Ilustrasi Vaksinasi (Sumber gambar: Aset Canva)

Salah satu tujuan menikah adalah agar punya keturunan. Saat istri hamil, tentu ini jadi kebahagiaan kami sekeluarga.  Kami sudah mempersiapkan kelahiran anak sejak umur kehamilan istri 4 bulan. Kami memperbanyak doa untuk keselamatan dan kelancaran kelahiran sang bayi.

Berdasarkan keyakinan agama, saat itu ruh sudah ditiupkan kepada si jabang bayi. Setiap seorang ibu pasti ingin melahirkan secara normal. Ada anggapan bahwa seorang ibu menjadi sebenarnya seorang ibu kalau melahirkan secara normal.

Istri pun berharap melahirkan secara normal. Tetapi ternyata takdir berkata lain. Istri saya harus melahirkan lewat operasi caesar.

Padahal kami sudah mencoba banyak usaha. Saat ibu menganjurkan agar istri sering mengepel lantai pakai lap, istri pun melakukannya. Ikhtiar sudah dilakukan. Hasil akhirnya membuat kami harus bersabar.

Setelah anak lahir kami masih ragu  menggunakan imunisasi atau tidak. Tidak dimungkiri, kontroversi imunisasi  memapar milenial. Generasi milenial identic dengan cepatnya informasi. Tetapi juga rentan terpapar kabar yang salah atau bohong (hoaks). Salah satunya kontroversi tentang vaksin ini.

Banyak isu yang berkaitan dengan imunisasi ini. Mulai dari isu agama, konspirasi dunia, masalah ekonomi dan lainnya.

Kami pun termakan dengan isu-isu itu. Sehingga anak kami yang pertama jadi ‘korbannya’. Sejak lahir kami sepakat tidak imunisasi. Kami mantap dengan pilihan itu. Namun, kemudian terlihat perkembangan yang kurang memuaskan bahkan mengkhawatirkan. Mulai dari berat badan yang tidak ideal, kelihatan kurus, dan kurang nafsu makan. Selain itu, tergolong lambat berjalan. Dari situlah kami mulai berubah pikiran. Lihat kondisi perkembangan anak yang kurang memuaskan akhirnya keyakinan kami goyah. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya kami mau mengimunisasi anak.

Dia baru di imunisasi ketika umur 3 tahun. Sangat terlambat. Kami datang ke klinik, bukan ke posyandu. Kami pun dimarahi oleh petugas kesehatan di sana. Namun sepertinya mereka juga sudah terbiasa menghadapi pasien seperti kami. Pasti tidak sekali dua kali menghadapi orang yang yang anti imunisasi. Maka tidak berapa lama kemudian petugas bidan pun memberikan layanan administrasi.

Berkaca dari pengalaman anak pertama kami pun mengambil pelajaran. Anak yang kedua diimunisasi dengan lengkap. Jadi imunisasi dilakukan BCG atau polio 1 pada umur 2 bulan, DPT atau polio 2 pada umur 5 bulan, polio tiga pada umur 7 bulan polio 3 pada umur 8 bulan, dan terakhir campak pada umur 1 tahun.

                            Kartu Menuju Sehat (KMS) anak kedua

 Pencatatan pemberian imunisasi dasar lengkap dalam buku kartu menuju sehat atau KMS. Janda kedua juga rutin datang ke posyandu untuk melakukan penimbangan pengecekan gizi pemberian vitamin dan lainnya. Alhamdulillah anak sehat, bertambah umur bertambah berat, dan pertumbuhan serta perkembangan anak dapat dipantau dengan teliti.

Tak hanya mencari referensi di internet kami juga mencari referensi di buku. Internet bisa saja salah karena berbagai informasi dengan mudah disebar. Berbeda dengan buku. Menulis buku harus punya banyak referensi yang bisa dipercaya. Buku lebih bisa kredibel.

Selain itu kami juga bertanya kepada ahli agama. Utama tokoh agama yang bisa dipercaya dengan kami. Ternyata beliau pun menganjurkan untuk imunisasi. Pertimbangannya adalah lingkungan kita yang banyak bahayanya.

Lingkungan kita cenderung kotor, udara tercemar, sehingga berbagai macam penyakit dapat mengancam tubuh kita. Dengan demikian, imunisasi boleh bahkan wajib dilakukan. 

 

Jika dikhawatirkan tanpa imunisasi bisa terjadi penyakit yang merugikan diri kita seperti cacat, lumpuh, dan lainnya. Untuk pencegahan kondisi itu maka imunisasi wajib dilakukan.

Dan karena imunisasi itulah Alhamdulillah anak-anak kami sehat,  banyak bergerak,  dan pintar. Jarang sekali mereka sakit. Saya sering mengamati mereka. Lumayan lama tidak sakitnya. Rata-rata 4 bulan sekali. Itu pun sakit ringan. Dibandingkan dengan temannya yang sering sakit atau yang masih kecil sudah dioperasi amandel dan lainnya.  

Dua anak yang sehat dan pintar (Sumber foto: dok. pribadi)

Selain itu, kesehatan didukung dengan pola hidup sehat. Kami tidak sembarangan membolehkan anak jajan. Daripada jajan di luar biasanya istri yang membuatkan makanan di rumah. Lebih sehat dan higienis. Kebersihannya terjamin karena kita sendiri yang membuatnya. Untuk anak sendiri pasti memberikan hal yang terbaik.

Padahal, BPOM dan MUI sudah mendukung pelaksanaan imunisasi. Bahkan, MUI sudah meluncurkan fatwa bahwa sebagai upaya preventif menjaga kesehatan anak, wajib dilakukan vaksin imunisasi untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit yang masuk dalam tubuh.

Dengan memberikan imunisasi, berarti Anda sudah menjauhkan anak terhadap risiko berbagai penyakit berbahaya. (https://promkes.kemkes.go.id).

Biasanya alasan orang tua tidak mau melakukan imunisasi adalah karena efek samping pasca pemberian imunisasi yaitu demam dan rewel. Padahal, hal itu sangat. Pertanda virusnya sedang bekerja.


Selain itu, berkembang pula banyak negara yang tidak melakukan imunisasi, justru negara itu merupakan negara maju. Padahal, faktanya tidak demikian. Dari laman www.kemkes.go.id terdapat data lebih dari 190 negara secara terus menerus melakukan imunisasi untuk bayi dan balita.

Di negara tersebut terdapat institusi resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin, yang beranggotakan dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, biostatistika dll. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang imunisasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% (artinya lebih dari 90 % anak/bayi telah mendapat imunisasi).

Pentingnya Vaksinasi Covid-19

Covid-19 yang melanda dunia juga mewabah di Indonesia. Dari laman https://covid19.go.id, sebanyak 6.036.909 orang positif Covid, 5.814.688 sembuh dan 155.746 orang meninggal.

Banyak yang terpapar Covid-19. Keluarga saya termasuk di dalamnya. Meskipun agak aneh kasusnya. Padahal, kasus Covid-19 muncul di awal tahun 2020. Kasusnya pun terus naik. Namun, saya baru terpapar Covid-19 pada Juli 2022. Justru saat kasus Covid-19 sudah melandai. Padahal selama itu saya sering ke Jakarta menggunakan kereta tetapi tidak apa-apa.

Tapi saat saya lebih banyak di rumah malah kena. Padahal saya juga sudah vaksi 2 kali. Lengkap. Sebagai guru, saya mendapat vaksin pada Januari dan Maret 2021 untuk persiapan pertemuan tatap muka (PTM) di sekolah. Nah, saya mendapatkan pelajaran bahwa setelah vaksin, kita belum tentu bebas dari virus, lho.

Seperti yang saya alami ini. Saya  sudah vaksin. Lengkap 2 kali vaksin. Sudah dapat sertifikatnya pula. Tapi masih kena juga. 


 Rutinitas berjemur saat isolasi mandiri (dok. pribadi)

Istri saya belum vaksin. Beliau dosen. Belum ada jatah vaksi buat dosen. Sebenarnya waktu itu ada vaksi massal dari di polres bertepatan dengan HUT Bhayangkara. Tapi keburu kena.

                        Sedia Oksimeter untuk pengecekan kadar oksigen (dok. pribadi)
 

Saya pun menyakini kalau setelah divaksin kita belum kebal terhadap COVID-19. Ya, dari berbagai informasi yang saya dapat termasuk dari laman resmi https://covid19.go.id, vaksin tidak 100% membuat kita kebal terhadap COVID-19. Namun, akan mengurangi dampak yang ditimbulkan jika kita tertular COVID-19. Untuk itu, meskipun sudah divaksinasi, masyarakat harus tetap menerapkan protokol Kesehatan 5M.

Sebagaimana manfaat dari vaksin lainnya, Vaksin COVID-19 bermanfaat untuk memberi perlindungan agar tidak tertular atau sakit berat akibat COVID-19 dengan cara menimbulkan atau menstimulasi kekebalan spesifik dalam tubuh dengan pemberian vaksin.

Mungkin ini juga yang membuat istri saya lebih rentan saat kena Covid-19. Lebih lama dan gejalanya lebih banyak. Padahal dia sering di rumah dibanding saya. Ya, selama pandemi ini dia sangat jarang atau malah tidak pernah ke kampus.

Tapi saat positif kena Covid-19 dia lebih lemah. Batuk, lemas, dan pusing lebih lama daripada saya. Istri saya jarang sekali sakit. Sejak kecil hingga sekarang baru kali ini mengalami sakit seperti ini. Sepertinya penyakit baru. Nah, apalagi kalau bukan Covid-19 kan?

Kami juga beli oksimeter. Jaga-jaga kalau kadar oksigen sangat kurang. Alhamdulillah, oksimeter menunjukkan angka 93. Artinya kadar oksigen masih bagus. Jadi tidak perlu ke rumah sakit untuk isolasi. Vaksinasi juga bermanfaat, kalau kena suatu penyakit, dampaknya tidak terlalu parah.

Nah, dari laman www.kemkes.go.id, ada empat manfaat dari vaksinasi Covid-19. 

1. Merangsang Sistem Kekebalan Tubuh

Vaksin yang terdiri dari berbagai produk biologi dan bagian dari virus yang sudah dilemahkan yang disuntikkan ke dalam manusia, akan merangsang timbulnya imun atau daya tahan tubuh seseorang.

2. Mengurangi Risiko Penularan

Tubuh seseorang yang telah disuntikkan vaksin, akan merangsang antibodi untuk belajar dan mengenali virus yang telah dilemahkan tersebut. Dengan demikian, tubuh akan mengenai virus dan mengurang risiko terpapar.

3. Mengurangi Dampak Berat dari Virus

Dengan kondisi kekebalan tubuh yang telah mengenali virus, maka jika sistem imun seseorang kalah dan kemudian terpapar, maka dampak atau gejala dari virus tersebut akan mengalami pelemahan.

 4. Mencapai Herd Immunity

Semakin banyak individu yang melakukan vaksin di sebuah daerah atau negara, maka Herd Immunity akan tercapai, sehingga meminimalisir risiko paparan dan mutasi dari virus Covid-19. Kalau sudah terbentuk herd immunity, wabah tidak akan terjadi. Nah, ayo vaksinasi agar covid-19 segera pergi.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/12758/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19, jenis vaksin COVID-19 yang dapat digunakan di Indonesia adalah  Vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Novavax Inc, Pfizer Inc. and BioNTech, dan  Sinovac Life Sciences Co., Ltd.

Pentingnya Vaksinasi

Ilustrasi semua ikut vaksinasi (sumber gambar: aset Canva) e

Vaksinasi mendorong pembentukan kekebalan spesifik tubuh agar terhindar dari tertular ataupun kemungkinan sakit berat. Selama belum ada obat yang defenitif untuk COVID-19, maka vaksin COVID-19 yang aman dan efektif serta perilaku 3M (memakasi masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak) adalah upaya perlindungan yang bisa kita lakukan agar terhindar dari penyakit COVID-19.

Vaksinasi tidak hanya bertujuan untuk memutus rantai penularan penyakit dan menghentikan wabah saja, tetapi juga dalam jangka panjang untuk mengeliminasi bahkan mengeradikasi (memusnahkan/ menghilangkan) penyakit itu sendiri.

 Indonesia punya sejarah panjang dalam upaya penanggulangan penyakit menular dengan vaksinasi atau imunisasi. Indonesia juga berkontribusi terhadap penanggulangan penyakit di muka bumi ini melalui pemberian vaksinasi.

Sebagai contoh sejak pertama kali imunisasi cacar dicanangkan pada tahun 1956, akhirnya penyakit cacar bisa dieradikasi yaitu dimusnahkan atau dihilangkan di seluruh dunia pada tahun 1974 sehingga pelaksanaan imunisasi campak distop pada tahun 1980.

Pun demikian dengan polio, sejak imunisasi polio dicanangkan pertama kali tahun 1972, Indonesia akhirnya mencapai bebas polio tahun 2014. Saat ini dunia, termasuk Indonesia sedang dalam proses menuju eradikasi polio yang ditargetkan pada tahun 2023

Vaksin ibarat pasukan khusus untuk perangi penyakit. Banyak orang tua enggan memberikan vaksin kepada anak karena ada anggapan tanpa vaksin pun anak-anak bisa tumbuh sehat dan terhindar dari penyakit. Padahal belum tentu seperti itu.

Sumber foto : https://sehatnegeriku.kemkes.go.id

Jangan sepelekan vaksin. Karena vaksin ibarat pasukan khusus untuk mematikan penyakit tertentu terutama yang bersifat ganas seperti polio dan rubella. Jika penyakit ringan seperti batuk pilek, pola hidup sehat yang dianalogikan sebagai hansip bisa mengatasinya. Tapi jika yang datang ke adalah gangster, dalam hal ini virus jahat,  tentu butuh pasukan khusus. Ttidak hanya hansip.

Kekebalan tubuh spesifik baru bisa muncul setelah dirangsang atau dilatih terlebih dahulu. Biasanya pada serangan pertama suatu penyakit, cacar air misalnya, kekebalan tubuh nonspesifiknya belum muncul.

Ibaratnya ditahap itu baru membentuk pasukan khusus untuk melawan virus yang menyerangnya. Setelah itulah terjadi antibodi alamiah yang terjadi akibat sakit cacar ini menciptakan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap cacar air. Sehingga jika di masa depan ia bertemu dengan orang yang sakit cacar air, dia tidak akan tertular. Cacar air mungkin tidak apa-apa karena tergolong penyakit ringan, jika tidak sampai menyebabkan radang otak. Tetapi bagaimana jika polio?

Relakah kita lumpuh dulu baru kebal?

Tentu kita tidak ingin dioperasi dulu agar bisa sembuh lalu kebal, bukan?

Pengalaman keluarga saya membuka mata pentingnya mengetahui informasi yang sebenarnya tentang imunisasi dan vaksinasi. Vaksinasi bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga keluarga dan lingkungan bahkan bangsa.

Jangan korbankan keluarga dan lingkungan hanya karena egoisme sendiri yang tidak mau vaksinasi.

Untungnya saya mengalami sendiri sehingga bisa mengambil kesimpulan mana yang benar. Pengetahuan dan teknologi bermanfaat membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.

                     

                    Alhamdulillah, sudah vaksinasi lengkap (sumber: dok. pribadi) 

 

Referensi Tulisan

https://covid19.go.id/artikel/2022/04/13/situasi-covid-19-di-indonesia-update-13-april-2022

https://promkes.kemkes.go.id/pentingnya-melakukan-imunisasi-pada-anak

https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/mediakom/20120425/402207/pentingnya-imunisasi-untuk-mencegah-wabah-sakit-berat-cacat-dan-kematian-bayi-balita/

https://upk.kemkes.go.id/new/4-manfaat-vaksin-covid-19-yang-wajib-diketahui

 #imunisasi #Covid-19 #pekanimunisasidunia2022

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post