Sebagai guru saya pengen siswa punya budaya literasi. Senang sekali kalau ada siswa yang suka baca apalagi menulis. Tapi, kalau saya cuma menyuruh saja, nggak akan didengar. Saya harus ngasih contoh dulu. Saya harus bisa membuktikan kalau siapa pun bisa menulis.

Guru iku conto sing di gugu

Guru iku conto sing ditiru

Jula-Juli Guru (Jogja Hip Hop Foundation)

Lalu saya pasang tekad harus tembus tulisan di koran.


Dengan percaya diri saya mulai membuat kerangka tulisan. Tema yang pas dengan profesi saya sebagai guru. Meskipun tema itu dekat benar dengan kehidupan saya tetap saja terasa gampang-gampang susah. 

Sempat menyerah karena sulitnya merampungkan tulisan tetapi selalu ingat, kalau tidak juga berhasil menulis di koran, bagaimana saya bisa mengajak siswa menulis?

Akhirnya setelah empat hari tulisan pun jadi. Saya kirim ke redaksi koran lokal lewat email saja. Besoknya saya ke loper koran di perempatan rumah. Deg-degan penuh harap tulisan saya nongol di koran. 

Saat menyentuh koran, jantung semakin berdegup kencang. Tapi setelah melihat kolom opini, saya kecewa. Zonk! Tulisan tidak ada. Saya kembali dengan tangan kosong. Hari itu saya keluar uang untuk beli koran. Harganya Rp. 4.000. Meskipun nominalnya tidak seberapa, tapi bagi guru honor seperti terasa lumayan.

Dua hari tulisan saya belum dimuat. Bahkan sampai lima hari begitu saja. Berhari-hari saya kecewa. Dompet semakin menipis. Hari keenam saya putuskan tidak beli koran tetapi numpang baca di kantor sebuah organisasi masyarakat. 

Saya pikir kantor itu langganan koran. Sewaktu saya ke sana, dua koran terlipat rapi. Sepertinya belum disentuh.

"Pak, punten, boleh saya numpang baca koran? Saya mengirim tulisan. Jadi mau cek dimuat atau tidak," tanya saya. 

"Ambil aja, Kang" 

"Terima kasih, Pak."

Setengah optimis, setengah pesimis saya terus buka lembar demi lembar. Saya langsung menuju ke kolom opini. Dua opini bukan milik saya. Kecewa luar biasa. Tapi saya tidak kapok atau menyerah. 

Lalu hari berikutnya saya ke sana lagi. Dengan memasang muka tebal menahan malu saya permisi kepada bapak-bapak di sana.

Saya hampir berteriak senang. Kali ini penantian saya tidak sia-sia. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tulisan saya terbit!

Lagi-lagi dengan muka tebal saya minta ke pengurus partai itu, untuk meminta koran edisi hari itu. 

"Karena ada tulisan saya di koran itu, boleh saya minta korannya, Pak?" pinta saya. 

"Boleh. Ambil saja, Kang" jawabnya. 

Itulah bentuk perjuangan saya pertama kali menembus koran. Saat itu tahun 2017. Opini saya dimuat di koran daerah. Bagi saya itu sebuah prestasi luar biasa.

Koran itu saya bawa ke sekolah. Dikabarkan ke kepala sekolah. Beliau memuji dan mengapresiasi. Difotonya koran itu. Dikirim ke grup guru. Banyak guru yang mengucapkan selamat. Saya terharu. Teringat perjuangan untuk menerbitkan tulisan itu. Mulai dari korban tenaga, pikiran, hingga uang.


Apresiasi itu membuat saya semangat lagi untuk menulis. Kali ini saya berhasil mengompori kepala sekolah untuk langganan koran. Ada udang di balik batu; supaya saya tidak repot ke loper koran atau ke kantor ormas untuk cek tulisan. Terutama agar saya tidak perlu keluar uang. 

Memang kita harus mengecek sendiri tulisan itu. Sebab tidak semua media yang mengabari kalau naskah dimuat atau tidak.

Setelah itu, beberapa tulisan saya dimuat lagi. Temanya ringan saja. Tentang pendidikan atau sosial. Sebenarnya ada honor kalau dimuat. Tapi harus mengambil ke kantor redaksi. Perjalanan dari rumah saya ke kantor redaksi itu dua jam. Luar biasanya jauhnya. 

Senang sekali kalau dimuat di koran. Tulisan itu saya kliping. Digunting dengan rapi. Saya lem di kertas kosong. Mungkin suatu saat dibutuhkan.


Beberapa tulisan saya yang dimuat di koran

Ada banyak tulisan saya yang dimuat. Lebih banyak lagi tulisan yang ditolak. Saya segera mengajak siswa dan guru untuk mulai menulis dan berani mengirimkan ke koran. Kalau ke kelas saya sering membawa tulisan. Memamerkan foto saya yang nampang di koran.

"Wah, kok bisa, Pak?"

"Gimana caranya pak biar masuk koran?" tanya mereka.

Ada satu dua yang kelihatan tertarik menulis juga. Terutama anak-anak putri. Ada yang sudah berkonsultasi mengenai tema, membuat kalimat pembuka tulisan, dan bertanya honor. Saya pun dengan senang hati menjelaskannya.


Hingga satu bulan kemudian masih belum ada yang selesai menulis satu tulisan. Tidak apa-apa, saya terus menunggu. Sambil menunggu, saya terus menulis. Kalau tulisan dimuat, saya pamerkan kepada siswa dan guru di sekolah. Motivasinya apa? Supaya mereka tertarik juga menulis di koran.


Saya terus menulis meskipun ada yang tertarik atau tidak. Walaupun ada honornya atau tidak. Eh, suatu ketika, saya ketiban rezeki.

Bulan Mei 2018 ada informasi lomba artikel jurnalistik yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Salah satunya ada kategori guru. Syarat lombanya karya harus dimuat di media. Lalu saya mendaftarkan salah satu tulisan saya berjudul Ketika Guru Mendengar. Ini adalah pertama kali saya ikut lomba sebagai guru.

Tidak disangka karya saya terpilih menjadi juara 2. Alhamdulillah diundang oleh menteri pendidikan dan kebudayaan Prof. Muhadjir Effendy di gedung A Kemendikbud. Hadiahnya? Lumayan! Bisa untuk beli laptop, lho. Bahkan masih bisa juga untuk mendaftar kuliah magister. Ya, dengan uang hadiah itulah saya mendaftar kuliah S2.

Saat penyerahan hadiah di Kemdikbud pada 2018

 

Saya dan karya yang meraih juara 2 lomba artikel jurnalistik Kemdikbud

 

Saya semakin termotivasi dan mengompori teman-teman guru agar menulis di koran. Dengan senang hati berbagi pengalaman. Kalau tulisan saya dimuat, saya membagikannya ke media sosial. Agar lebih banyak lagi yang membaca tulisan saya, membaca yang saya sampaikan lewat tulisan. 

Akhirnya 'provokasi' ini berhasil. Virus menulis tersebar semakin luas. Satu dua guru tertarik menulis di koran. Ada juga siswa yang karyanya dimuat di koran. Bahkan kepala sekolah hingga ketua yayasan juga! Wah, senengnya... Satu lagi, ada karya pegawai tata usaha (TU) juga.

Karya ketua yayasan dan kepala sekolah


Seingat saya beliau mengakui sebelumnya tidak pernah menulis atau karyanya dimuat di koran. Saya sih hanya sebagai provokator. Tetap tergantung mereka mau nulis atau tidaknya.

Karya siswa dan tata usaha di koran


Eh, iya. Kepala dapur di sekolah kami juga ikut menulis, lho. Nggak nyangka. Dulu sih ngajak siswa dan guru. Eh tapi sampai dapur pula virus menulis tersebar. 

 


Dari Koran Ke Blog

Semakin hari persaingan menulis di koran semakin ketat. Koran juga mulai mengurangi kolom untuk penulis. Kesempatan pun semakin menipis. 

Agar tulisan tidak mubazir, tulisan-tulisan yang tidak dimuat di koran itu saya posting di blog. Kalau di blog, pasti dimuat karena medianya punya sendiri. Hehe .. Jadi tulisan nggak ada mubazirnya. 

Sebetulnya saya sudah lama punya blog. Ya, sejak 2007 lalu saya sudah membuat blog. Sewaktu teman-teman kuliah membuat Friendster, saya malah membat blog. Eaa...ketahuan ya udah tua. Hehe... 

Tapi baru sebatas nulis sembarangan. Saya memposting apa saja. Kadang cerita saat kuliah, reportase kegiatan organisasi, atau artikel ringan lainnya. Saya kurang mahir mengelolanya. Jadi banyak kekurangannya. Masih sembarangan. 

Misalnya ada yang tidak pakai thumbail, tidak pakai judul, tampilan seadanya, template gratisan, dan domain gratisan pula. 

 

Saya mulai ikut beli domain berbayar di tahun 2019. Itu pun karena ada lomba blog yang diadakan Bang Nodi. Para blogger yang sering ikut lomba kemungkinan besar mengenal beliau. 

Meskipun sama-sama membuat tulisan, antara koran dan blog itu berbeda. Bermodal berani saya ikut kompetisi itu. Maka hasilnya pun sepadan dengan persiapan. Saya ada di urutan 72 dari 438 peserta.

Tapi saya tak patah arang. Saya terus aktif menulis di blog. Pengalaman saya menulis di koran. Saat beralih ke blog, agak sedikit beda. Saat itu tulisannya masih kaku. Tapi saya rajin nulis terus. Sekalian mengajak siswa dan guru di sekolah agar menulis juga. Memang tidak mudah. Tidak juga langsung tertarik menulis. Ada satu dua yang tertarik dan minta diajari. 

Awalnya hanya 2 siswa di kelas blogger


Lalu saya inisiatif mengusulkan ekstrakurikuler blog. Ya, sekolah kami punya kelas blog. Sekarang pesertanya bertambah banyak. Mereka cukup antusias dengan kelas blog.

Siswa mempelajari dasar-dasar blog seperti membuat blog, memposting tulisan, mempercantik blog, memasang link URL, dan sebagainya. Seringkali mereka menulis kegiatan sekolah. Mereka pun belajar tentang jurnalistik. Karena ngeblog dengan menulis itu sejalan.

Semakin hari semakin banyak yang ikut kelas. Kegiatannya setiap hari Selasa. Durasinya ditambah kalau sedang ada lomba. Kadang belajar di laboratorium komputer, kadang belajar di luar ruangan. Saya salut sekali di usia mereka sudah punya blog. Padahal saya dulu waktu kuliah baru punya blog. 

Kelas blogger yang pesertanya semakin banyak

 

 Dapat Laptop dan Hadiah Dari Lomba Blog

Tahun 2020 saat pandemi saya semakin lama di depan laptop. Saya bergabung di komunitas blogger. Di sana sering ada informasi lomba blog. Saya ikut lomba yang diadakan oleh ASUS yang berakhir pada 15 Januari 2021. Jadwal pengumuman pada 29 Januari 2021.

Luar biasa. Panitia begitu disiplin dengan jadwal yang dibuat. Begitu dijadwalkan 29 Januari pengumuman, bener-benar di tanggal tersebut diumumkan. Dan saat pengumuman, alhamdulillah saya dapat juara 5. Dapat Laptop ASUS E410. Saat itu saya sedang menantikan pengumuman bareng istri, seketika berpelukan. Sambil mengucap hamdalah berulang kali.

Hadiah dan sertifikat lomba blog



Berbagi Ilmu Kepada Sesama Guru

Pertengahan Juli 2022 lalu saya diminta menjadi narasumber oleh LPMP Banten dengan tema ngeblog mencerdaskan. Kegiatan ini dilakukan secara daring via zoom meeting

Saya kaget. Undangan itu dari lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP). Sebuah instansi penting di ranah pendidikan. Selain itu, jumlah audien yang mencapai 1000 orang. Meskipun daring, saya gugup juga kalau dilihat orang sebanyak itu.



Menjadi pembicara dalam kegiatan LPMP Provinsi Banten

 

Ada pesan selanjutnya yang membuat saya semringah. “Saya minta CV, No NPWP dan NO Rekening ya Pak. Buat SPJ Keuangan.”

Sudah bisa ditebak buat apa ya nomor rekening itu? Dan tak berapa lama setelah acara, ada transferan sejumlah uang di rekening saya. Jumlahnya lumayan. Bisa untuk mentraktir anak dan istri serta beli beras juga.

Blog merupakan media yang paling mudah untuk menjadi penulis. Mengapa? Kalau di koran, bisa ada kurasi. Editor akan menyeleksi tulisan yang tepat dengan tema dan visi misi media. Kalau tidak sesuai, maka tulisan kita bakal tersingkir.

Tapi kalau di blog maka tulisan kita pasti dimuat. Sebab kita sendiri editornya. Bahkan, kita juga pemilik medianya. So, yuk jadi blogger. Ada banyak momen bangga menjadi blogger. 

Salah satunya yang membuat bangga itu kalau banyak pembacanya. 

Saya pernah menulis tentang kontrak belajar daring. Ini buat siswa saya. Tidak banyak. Hanya 34 siswa. Jadi awal posting itu pembacanya hanya 34 viewers. Satu dua bulan kemudian hanya 34 viewers. Ternyata, satu tahun kemudian, pembacanya 5063. Seneng dong kalau tulisan kita bermanfaat bagi orang lain. Saat ini, artikel itu telah 5460 kali tampil.

 

Dari Blog Profil Saya Tampil Di Media Nasional

Tidak terbayangkan sebelumnya kalau saya bisa nongol di media nasional. Media besar pula. Kalau bukan dari ngeblog mana mungkin saya bisa.

 Tahun 2021 saya mengikuti lomba IndiHome Blogger Days 2021. Temanya tentang Peran IndiHome Membangun Kedaulatan Digital Indonesia. Alhamdulillah, saya meraih juara 2. 



Beberapa waktu kemudian seorang teman meminta izin untuk mengangkat profil saya. Terutama peran guru dalam memanfaatkan internet untuk menumbuhkan budaya literasi dan menggunakan internet untuk pendidikan. Saya diminta mengirimkan beberapa foto terbaik untuk dikirim ke media. 

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 22 Juli 2022 saya menemukan ulasannya di media. Tingkat nasional pula gimana nggak senang tuh? Hehe... 

 


 

Atas muatan ini pun saya mendapatkan apresiasi yang banyak dari teman.

Wow ... selamat Pak Guru. Baarakallahu fiik. 👍

Wihhh, kerennyaaa 😍
Selamat Pakk

Salah satu real hero dunia pendidikan, selamat Mas @Supadilah

Keren pak guruuu 👍🏻❤‍🔥

 

wah selamat ya mas Supadilah.
sekarang kalau ditanya, siapa sih Supadilah, tinggal bilang ajaaaa coba googling keyword "DEAR Supadilah" 🤭

Keren. Semoga makin menebar berkah pak Guru @Supadilah 


Anak dari pelosok daerah transmigrasi itu sekarang sudah dikenal nasional. Tidak terbayangkan sebelumnya. Kalaulah bukan karena blog....

Terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu pemuatan profil saya. Terutama IndiHome dan Telkom Indonesia sebagai pihak yang paling berperan dalam pemuatan profil saya itu. Mudah-mudahan Allah membalasnya dengan balasan yang baik.  Juga teman-teman blogger yang punya andil besar dalam memotivasi saya konsisten jadi blogger. Nah, ngeblog itu banyak benefit-nya, lho

Jadi berkolaborasi dan silaturahmi itu banyak manfaatnya serta banyak rezekinya salah satunya ya seperti ini.

 


Pompa Semangat Ngeblog



Ada banyak blogger hilang semangat mengurus blognya. Menurut saya ini wajar. Hey, aktivitas apapun punya kecenderungan bosan, benar? Termasuk ngeblog. Apalagi, ngeblog itu kan identik dengan menulis. Menulis itu pekerjaan yang gampang-gampang mudah. Aktivitas yang menguras energi menguras pikiran. Wajar kalau kadang ketemu kesulitan yang membuat lemah semangat. 

Memulai itu gampang. Konsisten itu yang menantang.

Selain itu, semangat ngeblog bisa turun karena dua hal.

  • Sedikit pengunjung
  • Sepi komentar

Biasanya dua hal di atas. Eits, tapi jangan menyerah. Yakinlah setiap hobi yang ditekuni akan menghasilkan. Selain itu, kita harus temukan cara biar terus semangat ngeblog.

Biar semangat ngeblog, sebaiknya Anda bergabung di komunitas blog. Kita bisa saling belajar tentang blog. Selain itu, biasanya ada di komunitas blog ada blog walking. Para bloger saling berkunjung dan meninggalkan jejak berupa komentar. Nah, pembaca atau pengunjung blog kita pun bertambah.

Nggak cuma itu saja, dengan blog walking, blog kita pun semakin interaktif. Biasanya dalam program blog walking itu kan saling berkunjung dan berkomentar. Kalau blog kita ada yang berkomentar biasanya membuat kita semakin semangat menulis. Yakin deh!

Komunitas blogger juga biasanya juga ada grup WhatsApp. Nah, di sana kita bisa saling belajar. Saling mengoreksi dan berbagi ilmu tentang blog. Percayalah, ilmu tentang blog kita bakal semakin meningkat.

Saya bergabung di tiga komunitas blogger. Ada grup Cakrawala Blogger Guru Nasional atau Lagurenal (187 anggota), ada grup Sejuta Guru Ngeblog (246 anggota) dan Blog Walking Asyik (BWA).

Banyak nian komunitas blogger yang bisa memacu semangat ngeblog. Salah satunya adalah Komunitas Bloggercrony yang  berdiri pada 24 Feb 2015. Ada banyak manfaat bagi Blogger Indonesia gabung di komunitas Bloggercrony Indonesia.

Komunitas Bloggercrony memfasilitasi blogger Indonesia mengembangkan kualitas dirinya, membangun jejaring positif, meningkatkan produktivitas dengan menciptakan tulisan/konten yang informatif, bermanfaat dan inspiratif, serta berdaya mandiri dan profesional.

Bloggercrony bakal mendapat banyak wawasan tentang dunia blog dengan berbagai kegiatan dan programnya. Lewat postingan di instagram Komunitas Bloggercrony Indonesia saya sering dapat wawasan tentang blog.

Zaman sekarang ini kalau mau mau memang harus berkolaborasi. Tidak bisa jalan sendiri. Ini juga mungkin yang membuat blog saya dulu stagnan. Lebih dari sepuluh tahun lho saya ngeblog asal-asalan.

Kondisi blog pun apa adanya. Jarang sekali ada komentar di postingan artikel. Yang berkunjung pun hanya satu dua. Apatah lagi jadi page one di mesin pencarian. Wah, ngimpi banget, lah. Kalau sekarang ya sudah mendingan. Sudah membaik jumlah pengunjungnya. Meskipun media sosial semakin punya banyak pilihan, blog tetap punya tempat yang tidak tergantikan. 

Jadi guru blogger punya tantangan tersendiri. Di tengah kesibukan guru mengerjakan tugasnya, guru harus benar-benar mengatur waktu untuk mengurus blog. Belum lagi misalnya ada kebijakan baru dari pemerintah yang bakal 'merepotkan' guru. Ikut seminar, pelatihan, mempelajari kebijakan dan lainnya tentu bukan perkara mudah. Namun, dengan semangat dan manajemen waktu yang bagus saya rasa tetap bisa sejalan antara pekerjaan sebagai guru dan mengelola blog.

Kita juga bisa belajar dari blogger lain yang banyak kesibukannya tapi tetap aktif mengelola blog. Bergabung  dengan Komunitas Bloggercrony Indonesia  untuk dapatkan inspirasi dari blogger Indonesia lainnya.

Yuk segera  kepoin media sosial Komunitas Bloggercrony Indonesia di Instagram @bloggercrony dan Twitter @bloggercrony




#BanggaJadiBlogger



10 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Replies
    1. Terimakasih banyak Bu. Makasih sudah silaturahmi

      Delete
  2. Menjadi blogger itu mengasyikkan. Apalagi ditekuni, pasti mendatangkan cuan. Besar kecil bukan hitungan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat Pak D. Saya meneladani Pak D juga nih. Sudah sepuh tapi semangat untuk ngeblog

      Delete
  3. Saya pun bangga jadi blogger. Memang betul, konsisten ngeblog lebih sulit daripada mulai bikin blognya. Keren banget, sampai murid-murid pun banyak tertarik ngeblog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, dari cerita gurunya, ada juga yang tertarik. Akhirnya diresmikan jadi kelas blogger. Mudah-mudahan lancar deh kelasnya. Aamiin

      Delete
  4. saya juga bangga jadi blogger pak, ternyata seru ngeblog itu, saat ini sedang berjuang untuk konsisten membuat konten dan memperbaiki konten, bismillah semoga dimudahkan
    terima kasih pak telah menginspirasi, selalu suka dengan tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat kak. Seru ya jadi blogger. Banyak asyiknya. Kadang ada yang bikin deg-degan. Pas DL lomba atau BW ya kak.

      Mudah-mudahan konsisten ngeblog.

      Delete
  5. semangat pak Supadilah luar biasa
    jadi kangen nulis buat rubrik di koran, dulu aku suka kirim tulisan ke koran, bisa dibilang tulisan kritis. Sekarang mau nulis yang kritis-kritis kok jadi molor, aku udah pesimis soal sudut pandang aku sama hal lain yang mungkin nantinya ga sesuai sama orang lain
    padahal memberikan ide atau pendapat bebas bebas aja di negara ini

    semangat terus ngeblognya pak

    ReplyDelete
  6. Wah, muantap nih perjuangan sekaligus pengalamannya, Pak Guru. Hal yang saya garis bawahi yaitu konsisten. Konsisten nulis memang butuh mental fighter, apalagi pekerjaan utama betul-betul selalu under pressure, jadi kadangkala sangat sulit untuk fokus nulis. Semoga kedepannya bisa lebih konsisten lagi terhadap blog plan yang telah dibuat.

    ReplyDelete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post