas dalam talkshow yang diadakan oleh Ruang Publik KBR Indonesia “Kolaborasi Pentahelix Untuk Atasi Kusta” yang diadakan Selasa, 12 April 2022.

 

Sebagai narasumbernya adalah Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, Sp.KK, M.Kes, Dipl-STD HIV FINSDV dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dan R Wisnu Saputra, S.H., S.I.Kom sebagai Jurnalis/Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung.

Mengenal Penyakit Kusta

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Kusta atau lepra disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

Bakteri ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui percikan cairan dari saluran pernapasan (droplet), yaitu ludah atau dahak, yang keluar saat batuk atau bersin.

Penularan Kusta

Penularan kusta terjadi jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Sehingga, yang harus diingat, bahwa bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Sebab bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembangbiak di dalam tubuh penderita.

Seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman, duduk bersama, atau bahkan berhubungan seksual dengan penderita. Kusta juga tidak ditularkan dari ibu ke janin yang dikandungnya. 

Hal ini ditegaskan oleh dr.Flora yang lama berinteraksi dengan penderita kusta. Berada di dekat mereka, makan bersama, bahkan makan dari masakan mereka.

“Karena penyebarannya tidak mudah. Berlangsung lama. Selain itu dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan lingkungan kita,” ujarnya.

“Kusta adalah penyakit menular yang paling tidak menular,”tegas dr. Flora

Hal ini menjadi penegas bagi kita bahwa tidak boleh mengucilkan penderita kusta. Justru keberadaan mereka harus disemangati dan didukung penyembuhannya.

Mereka juga harus didampingi berobat. Dengan pengobatan yang tepat dan konsistem, penyakit kusta bisa disembuhkan/

Pada 7 April 2022 kita peringati sebagai Hari Kesehatan Sedunia. Mudah-mudahan peringatan Hari Kesehatan Sedunia ini menjadi momentum yang baik untuk penyadaran tentang kesehatan.

Kesehatan ini penting bagi setiap orang. Dalam memandang masalah kusta, tidak boleh hanya setengah-setengah saja.

“Kita harus memandang masalah ini secara holistic. Sebab kasus ini melibatkan banyak unsur seperti lingkungan dan kebijakan kesehatan,” tambah dr. Flora.

Beliau mencontohkan daerah yang berhasil melakukan penanganan kusta dengan baik adalah kabupaten Pasuruan. Di sana penanganannya melibatkan unsur masyarakat dan pemuka agama. Jadi kasus kusta merupakan pekerjaan kita bersama.

Sementara itu, Bapak Wisnu mengatakan pemahaman tentang kusta ini harus menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Termasuk generasi milenial yang juga harus aktif dalam pemberantasan penyakit kusta.

“Kita bisa memanfaatkan media sosial sebagai penyebaran informasi yang benar tentang kusta. Sebab banyak stigma yang salah tentang kusta. Biasanya penderita kusta ini cenderung dijauhi. Harusnya tidak,” katanya.

“Kita harus gunakan informasi atau bertanya ke tenaga kesehatan agar mendapatkan informasi yang valid,” tegas Pak Wisnu.

Saya sepakat bahwa pemberantasan tentang kusta ini harus ditangani bersama. Mudah-mudahan penyakit kusta ini semakin berkurang dan hilang. Aamiin

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post