Beberapa hari ini rumah sedang direnovasi. Banyak barang-barang berantakan atau salah satu dinding yang dijebol menyisakan batu. Pagi itu mas Jundi baru saja pulang dari main sepedaan. 

Bundanya masuk rumah sambil bawa kue kukis. Kue kesukaan kami. Kue dibawa ke dapur. Mau diletakkan di piring. Mas Jundi ke dapur lalu minta satu buah kue. Setelah itu dia pergi keluar. Namun, tak berapa lama terdengar suaranya mengaduh. Lalu menangis kencang. 

Saat saya lihat dapat terkejutnya ketika kaki mas Jundi banyak darahnya. Dia memegangi kaki kanannya. Ternyata kakinya tersandung batu. Bahkan kukunya hampir lepas. Mungkin tinggal sepertiganya lagi. Kelihatan parah sehingga wajar dia meraung-raung. 

Saya terus menenangkannya. Mengusap-nguasa punggung dan keningnya. Saya tawari mau diolesi minyak VCO tapi dia tidak mau. Ya akhirnya saya biarkan dia menahan sakit meraung-raung sampai beberapa menit lamanya. 

"Aduh sakit. Aduh sakit," raungnya kesakitan.

Bundanya sih melarang Mas Jundi menangis apalagi yang meraung. Katanya kalau kita bilang sakit sama saja mengundang rasa sakit itu datang. 

Namun saya tidak sependapat. Saya bilang biarkan saja dia meraung-raung. Menangis adalah ekspresi dari sakit. 

Kalau terluka maka ekspresinya mengaduh itu nyambung. Itu manusiawi. Tapi kalau  terluka ekspresinya senang nah itu yang nggak nyambung.

Biarkan anak mengekspresikan sesuai dengan perasaannya. Nanti akan berguna saat besar nanti. Sehingga misalnya dewasa kelak dia punya masalah yang membuatnya sedih lalu menangis maka itu wajar. 

Tapi ketika dia punya masalah lalu melampiaskan dengan ekspresi lain maka itu bisa menjadi masalah. Mungkin ini juga yang terjadi dalam kehidupan remaja di sekitar kita. Mereka punya masalah atau mereka merasa sedih tapi mengekspresikannya ke dalam bentuk yang tidak nyambung sehingga inilah yang menyebabkan masalah-masalah pada remaja. 


 #JurnalAyah

13 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Keren Pak Guru tulisannya. Terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Menjadikan segala sesuatu nyambung, keren sekali ya, Pak.

    ReplyDelete
  3. Cerita yang tersaji dengan sangat apik pak.. Mantap

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Aduuh kebayang mirisnya kalau lihat anak jatuh dan terluka. Tapi memang ada celah parenting dalam setiap keadaan ya. Mengajarkan anak mengekspresikan apa yang ia rasa juga nggak salah, tinggal bagaimana mengarahkannya untuk menerima rasa sakit tersebut lalu berfokus pada solusinya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post