Saya dan istri terkejut mendapati punggung si bungsu memar-memar. Ada barutan banyak. Sudah mengering. Pertanda sudah lama. 


Istri langsung menginterogasi. Katanya sewaktu di musola. Dia ditarik-tarik sama temannya. Tidur di karpet lalu kakinya ditarik. 


"Kenapa nggak bilang?"


"Nggak sakit kok Bun. Sakit dikit tapi ditahan."


Walah, ternyata sakit. Cuma ditahan. Makanya nggak ngeluh. Biasanya memang mandi sendiri. Alhamdulillah sudah mandiri. Makanya waktu buka baju nggak ketahuan juga. 


Saya segera cari minyak but-but. Minyak yang biasa dipakai kalau keseleo, digigit nyamuk, atau lainnya. 


Saya suruh tiduran tengkurap. Lalu saya baluri punggungnya. Ada enam titik barutan. Sudah menghitam gitu. Sepertinya sudah mau sembuh. Kami terlambat tahu. 


Saya pikir tak harus marah ke si bungsu atau kakaknya atau teman yang narik. Apalagi ia yang minta. Ya nggak mungkin melabrak temannya. 


Lagian saya ingat waktu saya kecil juga begitu. Hehe.. jadi cerminanlah. Ayahnya dulu begitu, anaknya pun begitu. Hampir tak ada kecemasan atau kemarahan. Lha gimana... Itu pernah saya alami. 


Btw, saat udah keringnya, jadi seperti ini. 




Kalau anak luka atau sakit kita tak bisa menyalahkan temannya. Ibaratnya itu resiko bermain. Apalagi kalau kejadian itu ada andil dari anak kita sendiri. Tapi kalau kesalahan anak orang? Paling bisa mungkin kita nasehati. Itu pun dalam rangka pembelajaran kepadanya. Ya mudah-mudahan bisa lebih hati-hati kalau bermain. 



Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post