Setiap malam mas Jundi mengaji buku Iqro. Saya dan istri gantian menyimak. Pernah saya bertanya lebih suka disimak atau diajari siap. Sama ayahnya atau bundanya?


"Lebih enak ngaji sama bunda," jawabnya. 


"Kenapa gitu?"


"Bunda lebih pinter." Jawabnya santai. 


Saya pun heran. Pinter seperti apa yang dimaksud. Padahal biasanya kalau ngaji  sama saya juga lama. Seingat saya ngaji pun lebih cepat. 


"Kalau sama bunda, salah membacanya, diulang dari awal. Sampai lancar. Kalau ayah kan nggak. Lanjut aja. Ayah mah nggak pinter."


Saat ini maa Jundi iqro 5. Termasuk lancarlah seusianya. Saya malah pengen ngajak dia baca Al Qur'an mulai surat Al Baqarah. Saya yakin dia bisa. 


Saya sering ngasih keringanan kalau mengaji. Kalau ada salah dikit, dibenarkan, lalu lanjut. Tidak harus mengulang dari awal. Saya berusaha membuat suasana mengaji tidak memberatkan. Saya khawatir kalau harus sempurna jadi merasa mengaji itu tidak kok susah sekali. 


Bukankah seusia mereka senang kalau ngajinya lancar? Tidak harus mengulang yang bisa bikin bosan?


Tapi lihat kondisi juga, sih. Kalau banyak yang salah ya perlu diulang juga. Sampai lebih lancar dari sebelumnya. Untungnya mas Jundi sering nurut. Pernah dari iqra 4 diulang ke iqro 3.


"Nggak papa kalau diulang lagi. Kita dapat pahala setiap baca hurufnya. Jadi ngajinya mau dapat pahala, ketika ngulang pun dapat pahala. Ayah sama bunda juga kalau ngaji diulang terus. Kalau sudah khatam, ulang lagi."


Penjelasan itu bisa dimakluminya. Apalagi kalau sudah ada contoh ayah bundanya. Biasanya orang tuanya diikuti. Alhamdulillah, mas Jundi nurut. 


#JurnalAyah


2 Comments

Kata Pengunjung:

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post