“Sudah 2 tahun tidak menengok kampung halaman, lebaran ini harus mudik. Pertama kali mudik menggunakan bus dan naik kapal, pasti seru-lah ya.


Menanti bus berangkat (dokumen pribadi)

Dua bulan sebelum ramadhan. Sehabis makan malam saya dan istri ngobrol tentang lebaran besok mudik atau tidak. Sudah dua tahun ini kami belum mudik. Rencananya, lebaran ini mudik.

 

"Sudah cukup belum tabungannya?"

"Sepertinya sudah, Mas. Lebih baik dihitung ya. Biar pasti."

 

Saat cek saldo di rekening, jumlahnya setara gaji saya selama empat bulan. Cukuplah untuk biaya  mudik. Celengan berbentuk ayam kami buka juga. Buat nambah-nambah makan di jalan.

"Mau pakai pesawat atau bus mudiknya?"

"Pengennya sih pakai pesawat, tapi coba tanya ke anak-anak. Mereka pengen pakai apa."

Saya memanggil anak-anak. Si sulung namanya Jundi. Dia berumur 7 tahun. Saat ini kelas 1 SD. Adiknya berumur 5 tahun. Namanya Firaz.

“Mas sama adek mau ke rumah eyang nggak? Mau ke Jambi?”

“Mau.. Mau…” sahut mereka antusias. Kelihatan seneng banget.

“Mau pilih naik pesawat apa naik bus? Kalau naik bus kita perjalanannya nanti naik kereta api, habis itu naik bus, dan naik kapal laut juga. Tapi kalau pesawat perjalanan kita nanti naik mobil terus naik pesawat terus naik mobil lagi.”

“Naik bus. Biar bisa naik kapal laut.”

Sebelumnya mereka pernah naik pesawat. Mereka kali ini memilih naik bus untuk bisa merasakan naik kapal laut.

Pilihan ini menguntungkan bagi kami orang tua karena lebih ekonomis. Mendekati lebaran ini harga tiket pesawat berlipat-lipat dari harga tiket bus.

Dua hari sebelum mudik, kami sudah siap-siap menyiapkan tas dan barang bawaan. Si sulung kami diberi tugas membawa satu tas miliknya sebagai latihan bertanggungjawab.

Satu jam sebelum keberangkatan kereta kami sudah ada di stasiun. Memang lama menunggu di sana tapi daripada ketinggalan, lebih baik menunggu lama.

 

Dua pekan sebelum keberangkatan saya mencari tiket bus dengan lewat website redbus. Ada beberapa pilihan. Saya memilih bus yang kantor pusatnya dekat dengan rumah kami. Lumayan dekat. Perjalanan sekitar setengah jam saja.

Di hari itu belum ada yang pesan tiket bus. Kami memilih bangku dua baris dari depan. Setelah memilih nomor bangku kami pun check out dan melakukan pembayaran. Pembayaran sangat mudah karena bisa dilakukan secara idari di rumah.

Kami sudah berada di kereta api Rangkasbitung-Merak. Anak-anak sangat senang sekali. Di sepanjang jalan mereka menikmati perjalanan. Sudah 2 tahun mereka tidak naik kereta api karena pandemi. Sehingga perjalanan kali ini pun sangat mereka nikmati. Biasanya mereka hanya melihat kereta api di laptop ataupun kereta api yang sedang lewat di perlintasan tapi sekarang ini mereka merasakan sendiri naik kereta api.

Tiket kereta api sangat murah sekali. Perjalanan selama dua jam hanya Rp. 3000 saja. jadi total tiket untuk 4 orang adalah Rp 12.000.

Untuk menghindari antre atau kehabisan tiket saya membeli tiket kereta secara online. Malah lebih hemat waktu juga. Saya beli lewat memanfaatkan aplikasi KAI Access. Membelinya pun sangat mudah karena bisa dibayar lewat go-pay.

 

Turun dari stasiun kami segera menuju ke kantor perwakilan bus dengan taksi online. Tidak jauh dari Stasiun Merak. Sampai di sana, bus belum terlihat. Setelah menurunkan tas saya menemui pegawai di sana. Bertanya kapan bus akan datang. Ternyata dua jam lagi. Wah, lama juga.

Beberapa menit anak-anak masih sabar menunggu. Kakak beradik itu masih anteng. Setengah jam kemudian mereka gelisah. Sudah merengek bertanya kapan berangkatnya. 

 

Mengusir Kebosanan

Lalu saya dan istri mengajak anak-anak tebak-tebakan. Justru si sulung yang ngasih tebak-tebakan itu. Dia cari di google. Sampai beberapa puluh pertanyaan. Lumayan mengusir kebosanan. Tapi sang adik yang masih kecil, belum paham benar lucunya tebakan itu kembali gelisah.

 

Tebak-tebakan sudah habis. Kami pun kembali mengobrol. Bosan lagi. Lalu istri mengajak menghitung banyak-banyakan mobil yang lewat. Di depan kami banyak mobil lewat. Ada juga truk, tronton, dan lainnya.

 Si sulung diminta suka mobil warna apa. Dia pilih warna putih. Saya pilih warna hijau. Kami menghitung banyak-banyakan mobil yang lewat. Tapi hanya mobil truk atau yang lebih besar lagi. Biar tidak banyak hitungannya. Banyak mana truk warna hijau atau putih.

“Tuh.. putih," seru sulung mengawali hitungannya. Skor satu kosong.

Tidak berapa lama, truk warna hijau lewat. Malah dua sekaligus..

"Hijau. Hijau lagi." Kata saya.

Kadang beberapa menit baru lewat satu truk. Kadang lima menit juga. Lumayan menghabiskan waktu. Begitulah cara kami menunggu waktu. Ternyata lomba menghitung mobil itu akhirnya bosan juga. Sampai dihitungan saya dapat 34 mobil dan si sulung 40 mobil. Dia yang menang dalam lomba itu.

Akhirnya bus datang. Kami pun segera masuk ke dalam bus. Sekitar lima menit kemudian bus sampai di pelabuhan Merak. Sudah terlihat beberapa kapal penyeberangan. Ukurannya besar-besar. Anak-anak sampai berdiri melihatnya supaya lebih jelas.

“Kita masuk ke kapal lho, Mas. Mobil bus ini masuk ke dalam perutnya kapal. Bus lain juga mobil lain bisa masuk ke dalam kapal. Keren nggak tuh. Kan bus besar. Tapi nggak tenggelam ya kapalnya."

Setelah di dalam lambung kapal, bus berhenti, kami diminta turun dari bus. Kami pun naik ke bagian penumpang kapal. Pemandangan semakin keren. Kami melihat-lihat kendaraan masuk ke lambung kapal. Juga melihat kapal-kapal penyebrangan di pelabuhan itu. Anak-anak antusias melihat kapal-kapal. Mereka bisa melihat langsung kapal-kapal yang selama ini dilihatnya di YouTube atau televisi. Mereka juga melihat bagaimana para kru kapal melepaskan ikatan kapal. 

 

Menonton kapal yang berangkat dari pelabuhan (dokumen pribadi)

Setengah jam kemudian kapal sudah berjalan. Ternyata begitu rasanya berada di atas kapal. Tidak usah  khawatir mabuk laut kalau naik kapal besar. Goncangannya tidak terasa. Bagi saya ini pengalaman pertama pula naik kapal. Ah, rupanya bukan anak saja yang merasakan keseruan mudik tapi saya juga.

Kami mudik pada Ramadan yang ke-21. Meskipun dalam perjalanan, kami tetap berpuasa. Ada adzan Maghrib di kapal Kami berbuka di atas kapal. Bekal makanan dibawa dari rumah. Kami makan dengan nikmatnya.

Di tengah lautan gelap gulita. Hanya laut air laut saja yang kelihatan. Anginnya kencang-kencang. Dua jam kemudian kapal bersandar di pelabuhan Bakauheni Lampung. Kami siap-siap keluar dari lambung kapal. Melewat bus melaju dengan tenang karena melewati jalan tol Lampung-Palembang.

Kami sampai di rumah pukul 15.20 WIB. Setelah dihitung, perjalanan hanya 22 jam jika dihitung dari waktu berangkatnya. Sesampai di rumah suasananya ramai. Saudara  datang ke rumah. Anak-anak mendapatkan teman baru. Mereka bertemu dengan sepupu-sepupunya.

 

Aktivitas yang rutin kami lakukan adalah berkunjung ke ladang. Kebetulan letaknya di samping rumah. Di sana eyang memelihara sapi. Ada 13 ekor sapi. Sapi-sapi itu dibiarkan liar di ladang atau kebun yang sudah dipagari sekelilingnya.


Melihat sapi di kebun (dokumen pribadi)

Anak-anak bisa merasakan dekat dengan sapi, memberi makan sapi bahkan naik di atas sapi. Awalnya mereka takut. Minta dipegangi oleh eyangnya. Mereka naik di sapi yang penurut. Jadi tidak takut kalau sapi akan berontak lama-lama anak sangat menikmatinya. Beberapa kali minta untuk dinaikkan di atas punggung sapi.

Semakin Dekat Dangan Saudara

Pulang kampung juga menjadi momen untuk mempererat persaudaraan. Bukan hanya untuk orang tua saja tetapi juga anak-anak. Saat mudik kami membatasi anak bermain. Setiap hari hanya 15 menit saja. Main HP harus dikurangi agar mereka punya banyak waktu bermain dengan saudaranya. Saat mudik si bungsu yang berumur 4 tahun bisa naik sepeda tanpa roda bantu.

Si sulung sering bermain catur, bersepeda, mancing, atau kejar-kejaran dengan sepupunya. Istri sering ngobrol sama ibunya dan saudaranya. Saya sering ke ladang membantu bapak; mencari pakan, mencacah pakan, atau panen pisang.


Bermain catur bareng saudara(dokumen pribadi)

 Di kampung banyak buah-buahan. Setiap hari panen dari kebun sendiri. Ada berbagai macam pisang, kelapa muda, jambu air, rambutan,  dan lainnya pepaya. Makan pun semakin nikmat dengan daun singkong yang ranum-ranum. Apalagi waktu itu musim duren. Jadi kenyang juga dengan makan buah yang dikenal sebagai si raja buah itu. 


Menikmati duren (dokumen pribadi)

 Kami juga pergi ke ladang sawit. Di sana ada sungai kami mandi. Juga menengok kebun kopi yang juga sudah panen. Ada 6 karung kopi kering yang sebenarnya dijemur. Akses jalan ke sana sungguh menantang. Kami harus pakai mobil gardan ganda. Makan bareng-bareng di ladang sumur nikmat rasanya. 


Mengunjungi kebon kopi di ladang (dokumen pribadi)

 Beberapa hari menjelang balik, kami mancing di kolam. Karena mancing di kolam, pasti ada ikannya. Sore hari kami mancing. Walaupun mancing di kolam ikannya susah makan. Di kolam ada ikan emas, ikan nila, ikan mujair dan ikan gabus. Ikan gabus tidak sengaja ditanam tetapi terbawa banjir sewaktu hujan lebat. Ikan gabus itu memangsa ikan-ikan kecil. Jadi sebetulnya merugikan.

Setengah jam kemudian baru kami dapat ikan. Eyang dapat ikan emas dan istri saya dapat nila merah. Sewaktu pulang, pancing si sulung dimakan ikan. Saat ditarik ternyata ikan gabus yang sangat besar. Sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Dia dapat ikan yang paling besar.

Besoknya anak-anak kembali mancing di kolam dekat rumah. Ikannya besar-besar karena sudah dua tahun tidak dipanen. Eyang bilang memang dipersiapkan untuk kepulangan kami. Karena sudah besar mereka pun makan segalanya. Ikan itu makan rumput, daun, bahkan pisang. Kami mancing menggunakan umpan pisang. Ternyata dimakan ikannya besar. Sampai joran patah. Akhirnya saya pegang senarnya. Ikannya sebesar dua telapak tangan.

 

Semaraknya Suasana Lebaran

Lebaran di kampung itu sungguh meriah. Ada takbir keliling dengan banyak mobil membuat malam lebaran semarak. Ada tradisi sungkeman yang masih berjalan dengan erat. Saat lebaran rumah eyang sangat ramai dengan pengunjung. Dari hari pertama sampai hari ketiga ada saja yang berkunjung baik pagi, siang, hingga sampai malam.

Eyang seorang guru. Jadi banyak murid-murid dan orang tua yang datang bersilaturahmi. Banyak yang dari luar daerah juga karena merasa sudah seperti saudara sendiri. Lebaran ini erat kaitannya dengan halal bihalal. 


Suasana silaturahmi ke rumah saudara (dokumen pribadi)

Halal bihalal merupakan tradisi yang erat dalam berdaya masyarakat Indonesia. Saat lebaran tiba kita memanfaatkannya untuk bersilaturahmi dan bermaafan sesama keluarga maupun tetangga. Meskipun zaman semakin maju serta ada pengaruh budaya dari luar, halal bihalal sebagai budaya masyarakat kita perlu kita jaga.

Semakin hari jumlah penduduk semakin banyak. Kalau tidak saling mengenal maka bisa membuat kita semakin jauh dengan keluarga dan tetangga. Lewat halal bihalal itu kita saling mengenal, tahu harus memanggil apa, dan apa hubungan kita dengan yang lainnya. Lewat halal bihalal pula kita bisa merekat kasih sayang. Agar yang muda menghormati yang tua dan sebaliknya yang tua bisa menyayangi yang muda.

 

Mudik memang banyak keseruannya. Kalau bisa mudik, lakukan dengan terencana agar tujuan silaturahmi bisa tercapai dengan maksimal. Salah satunya adalah waspada pada penipuan. Zaman sekarang banyak modus penipuan. Sewaktu mudik saya menemukan indikasi dua penipuan.

Pertama, ditawari oleh seseorang untuk membuka mobile banking. Katanya sih agar semakin mudah dalam bertransaksi apapun. Katanya kalau membuka layanan mobile banking nanti dapat cash back. Justru dari sinilah saya menyimpulkan kalau ini adalah penipuan. Mana ada membuka layanan bank malah dapat cash back? Nomornya pun nomor pribadi.

Saya terima saja panggilan telpon itu. Saya dengarkan baik-baik.

“Saya pikir-pikir dulu ya,”

“Baik, Bapak. Kalau bisa segera ya supaya kesempatan ini tidak hilang.” Katanya dengan kesan memaksa. Wah, mana ada layanan bank akan hilang? Setahu saya layanan ini menjadi salah satu keunggulan bank agar menarik nasabahnya. Sehingga, layanan ini tidak akan dihilangkan.

Sampai beberapa hari kemudian seseorang tadi tidak menelpon saya. Bahkan sampai saat ini. nah, saya bisa memastikan kalau itu adalah modus penipuan.

Kedua, ada pesan di email saya yang memberitahukan bahwa saya dapat hadiah. Sekilas saya saja saya baca begini kalimatnya. Anda adalah pemenang pencarian…. Anda memenangkan Rp. 3.471.057…klik di sini... yang mengherankan nominal hadiahnya kenapa tidak bulat begitu ya angkanya. Kemudian saya juga sudah dengar banyak penipuan lewat email seperti ini. Jadi saya abaikan pesan masuk itu. Tidak saya buka sedikitpun. Sekarang juga marak penipuan dengan berbagai modus. Makanya jangan percaya apapun yang tidak masuk akal.

Ya, kita harus waspada dan jeli dengan beragam modus penipuan online. Kalau dipikir-pikir sekarang ini modus penipuan canggih-canggih dan pinter-pinter. Sudah tidak terhitung pesan masuk di nomor handphone saya tentang hadiah atau pinjaman online. Bahkan ‘hebatnya’ penipuan itu bisa sampai juga ke nomor baru. Saya beberapa kali punya nomor baru. Belum saya pakai buat apapun seperti mendaftar webinar atau mengirim pesan ke teman. Eh, bisa masuk juga pesan penipuan dan tawaran pinjaman online. Heran saya.

 

Waspada Penipuan Online. Belajar Dari Sekitar Kita

Beragam penipuan online ini sering terjadi. Belajarlah dari sekitar kita. Saya pernah menemukan modus penipuan dari seorang teman. Dia seorang panitia pembangunan sebuah masjid. Suatu hari ada yang mengaku sudah transfer Rp. 5 juta untuk donasi. Dia juga sudah mengirimkan bukti tranfernya. Teman saya pun mengucapkan terima kasih.

Beberapa saat kemudian, orang tadi menelpon. Katanya ada kelebihan jumlah transfer. Yang seharusnya Rp. 3 juta malah Rp. 5 juta. Bahasanya ramah. Dia minta ditransfer kembali kelebihannya. Malah minta secepatnya karena mau ditranfer untuk pembangunan masjid lainnya.

Teman saya tidak curiga karena bukti tranfernya kelihatan asli. Ada nama pengirim, nominal, dan sumber bank. Warna dan huruf di bukti tranfernya sangat jelas. Karena beranggapan masih mending yang penting orang tadi berdonasi Rp 3 juta, akhirnya teman saya mengirimkan kelebihannya tadi (Rp. 2 juta). Tanpa mengeceknya dulu. Setelah sempat mengecek ke rekening, baru sadar kalau dia telah ditipu. 

 

Waspada Penipuan Online Saat Liburan dan Mudik Lebaran

Momen libur dan mudik lebaran bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan. mungkin karena dua momen ini membutuhkan dana yang besar. Sehingga saat ada iming-iming sejumlah uang dirasa sangat menggiurkan.


 Sumber foto : Unsplash (https://unsplash.com/photos/BjhUu6BpUZA)

Nah, kita harus jeli untuk mengantisipasi penipuan online saat liburan dan mudik lebaran. Dari website BCA kita bisa ketahui beberapa modus penipuan online yang kerap terjadi. Pelajari yuk supaya kita bisa terhindar.

 

1. Modus voucher belanja online 

Modus penipuan ini biasanya terjadi melalui aplikasi WhatsApp. Biasanya berupa link voucher diskon belanja online Ramadan / Lebaran. Penerima pesan ini harus mengklik link tersebut untuk mendapatkan hadiah atau voucher diskon. Saat tautan tersebut diklik, maka akan diarahkan untuk mengisi berbagai informasi seputar data pribadi.

Sebaiknya kita abaikan saja pesan WhatsApp seperti ini. termasuk jika mengatasnamakan bank / e-commerce, perusahaan, dan lainnya. Waspada nomor palsu Halo BCA, yang asli itu 1500888 tanpa awalan 021, +62, dan sebagainya. Selain itu, harus diingat bahwa nomor WhatsApp resmi bank BCA adalah 08111500998 dengan centang hijau. Jika nomornya berbeda atau tidak ada centang hijau, itu nomor WA palsu.  

 

2. Modus pinjaman online

Ada juga modus penipuan menawarkan pinjaman online baik melalui SMS atau sarana lainnya. Biasanya menawarkan pinjaman online cepat, langsung disetujui, dengan nilai pinjaman besar. Banyak orang yang punya banyak kebutuhan Ramadan dan untuk THR Lebaran, sehingga banyak yang tergiur dengan modus ini. 

Modus penipuan yang satu ini juga biasanya menyertakan link / tautan palsu untuk pengisian data pribadi seperti rekening bank, KTP, nomor kartu ATM, PIN sampai dengan kode OTP (one-time password)

 

3. Modus menang undian / hadiah THR 

Hati-hati ya kalau ada informasi dari siapapun yang mengabarkan kalau kamu memenangkan sejumlah uang tunai / hadiah Ramadan / THR Lebaran  yang akan ditransferkan ke nomor rekening bank / dompet digital milik korban. 

Biasanya diminta untuk memberikan nomor telepon dompet digital yang aktif, nomor rekening, KTP, nomor kartu ATM atau kode OTP. Kalau ada permintaan seperti ini jangan pernah berikan data-data pribadimu termasuk kode OTP kamu pada siapapun, ya. 

 4. Modus penipuan pengkinian data 

Ciri modus penipuan online ini adalah ada pesan berisikan link / tautan palsu yang menyerupai website resmi BCA, melalui email atau sarana lainnya. Jika diklik, kamu akan diminta untuk login dengan mengisikan data-data pribadi seperti username, password, nomor kartu debit/kredit, PIN, dan lainnya. 

Penipuan yang satu ini dapat berkedok minta update / pengkinian data pada online shop sampai perbankan. Jika tidak segera melakukan pengkinian data, korban diancam rekening / kartu kredit / akun online shop / akun dompet digitalnya akan segera terblokir. Ini merupakan metode phising / pencurian informasi korban sehingga pelaku dapat mengakses dompet digital, rekening bank, mobile banking atau kartu kredit korban. 

Untuk menghindari penipuan ini, kenali email resmi BCA. Selain itu, jangan pernah sekalipun masuk ke link yang disediakan dan membagikan data pribadimu. Jaga data pribadimu (Nomor kartu ATM, PIN, OTP, dll). #CariTahuBiarAman

Ayo jeli. Awas modus penipuan online. Jangan sampai momen liburan atau mudik lebaran batal dilakukan atau menjadi rusak karena penipuan. Terus waspada dan jangan mudah percaya pada tawaran yang menggiurkan. Jangan lupa menjaga data-data pribadi kita. Ingat bahwa #DatamuRahasiamu. Jangan pernah memberikannya kepada siapapun.

 

Cari tahu selengkapnya modus-modus penipuan terkini lainnya di halaman Awas Modus ini, biar kamu aman. #CariTahuBiarAman

 

Referensi tulisan

Laman resmi website BCA

Pengalaman pribadi

 

 

 

 

 

 

 

11 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Wah ... ternyata wong Sumatera. Mudik nya seru tetapi tetap waspada dengan penipuan. Tulisan Pak Padil selalu nyentrik. Pokoknya juara ditinjau dari sisi mana pun. Kalau ada kesempatan ingin berguru. Sukses Pak Padil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya emak. Saya orang Sumatra. Kelahiran sana. Kalau mudik ke Jambi

      Delete
  2. Selalu lengkap dan menarik ceritanya. Sukses selalu Pak Gurukuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak Mister. Hehe .. pengalaman mudik kemarin.

      Delete
  3. Ingat jambi jadi ingat sama makanan khas nya, soalnya ada saudara dari ibu yang menikah dengan orang asli sana pernah kasih oleh oleh.
    Emang mudik saat lebaran bikin berkesan ya tapi tetap harus wasppada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ada saudara ya di sana. Hehe.. beberapa oleh2 khas jambi itu dodol kentang, dodol duren, tempoyak, dan lainnya. Mudik seharusnya jadi momen yang berkesan ya...

      Delete
  4. Wah seru sekali perjalanan mudiknya
    Ikut senang bacanya. Udah lama kami sekeluarga gak road trip begini, jadi kangen euy
    Bagian asyiknya mudik itu pasti menikmati kuliner kampung halaman yang enak-enak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. alhamdulillah ada kesempatan mudik. Banyak pengalaman di jalan. Ini berguna banget buat anak-anak. Mereka bisa merasakan seneng, kesel, juga sabar dan syukur. Mudah-mudahan setiap mudik selalu berkesan. Aamiin

      Delete
  5. Meski lebih lama, perjalanan darat dan laut lebih menyenang dan berkesan bagi anak. Bisa bayangin kekayaan pengalaman mereka. Malahan ikut bayangin kalau saya dan keluarga yang melakukannya juga.
    tapi perjalanan darat biasanya lebih boros ya Mas. Hehehe

    ReplyDelete
  6. Punya kebun kopi Mas Padil? Aduh keren bangettttt. Makan bersama keluarga di kebun.
    Aku ingat ibuku itu sering banget forward2 ke aku kalau dia dapat SMS berkedok hadiah. "Ini bener gak nak?" Gitu mulu tanyanya. Sebel yaaa kalau ada yang tertipu. kasihan banget.

    ReplyDelete
  7. Saat lebaran tiba memang mudik ini menjadi momen yang ditunggu tunggu buat kumpul saudara. Btw untuk kuliner dan makanan khas daerah sana apa saja ya kak?

    ReplyDelete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post