Sesudah shalat Isya, pengurus DKM mengajak untuk membuka kotak amal di musola. Saya pulang ke rumah. Mengajak anak-anak ke musola. 


"Mau ikut nggak? Ayah mau bongkar kotak amal di musola terus ngitung uangnya,"


"Mau," jawab mas Jundi. 


"Ikut, ikut.." kata adiknya. 


Ini adalah pengalaman baru buat mereka. Makanya penasaran dengan kegiatan ini. Sesampainya di sana ada dua pengurus DKM. Ada pak Agus dan Pak Iim. 


Pak Iim membawa kunci kotak amal. Kemudian membuka gemboknya. Mengeluarkan isi di dalamnya. Mas Jundi ikutan mengeluarkan uang. 


"Ambil yang bagus aja. Kalau uangnya jelek, taruh aja di dalam kotaknya. Yang koin juga jangan diambil. Nanti aja," arah Pak Iim. 


Mas Jundi mengikuti instruksi dari Pak Iim. Adiknya masih menonton saja. 


"Begini, Dek. Uangnya dilurus-lurusin. Dirapihkan. Ntar diletakkan sesuai angkanya. Ikuti saja Ayah," kata saya. 


Adik Firaz memang merapihkan uangnya tapi malah dilipat jadi dua bagian. Nggak diluruskan. Tapi nggak papalah. Yang penting dia ikut merapihkan. 


Biasanya kegiatan seperti ini dilakukan setiap dua bulan sekali. Nggak harus nunggu penuh. Khawatir malah disikat sama pencuri. Maling memang nggak tahu tempat. Di tempat ibadah juga bisa disikat.


Tak ingin kejadiannya menimpa mushola kami DKM mushola secara rutin menguras kotak amal. 


Asik merapikan uang ketua DKM menyuruh anak-anak beli kopi untuk bapak-bapak. 


"Beli kopinya tiga satu pahit, dua sedang.  Bilang aja gitu sama orang warungnya. Nih kalian 2000-an buat jajan," katanya. 


Tentu saja anak-anak senang. Nggak ngira kalau dapat jajan dari ikut merapikan uang. 


Bapak-bapaknya ada tiga. Maka kopinya pun tiga. Anak-anak ada 3 masing-masing dapat 2000-an untuk jajan. 


Tidak berapa lama kopi datang. Anak-anak masih masih datang lagi ke mushola. 


Ada Rp 50.000-an, ada 20 ribuan, ada 10 ribuan, ada 5 ribuan dan seribuan. Lebih dari 600.000 uang terkumpul dari kotak amal. Tidak berapa lama ada seorang warga yang lewat mushola tiba-tiba berhenti. 


"Pak, bisa tukar uang kecil?"


"Ya bisa aja Pak. mau berapa?"


"300 ribuan saja Pak."


Tadi malam saya seperti nostalgia. Ketika aku lihat dulu saya juga sering menghitung uang kotak infak. Meskipun bukan pengurus DKM. Niat saya membantu pengurus DKM supaya tugasnya lekas selesai. 



Anak-anak mendapatkan pengalaman yang berharga. Tentu harus ditegaskan bahwa yang mereka lakukan bukan untuk mendapatkan imbalan. 


"Kalau dikasih ya diterima. Kalau nggak dikasih jangan minta-minta," kata Mas Jundi. Sepertinya dia juga sudah hafal apa yang saya katakan beberapa waktu lalu. 


Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post