"Indonesia mengalami penyakit fatherless dan father hunger," kata Ayah Lilo di kegiatan Sabtu, 13 Agustus 2022. Wah, maksudnya apa ya fatherless dan father hunger ini? Kan jadi PENASARAN. Hehe...

Acaranya adalah pertemuan orang tua sekolah ilalang. Keren lho acaranya. Biasanya acara sekolah mengundang orang tua itu kan yang datang didominasi ibu-ibu. Lha tadi itu yang hadir itu bapak-bapak. 100 persen bapack-bapack! 

Apakah ini merupakan pembuktian
 pesulap merah urusan pendidikan anak bukan hanya urusan ibu-ibu? 

Ayah Lilo tadi menyampaikan bahwa Fatherless adalah kondisi ketiadaan ayah, sebenarnya secara fisik sosok ayah ada, tapi secara psikologis ayah tidak ada. Anak tak merasakan kehadiran ayah. 

Sementara, father hunger atau kondisi lapar ayah adalah ketidakhadiran sosok ayah baik fisik maupun psikologis. 


Padahal, sosok ayah adalah ujung tombak 
Pendidikan keluarga. Ayah yang paling berperan dalam pendidikan anak. Kalau ada pepatah ibu adalah madrasah bagi rumah maka ayah adalah kepala sekolahnya. 

Dampak Ketidakhadiran Sosok Ayah

Akibat kalau ayah tidak hadir dalam pendidikan anak di antaranya:

  • Pendidikan anak menjadi tidak punya visi
  • Bunda tidak punya tempat curhat
  • Anak mudah terpengaruh
  • Anak tak punya individualitas
  • Anak terlambat dewasa
  • Anak yang anti terhadap ajaran agama

Ayah Harus Tega


Ayah harus jadi sosok tega. Ayah itu raja tega. Agar anaknya berani atau bisa melakukan sesuatu ayahlah yang biasanya lebih tega. 

Ayah dan bunda harus saling membantu agar anak menjadikan Ayah dan Bundanya sebagai idola. Caranya? Sering memuji dan menceritakan kehebatan Ayah dan Bunda. 

Dalam  Al Qur'an terdapat  14 ayat tentang peran pendidikan Ayah terhadap anak. Ini membuktikan bahwa dalam Islam Ayah punya peran yang besar. 

Maka, ayah harus terlibat dalam pendidikan anak. Ayah harus menyediakan waktu untuk anak walaupun pulang dari kerja. 

Ayah Lilo ini bilang kalau selesai kerja, dia tidak langsung pulang tetapi istirahat dulu menyiapkan 1-2 jam untuk menghadapi drama atau keluhan anak di rumah. 




Seorang ayah juga harus punya visi. Mengapa ayah harus bervisi? Karena akan ada saja kendala dan problem. Bervisi itu bisa meminimalkan pertengkaran.

Karena kita punya visi misi besar maka hal remeh remeh harus kita singkirkan. Jadi nggak harus jadi pertengkaran kalau ada handuk basah di atas kasur. Jangan sampai jadi berantem kalau ada sepatu nggak ditempatkan di rak sepatu. 

'Kalau beda pendapat dan mau bertengkar, ingat kita punya tujuan yang lebih besar" jelasnya. 

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post