Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cegah Fatherless Country Bersama Internetnya Indonesia, IndiHome


Dari internet saya mendapat manfaat tak terbatas tentang pendidikan anak. Anak sulung saya yang berumur 7 tahun bisa sukses mengerjakan riset. 

“Mas Jundi, Yuk cari tahu tentang Ronaldo,” ajak saya pada anak sulung saya.

“Ayok. Apa aja, Yah?"

 “Mas Jundi kan suka sama Cristiano Ronaldo. Cari tahu tentang dia sudah ngegolin berapa, gajinya dari maen bola berapa, pokoknya apa ajalah."

Saya dan Mas Jundi sedang ngobrol sore itu. Faith Ilman Al Jundi. Sekarang umurnya 7 tahun. Sapaan ‘Mas’ dalam memanggilnya untuk mengajari adiknya supaya memanggil Mas juga.

Oh iya kenalkan nama saya Supadilah. Saya punya dua orang anak. Keduanya laki-laki. Dalam artikel ini memang saya banyak menuliskan tentang Mas Jundi, si sulung. Namun, hal serupa juga saya lakukan untuk si bungsu. Menikah di tahun 2013, setahun kemudian si sulung lahir. Tiga tahun kemudian si bungsu lahir. 

Nah, sore itu saya sedang ada tugas dari sekolahnya si sulung. Kalau istilah sekolahnya sih kegiatan. Bukan tugas. Sekolah bilang jangan sampai orang tua memaknai kegiatan sekolah sebagai tugas. Sebab biasanya tugas itu dirasakan sebagai beban. 

Istri bilang ada kegiatan riset yang harus dilakukan. 

"Anak-anak diminta melakukan riset, lho."

"Riset tentang apa ya?"

"Riset apa aja. Intinya menggali informasi tentang satu hal secara mendalam. Bisa lewat wawancara atau baca literatur."

Sebentar kemudian kening saya berkerut. Masih anak-anak sudah melakukan riset segala. Saya baru melakukan riset saat di bangku kuliah. 

Kegiatan yang keren nih. Anak-anak diajarkan dan dibiasakan melakukan riset. Berguna juga untuk menumbuhkan literasi informasi. Bagus juga untuk menumbuhkan daya kritis anak-anak. Jadi mereka bisa mendapatkan informasi secara utuh dan mendalam. Sikap kritis seperti ini bisa banget menghindarkan mereka dari kabar bohong atau hoax.

"Lebih mudahnya riset tentang kesukaan anak aja," cetus istri saya.  

Baiklah. Kebetulan anak saya suka dengan olahraga sepak bola. Di lingkungan rumah hampir setiap hari main bola. 

Wajar saja kalau dia suka pada pemain bola. Mengagumi bintang lapangan bola seperti Ronaldo, Messi, Oezil, Moh. Salah, dan lainnya. Kalau pemain Indonesia dia kenal sama Pratama Arhan, Egy Maulana Fikri, Nadeo Argawinata yang berposisi sebagai kiper atau penjaga gawang.

Kesimpulannya, riset ini mau saya tawarkan meriset tentang pemain sepak bola idolanya. Itulah mengapa yang dipilih untuk riset adalah riset tentang sosok Ronaldo.  



Riset diawali dengan pertanyaan-pertanyaan. Awalnya saya yang mengajukan pertanyaan. Lalu gantian si sulung yang mengajukan pertanyaan.  

Apa saja pertanyaan saya? 

Ronaldo sejak umur berapa mulai maen bola? Apakah Ronaldo sekolah sampai kuliah?

Apa tim pertama Ronaldo? Ronaldo dari negara mana? Umur berapa Ronaldo main untuk negaranya? Berapa gaji Ronaldo?

Sebaliknya, ini pertanyaan si sulung.

Berapa jumlah gol Ronaldo? Ronaldo klub apa? Hebat mana Ronaldo dan Messi?

Ronaldo pernah marah nggak?

 

Bersiap menuliskan hasil riset (dokumentasi pribadi)

Hasil riset itu dipresentasikan di sekolah. Tepatnya pada saat kemah keluarga yang diadakan pada 23-25 Juni 2022. Hasil riset dalam bentuk power point dibacakan oleh Mas Jundi. Alhamdulillah, di usia 7 tahun sudah lancar membaca lantang. Saya tidak kesulitan memintanya membaca hasil riset.

Presentasi hasil riset pada kegiatan camping keluarga sekolah ilalang (dokumentasi sekolah ilalang)


 

Ketika Memilih Sekolah Untuk Anak

Saat si sulung berusia 7 tahun saya pun mulai mencari sekolah yang tepat untuknya. Ada beberapa sekolah yang didatangi. Mulai dari sekolah tempat saya mengajar, sekolah Al Qur'an, dan sekolah alam. 

Ternyata dia memilih sekolah alam dengan alasan yang sederhana. Bukan sekadar ada temannya di sekolah itu tapi...

 "Nanti bisa naik kereta api, naik MRT, juga ngebolang," katanya. 

Jawaban yang sederhana tapi mengejutkan buat saya. Itu adalah sekolah non-formal. Dalam sejarah keluarga besar saya belum ada yang sekolah non formal. Keluarga saya mayoritas guru di sekolah formal. Lagian saya dan istri merupakan pendidik di lembaga formal. 

 Lalu apa kata mereka dan orang-orang kalau anak saya sekolah non formal? Apa kata dunia?

Saya dulu sering berprestasi. Setiap pembagian raport biasanya juara kelas bahkan juara umum. Dulu saya membuat bangga sekolah lantaran meraih nilai UN tertinggi. Saya pengen juga anak-anak berprestasi seperti orang tuanya. Tapi tidak mungkin anak saya akan mengulang prestasi-prestasi itu kalau dia sekolah non formal.

Namanya Sekolah Ilalang. Tidak punya ruang kelas seperti kelas pada umumnya. Sekolahnya tidak pakai seragam. Nama kelas-kelasnya adalah Kelas Raja, Kelas Semai, Kelas The Flash, Kelas Hujan, Kelas Naga, dan Kelas Pucuk Harum. 

Raportnya bukan berisi angka-angka tetapi deskripsi perkembangan anak.

Lalu kepikiran kalau memilih sekolah itu sebenarnya kemauan anak atau orang tua. Setelah dipikir masak-masak akhirnya saya dan istri sepakat memilih sekolah alam. Bahkan saat mendiskusikannya kepada kakek dan nenek, mereka juga mendukung keputusan itu.

Inilah pertimbangan saya mantap memilih sekolah ilalang untuk si sulung.

Pertama, siswanya belum banyak

Anak pasti mendapatkan perhatian lebih banyak dari guru karena satu guru mengampu beberapa anak saja. Bandingkan dengan sekolah formal. Satu guru harus mengawasi 10 hingga 20 siswa. Bahkan ada yang lebih. Maka, perhatian guru pasti kurang maksimal.

Kedua, sekolah berbasis minat bakat

Ini yang tidak kalah penting. Kalau sejak kecil sudah tahu minat dan bakat tentu bisa memaksimalkan minat dan bakatnya itu. Kan banyak orang yang tidak tahu apa minat dan bakatnya. Bahkan sampai dewasa atau tua masih bingung. Padahal kalau sudah tahu apa minat dan bakatnya kan bisa dimaksimalkan sehingga bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Ketiga, banyak kegiatannya

 Semakin banyak kegiatan semakin bagus buat anak. Semakin banyak bergerak motorik anak semakin bagus. Anak juga banyak mendapatkan pengalaman dari kegiatannya itu. Pengalaman yang mungkin tidak akan didapatkan di dalam kelas. Pengalaman itu yang sangat berharga sebagai bekal dalam kehidupannya.

Mas Jundi sedang panen kacang panjang (sumber foto: dokumentasi Sekolah Ilalang)


Keempat, belajar kecakapan hidup

Di sekolah, anak belajar keterampilan seperti memasak, piket, keterampilan seperti mencuci, menyetrika, menjahit, dan lainnya. Ya, anak-anak seringkali melakukan keterampilan itu di sekolah kan itu bermanfaat buat kehidupannya.

Kalau sekolah formal mungkin tidak bisa merasakan aktivitas seperti itu. Sekilas kita bisa mikir pekerjaan itu kan ada yang mengerjakannya. Anak-anak perlu dikenalkan dan bisa mengerjakan keterampilan itu. Daripada tidak pernah melakukannya bisa-bisa anak kaku atau bahkan tabu mengerjakan keterampilan itu.

Kelima, pendidikan berbasis komunitas

Setiap orang tua dilibatkan dalam pendidikan anak-anak yang ada dalam sekolah itu. Orang tua diajak untuk memenuhi tanggung jawab dan kepedulian terhadap pendidikan anak-anak yang ada dalam sekolah itu.

Sesuai dengan yang diharapkan anak saya menemukan berbagai kegiatan seru. Salah satunya naik kereta api. Sehingga sekarang sudah tiga kali naik kereta. Anak-anak naik kereta api merupakan pengalaman yang menyenangkan. Anak mana sih yang gak suka kereta api. Melihatnya saja senang sekali. Apalagi naik kereta api.

Teknologi itu ibarat alat.  Bisa bermanfaat atau berbahaya tergantung siapa yang menggunakannya.

Pisau di tangan ibu-ibu dapur jadi bermanfaat mengerjakan pekerjaan dapur. Namun, pisau di tangan orang gila menjadi berbahaya karena bisa melukai orang. 

Sejak dulu ketika anak kenal handphone (sekitar usia 3 tahun), saya dan istri sudah menyiapkan tentang ini. Memberi pengertian bahaya dan manfaat handphone. Handphone itu alat komunikasi menjadi lebih dominan untuk silaturahim. Selebihnya handphone adalah hiburan. Namanya hiburan ya sifatnya seperlunya.

Inilah kesepakatan kami dalam keluarga tentang penggunaan handphone.

Pertama, memahamkan kepada anak bahwa handphone merupakan alat komunikasi. Maka, kembalikan fungsinya sebagai alat komunikasi. Dengan alat komunikasi itu bisa memperlancar silaturahim baik kepada orang tuanya saudaranya maupun kepada teman-temannya.

Kalau untuk hiburan tentu seperlunya jadi harus tahu waktu. Kecuali untuk keperluan lain maka durasi bisa ditambah misalnya untuk riset atau mencari tahu tentang sesuatu hal di dunia maya.

Kedua, menegaskan bahwa mereka tidak boleh memiliki handphone hingga usia 14 tahun. Sebelum mencapai usia itu mereka hanya memiliki hak pakai saja. Jadi handphone yang mereka pakai itu adalah pinjaman dari orang tua.

Di rumah kami ada 5 handphone. Kenapa banyak? Ada yang dipakai untuk menjalankan online shop. Ada juga handphone lama. Meskipun begitu, handphone yang menganggur itu tidak diberikan kepada anak. Supaya mereka terus meminjam ke saya. Sehingga saya bisa mengatur waktu penggunaannya.

Jadi saya seperti polisi waktu yang selalu mengingatkan waktu bermain handphone tinggal berapa menit. “Sepuluh menit lagi. Lima menit lagi. Dua menit lagi. Yak! Udah habis maen handphone-nya.”

Ketiga, membatasi screen time. Jadwal main handphone adalah 15 menit di waktu pagi setelah salat Subuh dan setelah salat Zuhur. Kenapa setelah salat Subuh? Supaya mereka tidak tidur lagi setelah salat Subuh itu. Agama pun menganjurkan untuk tidak tidur setelah salat subuh. Jadi mereka main handphone setelah salat subuh agar matanya melek.

Kenapa setelah salat Zuhur? Ini mengantarkan mereka tidur siang. Biasanya setelah main handphone itu mereka ngantuk. Sehingga saya tidak susah-susah untuk menyuruh mereka untuk tidur siang.

Keempat, saat berkumpul bareng keluarga mereka tidak boleh main handphone terlalu lama atau tidak boleh merengek meminta handphone. Kalau teman lainnya maen handphone, mereka tetap tidak boleh menambah durasi jatah maen handphone.

 “Mas, kita mau ke Jogja nih tapi harus kita sepakati,”

“Sepakati apa?”

 Ntar kalau di Jogja jangan minta main HP melewati jatah ya. Nggak boleh merengek main handphone. Kalau Mas Jundi sepakat, Mas Jundi diajak ke Jogja. Kalau nggak, maka di tinggal aja di rumah.” 

“Iya deh.” 

Membuat kesepakatan dengan adiknya lebih mudah entah karena belum paham atau mengikuti kakaknya tapi dia langsung aja setuju. Selian itu, kami membuat kesepakatan kalau di perjalanan tidak boleh main handphone. 

Kenapa enggak boleh?

Supaya menikmati perjalanan. Melihat pemandangan yang ada di jalan. Mengobrol di jalan supaya semakin akrab satu sama lain. Kalau di jalan main handphone saja jadinya tidak menikmati. 

Kesepakatan ini cukup efektif dijalankan. Bahkan dalam perjalanan dari Jakarta ke Jogjakarta selama 16 jam itu mereka tidak bisa menit pun megang handphone. Begitu pula sebaliknya. 


Internet Sebagai Jembatan Pendidikan

Tidak mungkin steril dari smartphone. Yang kita lakukan adalah anak harus memilah konten positif dan mendidik di internet. 

Internet jadi barang yang sudah tidak asing lagi. Saya banyak merasakan manfaat internet. Dengan internet itu anak-anak bisa melakukan banyak hal. Anak-anak saya bisa mengenal huruf alfabet atau huruf hijaiyah, mengenal nama bulan, tahu rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya.

 Internet merupakan jembatan pendidikan antara saya dengan anak-anak. Internet memang banyak manfaatnya. Anak sulung saya di usia satu tahun bisa hafal huruf hijaiyah dari menonton serial Diva yang diproduksi oleh Kastari Production. Tugas saya dan istri menjadi semakin ringan.

 Dulu saya hampir malu di depan anak saya.

 Saya sudah lupa bagaimana membuat mainan pesawat terbang dari kertas. Saat anak minta dibuatkan, saya pun kebingungan. Dulu kalau membuat pesawat terbang selalu tidak simetris. Akibatnya, terbangnya tidak bagus. 

Lalu saya mencari di internet. Internet cepat dari IndiHome sangat mumpuni mencari ilmu dari mana saja termasuk memutar tutorial dari YouTube. Ternyata ada satu langkah yang dulu saya lewatkan. Duh, andai saja dulu sudah ada fasilitas internet.

 Saat si sulung berusia lima tahun kami berencana di memasang fasilitas internet kencang IndiHome di rumah. Kebutuhan internet semakin besar. Istri mengelola online shop-nya yang membutuhkan internet kencang seharian penuh.

Kalau dibilang anak-anak dapat apa dari internet maka jawabnya anak-anak bisa membuat pesawat, mengenal jenis-jenis kereta, trik/tips sulap, cara mendirikan tenda, memasak telur dadar/ceplok, mengenal planet-planet dan lainnya. Banyak benar manfaat internet.

Belajar tentang planet dengan memanfaatkan internet (dokumentasi pribadi)



Untungnya memang ada internet yang banyak membantu dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Ibaratnya jika bingung mau apa, bisa cari ilmunya di internet. 


Internet Mendukung Mencari dan Merawat Hobi

Suatu hari si sulung pulang membawa catur mainan yang terbuat dari kertas. Dia minta diajari. Setelah satu pekan belajar catur saya belikan papan catur asli.

Dia jadi hobi main catur. Dia pun sering suka melihat trik catur di YouTube. Nah, biasanya jatah main handphone saya tambah durasinya. Dia pun tahu tips empat langkah mati hingga skak mat pakai pion.

 "Mas tahu caranya skak mat pakai pion," ujarnya. 

 "Emang bisa pakai pion saja?"

 "Ya biasalah."

 "Mas Jundi suka catur?"

 "Iya, suka. Tapi sebentar saja,"

 Maksudnya suka sekadarnya. Dia suka catur tapi lebih suka main sepakbola. 

 Seringkali dia main catur dengan teman-temannya. Kalau ada yang datang silaturahmi ke rumah juga diajak tanding catur. Saya mikir, “Apa ditekuni saja ya catur ya? Mungkin itu minatnya.”

 


 Ajak anak melakukan banyak aktivitas sehingga kita bisa tahu dia antusiasnya di mana. Nah, di situlah hobinya. Kalau sudah tahu, tinggal maksimalkan. Ya mungkin tidak cukup satu atau dua kegiatan. Mungkin butuh beberapa kali eksperimen sampai ketemu kesimpulan yang pas.


Parenting; Sekolah Yang Tak Pernah Ada Lulusnya 

 

Lewat internet anak-anak bisa mendapatkan wawasan yang lebih jauh. Seperti anak saya, dari internet berlangganan IndiHome sejak 2020 lalu, banyak akselerasi pengetahuan. Saya seusianya belum mencapai pengetahuan itu. 

"Kalau lewat laut, kapal atau pesawat bisa tersedot lubang hitam, lho Ayah."

Lalu dijelaskannya lubang hutam itu apa. Persis dengan pengetahuan yang saya dapatkan saat sekolah menengah dulu. Hm, cepat benar dia mendapatkan wawasan itu. Nah, itulah yang didapat dari internet. Maka, banyak kan positifnya internet?

Apakah anak saya tidak bermain game? Tentu saja mereka bermain game. Namun, dibatasi pada game yang bagus untuk perkembangan dirinya. 

“Ayah kalau bisa beli kapal induk kurang berapa sih uangnya?

Wah, anak kecil udah tau apa itu kapal induk. Hehe… Lalu saya lihat berapa uang yang dia punya. Hitungan detik kemudian saya memberikan jawaban.  

“Kurang satu juta lagi.”

 Lalu Mas Jundi meneruskan permainannya.

Dari game itu dia bisa belajar strategi untuk memenangkan game. Dia juga bisa belajar bahasa. Soalnya saat saya menulis judul gamenya dia membenarkan tulisan. 

"Ini digabung War dengan ship-nya," katanya. 

Saat itu saya menuliskan secara terpisah.

Bahkan dia beberapa kali ganti game. Namun, dia harus izin saya untuk menginstall game. Di saat itulah saya menyeleksi jenis game yang bagus untuknya. Kalau tidak berbahaya buatnya maka saya kasih izin. Tidak selamanya game itu buruk. Ada juga game yang bagus untuk anak-anak. Bahkan kalauu jadi profesional atau athlete enablement juga tidak salah. Dan ini sangat mungkin. Misalnya dengan memasukkan anak ke academy eSport Lead by IndiHome.

ESport bisa menjadi hal yang cerah prospeknya di masa depan. Apalagi dukungan teknologi yang semakin maju. Maka, eSport bisa menjadi skill yang mendatangkan kesuksesan. Bahkan bisa menjadi sebuah profesi.

Di dunia digital seperti sekarang ini banyak hal berubah. Termasuk dalam hal profesi atau cita-cita. Kalau dulu anak-anak ditanya tentang cita-citanya akan menjawab menjadi dokter, pegawai negeri, ilmuwan, dan lainnya.

Sekarang banyak jawabannya bukan itu saja. banyak anak-anak sekarang ini yang bercita-cita jadi conten creator, Youtuber, pegiat animasi, sukses di dunia film, dan lainnya.

Menjadi orang tua itu ibarat sekolah. Sekolah yang selalu belajar setiap hari. Namun, ujiannya setiap hari pula. Dan uniknya, tidak lulus-lulus sekolahnya.

Menjadi orang tua itu tidak mudah. Peran orang tua itu berat. Namun, tidak ada sekolah orang tua. Iya kan?

Karena itu kita bisa menciptakan ‘sekolah’ sendiri. Ya, sekolah tidak harus di ruang kelas seperti biasa. Seperti yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara, “Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru.”

Maka, dari rumah pun kita bisa belajar. Rumah, lapangan, kantor, bahkan tempat bermain bisa menjadi sekolah. Peran orang tua bisa dianggap sebagai sebuah tantangan kalau kita memaknainya sebagai sebuah kesempatan untuk mendidik dan mendapatkan pahala.


Mencegah Fatherless Country, IndiHome Andalan Saya Mencari Ilmu Parenting


Fatherless adalah istilah yang menggambarkan hilang atau berkurangnya peran dari ayah dalam proses pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Disebut fatherless bukan hanya karena kehadiran fisik seorang ayah tetapi juga secara kebersamaan dengan anak. Sosoknya ada tetapi seperti tidak ada.

Indonesia menempati urutan ketiga di dunia sebagai negara dengan anak-anak tanpa ayah (fatherless country) terbanyak.

Banyak sih faktor penyebab fatherless country ini. Salah satunya karena anggapan bahwa pengasuhan anak adalah kewajiban ibu, sementara kewajiban ayah adalah mencari nafkah untuk keluarga.


Padahal, kehadiran sosok ayah merupakan hal penting bagi anak. Bukan hanya untuk anak laki-laki tetapi juga anak perempuan. Apalagi pada periode golden age atau usia emas antara usia 7-14 tahun dan 8-15 tahun, sosok ayah sangat diperlukan. Bahkan ada ungkapan bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya.

Ayah, ayo hadir dalam pengasuhan anak. Ingat bahwa ada amanah besar yang kita emban. Amanah itu nanti kita pertanggungjawabkan. 

Mengasuh anak bukan hanya tugas isteri saja tetapi kita sebagai kepala rumah tangga. Mengasuh berdua, akan semakin berdampak. 

Karir bisa diulang. Mendidik anak? Jangan sampai gagal karena hanya sekali dalam hidup kita. Tidak bisa diulang!



Bukan berarti seorang ayah harus bisa menjadi superman atau superdad. Cukuplah jadi fatherman yang bisa meluangkan waktu bermain bersama anak, mendengarkan cerita anak, bertualang bersama, dan lainnya.

Jadi seorang ayah dan ibu harus berkolaborasi dalam hal mendidik anak. Jika ada ungkapan ibu adalah madrasah maka ayah adalah kepala madrasahnya.

Kegiatan keluarga naik kereta listrik untuk menguatkan rasa kekeluargaan (dokumentasi pribadi)

Lalu bagaimana jika seorang ayah tidak punya waktu banyak untuk sang anak? Saya pernah baca di internet ada seorang tokoh yang meminta istrinya menuliskan tentang anak di sebuah buku laporan. Selengkap-lengkapnya. Alur pertumbuhan dan perkembangan anak terdokumentasi jelas di laporan itu. Nah, saat dalam perjalanan tugas atau pekerjaan itulah sang ayah membaca dengan teliti buku laporan. Hasilnya, sang ayah tidak terlewatkan perkembangan sang anak meskipun jarang bertemu dengan anak.

Saat bertemu dengan anak, sang ayah bahkan tahu dan mampu menyebutkan siapa saja teman anaknya itu. Maka sang anak pun terkesan. Lalu timbullah cinta dan hormat kepada sang ayah. 


Permainan terbaik bagi anak adalah tubuh ayahnya. Begitu kata seorang pakar parenting, Elly Risman. 

Kalau tak punya waktu yang banyak, minimal waktu yang ada bisa dimaksimalkan menjalin kebersamaan dengan anak. Saat pulang kerja memang lelah. Namun, tidak ada salahnya merelakan anak bergayut manja di bahu ayah. Sisakan sedikit waktu untuk bermain bersama anak atau menggendong anak. Mudah-mudahan kebersamaan itu bisa menjadi momen berkesan dalam diri anak. 


Apa yang paling ditanamkan dalam mendidik anak? Nilai agama, budaya, dan pendidikan. 


Nilai agama yang dutanamkan  seperti melaksanakan kewajiban agama dalam kondisi apapun. Sejak kecil diajak untuk melaksanakan ibadah yang dianjurkan agama meskipun belum menjadi kewajibannya. Ibadah biasanya dilaksanakan ketika sudah tiba masa baligh atau dewasa. Namun dianjurkan juga untuk membiasakan sejak dini. Yang penting itu mereka tahu dan antusias melaksanakan ibadah. Mereka tidak dituntut bisa melaksanakan ibadah seperti orang dewasa. Jadi misalnya salah-salah sedikit ya tidak apa-apa. 

Ketika mudik anak-anak juga diajak untuk melaksanakan ibadah meskipun dalam perjalanan. Misalnya tetap melaksanakan ibadah salat. Pelaksanaannya dijamak qashar atau digabung dan diringkas. Bahkan diajarkan melaksanakan salat dengan kondisi darurat seperti tayamum dan salat di atas kendaraan. 

Nilai budaya yang diajarkan misalnya dengan memanggil dengan sapa hormat kepada orang yang lebih tua, minta izin permisi saat melintas di depan orang tua, tidak duduk di atas kursi saat ada orang yang lebih tua duduk lesehan, dan lainnya. Mereka diajari unggah-ungguh atau sopan santun seperti budaya kita.

Nilai pendidikan yang diajarkan bahwa pendidikan itu penting. Kita harus belajar untuk menyiapkan masa depan. 

Belajar tidak tidak harus di sekolah tetapi bisa di berbagai tempat. Jadi dalam kondisi apapun mereka harus punya semangat untuk belajar. Orang tua harus membuat anak antusias untuk menuntut ilmu. Yang penting adalah punya kemauan dan menjalani proses. Kalau masalah hasil itu bisa belakangan.

Ada beberapa orang yang harus dihormati yaitu orang yang lebih tua secara usia, orang yang lebih berpendidikan, dan orang yang lebih paham agama. 

Malahan kadang walaupun secara usia lebih mudah tapi harus memanggil dengan sapaan hormat misalnya kepada sepupu tuanya. 

Saya punya kakak, namanya Supriyati. Kakak saya punya anak, namanya Khaira, umurnya 2 tahun. Anak sulung saya meskipun usianya 7 tahun harus memanggil kakak atau mbak ke Khaira. Begitulah adat yang berlaku dalam masyarakat kita. Dan ini pula yang sedang keluarga kami terapkan. 

Saya juga mengajarkan empat kalimat sakti yang ringan tapi sering lupa dilakukan. Apa itu empat kalimat sakti?

Meminta maaf jika salah. Bilang permisi jika mau lewat. Minta tolong jika butuh bantuan. Bilang terima kasih jika diberi bantuan atau diberi sesuatu. 

Jadi bahkan kalau istri saya mengambilkan air untuk minum sesudah makan, saya pun mengucapkan terima kasih. 

Selain itu, saat memberi dan menerima juga dibiasakan untuk menggunakan tangan kanan. Pernah suatu waktu dia lupa menerima pakai tangan kanan. Tapi benda itu tidak saya kasihkan sampai dia sadar harus memakai tangan kanan.

Saat mudik kemarin, kami naik kapal laut.  Si sulung tidak sengaja menumpahkan mie gelas. Lantai pun basah dan kotor. 

"Ayah, mie-nya tumpah."

Seingat saya minyak sudah habis. Berarti saat habis tadi tidak langsung dibuang ke tong sampah.

"Memangnya nggak langsung dibuang kalau udah habis tadi, Mas?"

"Enggak. Tadi bingung buang ke mana?,"

"Tong sampah ada di belakang barisan kursi kita. Mas Jundi harus bertanggung jawab ayo diambil kotaknya juga plastiknya mienya nggak apa-apa deh kalau memang susah. Terus buang ke tong sampah di belakang sana."

Dia pun menuruti apa kata saya. Tidak cuma wadah mie gelas yang diambilnya tapi juga mie yang berserakan di atas lantai. Tangannya pun pasti kotor. Sebagai apresiasi atas yang dilakukan Mas Jundi, saya mengantarnya membuang sampah. Bahkan mengantarkannya cuci tangan di wastafel kamar mandi kapal.

Apakah jijik atau terpaksa melakukannya? Tergantung dari cara pandang dan edukasi kita sih.

"Mas, kalau kita membersihkannya, biar petugas nggak susah lagi membersihkan. Apalagi itu kan kesalahan kita, yuk bersihkan,"

"Ya udah," jawabnya. 

Membersihkan tumpahan mie gelas (dokumentasi pribadi)


Dari berbagai literatur saya membaca banyak anak atau siswa bermasalah, ternyata hubungannya dengan ayah atau orang tua juga bermasalah. 

Benar atau tidaknya literatur ini, kalau kita perhatikan lingkungan sekitar kita rasanya benar. Yup, anak-anak bermasalah berawal dari hubungan dengan orang tua yang bermasalah. Semakin banyak anak-anak bermasalah, akan menjadi masalah pula bagi bangsa kita. Sebaliknya, semakin banyak anak yang terdidik dengan baik, maka bangsa ini semakin punya banyak generasi yang bisa menjadi solusi bagi permasalahan bangsa.




Jadi jangan anggap remeh masalah pengasuhan anak. Peduli pada anak punya korelasi dalam memperbaiki kondisi bangsa. 

Sejak berlangganan IndiHome Februari 2020 saya semakin enjoy dalam dalam berbagai aktivitas parenting. Kalau di rumah saya ada tiga orang yang sangat membutuhkan akses internet stabil. Saya membutuhkan internet untuk mengajar daring. Istri saya juga begitu. Sementara anak saya lebih ke mengerjakan tugas-tugas dari sekolahnya maupun mendapatkan hiburan dari internet.

IndiHome sebagai salah satu produk dari PT. Telkom Indonesia dipercaya mampu menyediakan layanan digital berupa internet unlimited. Sejak berlangganan kapasitas 20 Mbps itulah kebutuhan internet untuk di rumah terpenuhi dengan maksimal.

IndiHome mengerti benar kebutuhan keluarga Indonesia. Sehingga saat ini masyarakat di berbagai pelosok Indonesia bisa menikmatinya.

Selama berlangganan itulah saya merasakan akses internet dari IndiHome begitu lancar dalam cuaca apapun. Ternyata hal ini bisa dimaklum sebab teknologi layanan digital IndiHome mengunakan teknologi serat optik.

Untuk kebutuhan internet secara individu, keluarga maupun instansi IndiHome menyediakan beberapa pilihan paket internet unlimited mulai dari Single Play, Dual Play dan Triple Play. Single Play menawarkan satu layanan yaitu internet dengan kecepatan hingga 300 Mbps sedangkan Dual Play terdiri dari Internet dan Telepon Rumah (Fixed Phone) dan juga Triple Play terdiri dari Internet, Telepon Rumah dan  TV Interaktif (Usee TV).




Dengan kebutuhan tiga orang di rumah tentu saja biaya langganan IndiHome lebih terjangkau. Pengeluaran keluarga menjadi semakin hemat. Dan yang terpenting saya bisa sebanyak-banyaknya mencari ilmu lewat layanan IndiHome sebagai internetnya Indonesia ini. 

IndiHome juga melayani keluhan pelanggan dengan cepat. Pelanggan bisa melapor dengan telepon ke 147 lalu kita akan dilayani dengan ramah. Saya dua kali melapor adanya gangguan internet. Pernah karena kabel putus lantaran ada pohon yang roboh. Gangguan ini selesai dalam waktu 2 jam saja. Gangguan kedua juga karena kabel power tidak tersambung. Gangguan ini selesai hanya 40 menit saja

IndiHome juga menyediakan inovasi berupa layanan Higher Speed Same Price (HSSP)  yaitu peningkatan kecepatan tanpa biaya tambahan (higher speed same price). Saya mendapatkan tambahan kecepatan dari 10 mbps menjadi 20 mbps. Tidak ada biaya tambahan untuk perubahan itu. Tagihan bulanan hanya bertambah Rp. 13.000 saja. 

Dukungan IndiHome untuk Keluarga Indonesia

Butuh fasilitas yang bisa mengakrabkan keluarga? IndiHome sebagai provider internet terbaik Indonesia punya paket internet untuk keluarga. Kita bisa memilih Paket 3P untuk mendapatkan koneksi internet cepat dan andal sekaligus bebas menikmati berbagai bonus yang disediakan. Bonus ini sangat bagus untuk dinikmati keluarga.

Sumber gambar : digitalbisa.id


Dengan berlangganan paket ini keluarga bebas akses berbagai saluran televisi populer serta bebas biaya nelpon 300 menit ke jaringan lokal dan interlokal. Ada lebih dari seratus channel televisi populer mancanegara yang bisa diakses full oleh pengguna yang berlangganan Paket 3P. IndiHome juga memberikan bebas akses ke aplikasi UseeTV GO.

Paket 3P dari IndiHome menawarkan tujuh pilihan kecepatan internet, yaitu: 

  1. Paket 3P Up To 20 Mbps
    Bisa digunakan untuk tiga hingga lima perangkat, cocok untuk keluarga kecil. Biaya berlangganan Rp375.000 per bulan. 
  2. Paket 3P Up To 30 Mbps 
    Bisa digunakan untuk lima hingga tujuh perangkat, cocok untuk keluarga kecil hingga menengah. Biaya berlangganan Rp450.000 per bulan. 
  3. Paket 3P Up To 40 Mbps 
    Bisa digunakan untuk tujuh hingga 10 perangkat berbeda sekaligus. Biaya berlangganannya adalah Rp525.000 per bulan. 
  4. Paket 3P Up To 50 Mbps
    Bisa digunakan untuk 10 sampai 12 perangkat berbeda. Biaya berlangganan Rp590.000 per bulan.
  5. Paket 3P Up To 100 Mbps 
    Bisa digunakan untuk 12 hingga 18 perangkat berbeda. Biaya berlangganan Rp945.000 per bulan.
  6. Paket 3P Up To 200 Mbps 
    Bisa digunakan untuk 18 hingga 25 perangkat. Biaya berlangganan Rp1.665.000 per bulan.
  7. Paket 3P Up To 300 Mbps 
    Bisa digunakan untuk 25 hingga 30 perangkat untuk kebutuhan skala menengah seperti cafĂ© kecil, warnet, dan sebagainya. Biaya berlangganan Rp2.655.000 per bulan. 

 Ada beberapa bonus yang bisa dipilih di antaranya:

  1. Bonus Movies untuk para pecinta film. Di dalamnya terdapat minipack IndiMovie 2.
  2. Bonus Kids untuk Anda yang ingin memberi tayangan untuk anak di rumah. Di dalamnya terdapat akses aplikasi IndiHome Study, CATCHPLAY+, dan minipack IndiKids Bright. 
  3. Bonus Gamers untuk Anda para gamers yang hobi bermain game online. Di dalamnya terdapat Cloud Storage 8 GB, Benefit Voucher Games, dan CATCHPLAY+ untuk para pecinta film.
  4. Bonus Music untuk Anda yang senang mendengarkan musik. Di dalamnya terdapat bebas akses aplikasi iKonser, Langit Musik (Gold), Wifi.id Seamless, serta CATCHPLAY+ untuk para pecinta film. 
  5. Bonus Entertainment untuk hiburan terbaik keluarga. Di dalamnya terdapat SVOD IndiBox, bebas akses aplikasi Iflix (VIP), dan upgrade STB Hybrid ATV. 

 

Berkat adanya teknologi fiber optik atau serat optik yang digunakan oleh IndiHome, kita bisa menikmati layanan internet berkecepatan tinggi yang tidak akan terpengaruh oleh cuaca. Teknologi fiber optik banyak digunakan, utamanya pada teknologi telekomunikasi, daring maupun tanpa daring. 

Internet telah menjadi bagian sehari-hari kita. Dengan teknologi fiber optik yang cepat, stabil, andal, dan canggih beragam manfaat yang kita dapat mulai dari parenting, olahraga, pendidikan, bisnis, pariwisata, dan lainnya. Internet fiber yang diusung IndiHome membuat kita semakin optimal dalam memanfaatkan internet.

Berbagai varian produk dan layanan IndiHome sangat mendukung kita melakukan kegiatan apapun. Kebutuhan apapun terfasilitasi dengan varian kecepatan yang beragam mulai dari 30 Mbps hingga 300 Mbps. Benar-benar terwujud seperti tagline IndiHome 'Aktivitas Tanpa Batas'.



Referensi Tulisan

https://indihome.co.id/

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210331171003-277-624531/fatherless-ketika-ayah-tak-hadir-di-kehidupan-anak

https://mommiesdaily.com/2014/07/03/pentingnya-keterlibatan-ayah-dalam-pengasuhan-anak/

https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-5884494/kaleidoskop-2021-inovasi-layanan--kontribusi-indihome-bagi-indonesia




27 comments for "Cegah Fatherless Country Bersama Internetnya Indonesia, IndiHome "

  1. zaman digital seperti saat ini harus didukung oleh internet, IndiHome sangat membantu sekali untuk semua aktivitas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Bu. Internetnya Indonesia IndiHome ini sangat membantu berbagai aktivitas. Saya jadi mudah dalam mencari ilmu tentang parenting

      Delete
  2. Ini artikel lengkap banget Mulai darii manfaat sampe, layanan Indihome
    Boleh nih buat pertmbangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak, Bu. Iya nih. Sudah lama menggunakan IndiHome. Banyak kemudahan yang dirasakan. Manfaat internet sangat banyak. Yuk gunakan untuk hal positif...

      Delete
  3. Sejak kecil sudah mengenal tekhnologi dan penggunaanya secara bijak. Saat sudah dewasa nanti, mereka akan jadi generasi millenial yang super melek digital dan tau banyak hal. Btw keren sih cara mengajarkan anak cara penggunaan gawai. Orang tua cerdas memang akan melahirkan generasi-generasi cerdas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Kang Amir. Bijak menggunakan banyak hal bisa kembali pula ke diri kita.

      Termasuk dalam penggunaan internet. Banyak kok manfaat internet yang bisa dimaksimalkan.

      Memang sih saat kecil perlu didampingi dulu oleh orang tua. Kalau pondasinya sudah terbentuk, insyaallah ke depannya lebih terjaga.

      Delete
  4. Terima kasih banyak Bu. Mari manfaatkan intenet untuk aktivitas tanpa batas kita.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah ada saja datangnya ilmu. Membaca dari Tulisan di atas adalah bagian dari gudangnya ilmu. Terimakasih mas Supadillah telah menulis yang sungguh bermanfaat khususnya untuk keluarga, sukses selalu mas. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan pada kita semua. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak, Pak sudah berkunjung. Mudah-mudahan silaturahmi ini membawa banyak berkah. Aamiin.

      Saat ini mencari ilmu begitu mudah ya Pak. Internet menyediakan banyak hal. Yuk manfaatkan untuk menambah kualitas diri kita. Alhamdulillah internet lancar dari IndiHome membawa banyak manfaat. Salah satunya bisa mencari sumber pengetahuan tentang parenting yang tersedia banyak di internet..

      Delete
  6. Ayah bijak, memanfaatkan internet dengan bijak

    ReplyDelete
  7. Terimakasih banyak Bu. Menyadari anak adalah amanah, harus benar-benar mendidiknya. Sekarang kalau mau memanfaatkan berbagai sumber, bisa dapat pengetahuan untuk menjadi orang tua.

    Internet memang banyak manfaatnya. Yuk. Manfaatkan untuk hal yang positif.

    ReplyDelete
  8. Luar biasa paparannya. Sangat menaambah wawasan pembaca ttg parenting dikaitkan dg peranan internet di dalamnya. Kereen Pak Padil..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak Ambu. Semoga dengan Internet ini kita semakin bertambah wawasan. Apapun profesinya bisa banget ditunjang oleh internet.

      Aku udah merasakan manfaatnya internet cepat dari IndiHome. Emang benar -benar terbantu.

      Delete
  9. Terimakasih banyak Ambu. Tulisan ini sekadar berbagai pengalaman memanfaatkan internet. Alhamdulillah banyak manfaatnya

    ReplyDelete
  10. Jaman sekarang kalau tidak ada internet tidak tau info apa - apa, indihome memang rekomendasi di tempatku banyak yang menggunakan indihome

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, mas. Dari internet bisa dapat banyak hal. Aku sih udah merasakan manfaatnya internet Indonesia yang sangat mumpuni untuk mencari wawasan tentang parenting.

      IndiHome sangat mendukung aktivitas tanpa batas kita ..

      Delete
    2. Terimakasih banyak sudah berkunjung

      Delete
  11. Memang bebar pak..di jajan sekarang ini kita tidak busa leoas dari internet, Internet mudah bersama indihome salah satu solusinya agar kebutuhan internet kita bersama keluarga bisa terpenuhi. Dampingi anak dalam berinternet. Daan amazing Pak padil sudah menjadi Ayah yang hebat untuk sang buah hati. Sukses selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak, Bu. Internet jadi keseharian kita. Alangkah baiknya digunakan untuk memacu wawasan kita.

      Apapun profesinya bisa banget memanfaatkan informasi yang ada di internet untuk semakin meningkatkan diri. Untungnya, IndiHome menyediakan internet cepat yang memenuhi kebutuhan kita. Jadinya sat set kalau mau browsing.

      Delete
  12. Wah...luar biasa, sangat inspiratif, ceritanya sangat bermanfaat. Mas Jundi hebat...bisa diatur main Hp. Mantap...tetap semangat. Biar jadi Ronaldo beneran ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, pengaturan maen hape bisa dilakukan kesepakatan. Untuk hal yang bermanfaat, saya mendukung. Bahkan internet ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan wawasan.

      Kalau searching yang bagus untuk investasi ilmu, saya mendukung, Bu. Untungnya internet lancar dari IndiHome sangat mendukung untuk kegiatan anak.

      Terimakasih sudah berkunjung, Bu..

      Delete
  13. Fatherless, adanya ayah seperti tidak ada, fenomena yang belakangan menjadi kekhawatiran, peran pengasuhan dari ayah yang tidak maksimal. ditambah pengaruh gadget. jadi orang tua saat ini harus terus belajar parenting dengan seimbang seiring perkembangan zaman

    ReplyDelete
  14. Sebuah cerita yang inspiratif dari sosok Ayah dan pendidik yang inspiratif. Selalu kagum sama cikgu Padil. Urusan parenting emang harus maksimal dari dua sisi yah, Ayah dan Ibu. Pelajaran keren buat aku yang lagi cari jodoh hahaha

    ReplyDelete
  15. artikelnya lengkap banget bapak, mulai dari contoh nyata kehidupan sehari-hari hingga manfaat dan kelebihan IndiHome, salut, terima kaish sharing ilmunya, jadi belajar banyak saya

    ReplyDelete
  16. Benar sekali Pak Guru, internet, smartphone memang tidak bisa steril, tugasnya orang tualah yang mengedukasi anak-anak agar bisa memilah mana yang positif dan mana negatif. Inilah tantangan para orang tua, terlebih lagi ilmu parenting merupakan ilmu yang tidak ada habisnya, bahkan sangat dinamis sesuai kemajuan zaman serta teknologinya.

    ReplyDelete
  17. Sangat inspiratif, ternyata begini cara memanfaatkan internet untuk pendidikan. Ternyata enggak selalu negatif ya? Kalau orang tuanya tahu gimana manfaatin internet maka akan gede banget manfaatnya untuk pendidikan anak.

    ReplyDelete
  18. Semoga Indihome segera hadir di desa saya. Kebutuhan internet di sini sangat tinggi, tapi belum ada akses untuk memiliki WiFi di rumah.

    ReplyDelete