Dua orang anak seusia kelas 2 atau 3 sekolah dasar malu-malu masuk ke warung waralaba. Mereka datang berdua. Awalnya satu saja yang masuk, satu lagi hanya berhenti sampai di pintu masuk. Satu orang tadi hampir sampai di kasir.

Tahu kalau temannya belum masuk, dia keluar lagi. Mungkin dia tidak berani sendirian. Akhirnya keduanya masuk. Sesampainya di depan kasir mereka menyebut merk rokok. Setelah itu bertanya berapa harganya.

Lalu salah seorang dari mereka mengambil uang dari saku celana. Dengan malu-malu pula. Kenapa malu-malu? Ternyata karena uangnya receh semua. Terdengar bunyi kerincingan saat dia merogoh uang. Lalu disodorkan ke kasir.

Saya pun menyeletuk,

"Wah, beli rokok buat siapa, Dek?"

Ternyata celetukan saya tidak mereka jawab. Malah senyum-senyum.

Lalu saya tambahi,

"Bukan buat kalian kan? Masih kecil jangan merokok, ya?"

Dari tinggi badan dan wajahnya, mereka sekitar kelas 2 atau 3 sekolah dasar.

Beberapa kali saya mendapati anak-anak yang kelihatan mau merokok bahkan sudah merokok. Saat mau berangkat sekolah, mampir ke warung beli kopi, saya melihat empat anak berpakaian seragam sekolah sedang merokok.

Awalnya saya mau langsung tegur mereka. Sebab mereka dengan entengnya merokok pakai seragam di pinggir jalan. Saya pikir zaman dulu anak-anak sembunyi-sembunyi kalau merokok. Kalau sekarang tidak malu lagi terang-terangan. Ada enam anak berpakaian putih biru itu.

"Wah, anak sekolah pada merokok, kalian sekolah mana?"

Mereka tak menjawab, lalu beringsut pergi. Padahal saya tak hendak marah. Cuma mau ngobrol saja. Eh mereka malah kabur. Dalam hati saya bersyukur mereka masih punya malu atau segan pada yang menegurnya. Padahal mereka tidak tahu saya ini seorang guru atau bukan.

Ya, saya seorang guru SMA. Didasari kepedulian menjaga generasi muda dari rokok, saya beberapa kali menegur anak-anak yang kelihatan merokok. Meskipun mereka bukan siswa saya.

Ketika Merokok Dianggap Biasa

Bisa jadi tingginya angka merokok pada anak-anak karena kita (masyarakat) kurang peduli dengan masalah ini. Hasil Survey Lentera Anak (2020) menyimpulkan bahwa sebagian besar warung di sekitar sekolah masih menjual rokok kepada anak meskipun mereka mengetahui ada aturan larangan menjual rokok kepada anak karena rokok dianggap hal biasa.

Hasil Global youth Tobacco Survey Indonesia (2019) menunjukan bahwa 76.6% pelajar membeli rokok dari warung, toko, dan pedagang kaki lima atau kios. Sekitar 60 persen pelajar tidak dicegah dari membeli rokok karena usia mereka. Sebanyak 71.3 persen dapat memberi secara eceran atau perbatang (GYTS, 2019). 

 


 

Survey tentang penjualan rokok pada bulan Maret-April 2020 di 96 warung di sekitar 65 sekolah yang ada di 3 kota yang termasuk 10 besar provinsi dengan prevalensi usia 10-14 tahun yang memulai merokok tertinggi di Indonesia yaitu di Kota Yogyakarta, Kota Padang, dan Kota Lombok.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa:

1. Sejumlah 93.8% warung memajang rokok di warung nya, 69.8% warung di sekitar sekolah terlibat kerjasama dengan industri rokok, dan 89.6% memasang spanduk iklan rokok di warungnya.

2. Sebanyak 96% penjual warung mengaku pernah menjual rokok kepada anak sekolah berseragam SMA 59.1%, SMP 36.6% dan SD 4.3%; Umumnya (67.4%) tidak menolak anak membeli rokok dengan alasan anak bisa membayar, sebagai penjual tidak ingin menolak pembeli dan takut berurusan dengan orang tuanya. 96.8% anak membeli rokok secara batangan dan terbanyak membeli tiga batan

3. Sejumlah 56.3% warung sekitar sekolah tahu larangan menjual pada anak, informasi tersebut mereka dapatkan dari Bungkus rokok (63.9%) yaitu ada tulisan dilarang menjual kepada anak dibawah 18 tahun.

 

Merokok merupakan hal yang biasa di Indonesia. Indonesia merupakan surga bagi perokok. Orang-orang begitu bebasnya merokok seperti di pasar, di tempat ibadah, di jalan, atau lainnya. Bahkan orang biasa merokok di fasilitas-fasilitas yang seharusnya menjadi tempat sehat seperti rumah sakit atau tempat olahraga. Kebayang kan seharusnya orang mendapatkan sehat di tempat itu eh malah mendapatkan sakit atau racun.

Bahkan anak-anak merokok merupakan hal yang biasa. Coba perhatikan anak-anak di sekeliling kita. Pasti kita pernah melihat anak-anak yang merokok baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Kadang sendirian atau barengan. Atau kita pernah melihat foto maupun video di media sosial tentang anak-anak merokok. Ternyata jumlah anak-anak merokok di Indonesia itu banyak sekali.

Dalam 10 tahun terakhir, jumlah perokok di Indonesia. Ini termasuk perokok anak yang terus meningkat. Laporan GATS 2021 menunjukkan jumlah absolut perokok aktif meningkat dari 60,3 juta (2011) menjadi 69,1 juta (2021), atau meningkat 8,8 juta dalam 10 tahun.

Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi merokok penduduk usia anak 10-18 tahun naik dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 9,1 persen pada 2018. Tidak berlebihan kalau kita sudah mengalami darurat perokok anak.  

Merokok bukan hanya membahayakan kesehatan tetapi juga punya dampak bagi karakter, sosial, dan ekonomi bagi seseorang.

Pertama, kebanyakan perokok awalnya mencoba-coba. Mereka melihat banyak orang-orang yang merokok lalu ikut-ikutan. Akhirnya kecanduan.

Kedua, harga rokok itu murah dan terjangkau. Jadi orang mudah membeli rokok. Anak-anak juga bisa membeli rokok karena murah itu. Dibandingkan negara lain, rokok Indonesia tergolong murah. Kalaupun tidak bisa membeli satu bungkus maka mereka bisa membeli eceran atau ngeteng. Ya sama seperti dua anak SD yang bahkan rela mengumpulkan recehan untuk beli rokok tadi.

Ketiga, kurangnya kesadaran dari masyarakat. Banyak pemilik warung yang mau menjual rokok kepada anak-anak. Dengan dalih yang penting bukan anaknya. Yang penting mendapatkan untung dari penjualan rokok itu.

Keempat, kurangnya payung hukum yang kuat untuk iklan rokok. Iklan rokok mengelabui lewat sponsor pertandingan olahraga, gelaran musik, atau budaya. Bahkan tidak jarang untuk masuk ke pertunjukan atau pertandingan olahraga harus membayar tiket lalu mendapatkan rokok.

Rokok begitu mudah dijual di tampilan di warung-warung atau minimarket di tempat yang strategis seperti di depan kasir. Sehingga pasti bakal kelihatan sehingga dari yang tidak mau beli rokok menjadi beli rokok. Saya pernah melihat seperti ini. Rokok yang diletakkan dikasir dan disiapkan ketengan. Harga ketengan tentu lebih murah sehingga pelajar bisa membelinya.

 

Rokok ditempatkan dekat kasir dan ada ketengannya (dokumen pribadi)



Bahaya Merokok Bagi Kesehatan

Banyak sekali orang yang kecanduan rokok. Padahal mengonsumsi rokok itu sangat berbahaya. Kenapa? Rokok mengandung dari ribuan zat yang bisa membahayakan tubuh. Efek atau bahaya merokok mungkin tidak langsung muncul. erokok merupakan 90% penyebab kematian akibat kanker paru-paru. 

Bahkan Perokok aktif berisiko 30 – 40% lebih tinggi terkena diabetes dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Ini karena nikotin dalam rokok bisa membuat kadar gula darah menjadi terlalu banyak. Jadi, merokok sama saja memasukkan ribuan ke dalam tubuhnya

Sumber foto: IndonesiaBaik.id

Bahkan rokok ini bahaya bagi psikologis seseorang. Kalau sudah kecanduan, seseorang akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Anak akan berbohong untuk mendapatkan uang agar bisa membeli rokok. Anak mau mencuri uang untuk bisa mendapatkan rokok. Anak bisa memalak anak lainnya untuk mendapatkan uang agar bisa membeli rokok. Sering ada cerita kalau seorang anak menyelewengkan uang sekolah lalu dibelikannya rokok.

Apakah sampai seperti itu? Ya tentu saja. Namanya sudah kecanduan pasti akan mencari berbagai cara untuk Apakah seperti ini tidak berbahaya namanya?

 

Besarnya Perokok Di Kalangan Masyarakat Miskin

Rokok telah menjadi lingkaran setan bagi sosial dan ekonomi. Candu rokok ini bukan hanya memerangkap bagi orang yang berpunya tetapi bahkan orang miskin. Data Badan Pusat Statistik pada 2021 melaporkan bahwa pengeluaran nomor dua masyarakat menengah ke bawah adalah untuk rokok. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia juga menyampaikan semakin muda seseorang merokok, tingkat adiksi rokok akan semakin tinggi, sehingga sulit bagi anak berhenti merokok. Kecanduan ini akan mempengaruhi seseorang dalam kehidupan sosial ekonomi, salah satunya ketika kelak mereka membangun keluarga, pengeluaran yang terbesar adalah untuk membeli rokok, mengalahkan makanan bernutrisi.

Sering, perokok memang tak mengenal rasionalitas. Misalnya ya di tengah pandemi begini, harusnya daripada buat beli rokok, uangnya mendingan buat kebutuhan pokok. Lha tapi anehnya justru pada masa pandemi jumlah perokok naik 13 persen.

Saat rapat RT di perumahan, saya iseng bertanya ke seorang warga. “Kalau rokok ini sekarang harga berapa, Pak?” “Ini 32 ribu” jawabnya. Eh buset, kata saya dalam hati. Bener-bener terkejut dengan harga yang disebutkan.

Miris memang jika kemudian ada seorang bapak yang lebih mementingkan beli rokok ketimbang beli beras. Prihatin pada orang yang dapat BLT eh malah beli rokok. Sementara anaknya ngiler beli susu atau pengen makanan sehat dan enak lainnya.

 

Mengenali dan Mewaspadai Sebab-Sebab Merokok

Ada anggapan keliru yang sudah turun temurun dalam  masyarakat kita kalau merokok itu dianggap lebih keren, lebih kuat, atau lebih gaul. Ini juga yang membuat anak-anak ikut-ikutan merokok. Awalnya coba-coba lalu jadi terbiasa hingga jadi kecanduan.

Kondisi mengkhawatirkan terjadi pada anak dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Biasanya, larangan orang tua bukanlah alasan kesehatan, namun karena anak dianggap belum mampu mencari uang sendiri untuk membeli rokok.  Sehingga, ketika anak-anak sudah bisa mencari uang sendiri atau mendapatkan rokok dari temannya, hal ini bukan dianggap sebagai masalah besar. Masyarakat kita cenderung mendefinisikan perilaku merokok pada anak sebagai kenakalan remaja biasa. 

Meski demikian, sebenarnya banyak pula masyarakat yang menginginkan regulasi yang kuat tentang iklan rokok. Seperti hasil polling di rubrik Indikator Tempo.co pada periode 11 Juli-18 Juli 2022 menunjukkan mayoritas responden (78 persen) menginginkan pemerintah membuat regulasi yang kuat untuk melindungi anak menjadi perokok.

Fakta ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap perlindungan anak dari rokok masih cukup tinggi. Mereka mengharapkan pemerintah bisa mengintervensi faktor penyebab anak merokok dengan membuat sebuah kebijakan yang tegas untuk melindungi anak dari rokok.


Selain itu, satu penyebab banyaknya perokok anak di Indonesia adalah karena regulasi yang lemah. Regulasi belum mampu melindungi anak dan kaum muda menjadi perokok pemula. Tidak dimungkiri kedisiplinan kita sering karena adanya peraturan yang ketat. Nah, kalau peraturan tentang rokok dikuatkan, maka kita pun bisa mengurangi bahkan menghindarkan perokok di kalangan anak-anak.

Lihat saja data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada 2019  yang menunjukkan masih tingginya remaja 13-15 tahun di Indonesia yang terpapar iklan dan promosi rokok. Mereka biasa mengonsumsi iklan rokok dari berbagai media seperti televisi (65,2 persen), tempat penjualan (65,2 persen), media luar ruang (60,9 persen), dan media sosial dan internet (36,2 persen).

Tapi di masyarakat biasanya disebut anak-anak kalau pra-sekolah (belum sekolah) atau usia SD. Kalau SMP dan SMA sudah jarang menganggapnya anak-anak sehingga masyarakat yang punya warung membiarkan mereka membeli rokok.

Padahal, menurut Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2015, dikategorikan anak kalau ada dalam rentang usia di dalam kandungan hingga berusia 18 tahun. Jadi, anak SMA bahkan termasuk anak-anak kalau menurut undang-undang ini. Sehingga, tidak selayaknya penjual rokok menjual rokok kepada mereka.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyebutkan bahwa sebanyak 2.297.492 anak Indonesia menggunakan narkoba. Rokok merupakan gerbang narkoba. Mencegah anak dari rokok sama artinya mencegah mereka dari narkoba.



Indonesia Darurat Perokok Anak

Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebutkan bahwa 76 persen perokok di Indonesia telah memulai merokok di bawah 18 tahun. Jika kita melihat status demografi tersebut, mayoritas mereka adalah laki-laki, lebih dari sepertiga berusia 10-14 tahun atau masih usia SD, dan lebih dari separuh perokok anak adalah mereka yang masih di bangku SMA. 

Data ini amatlah benar kalau melihat fakta di lapangan. Sering sekali kita lihat anak-anak merokok. Kadang sembunyi-sembunyi. Kadang terang-terangan. Sering kita lihat anak-anak merokok di pasar, warung, tempat wisata, maupun tempat mereka biasa nongkrong.

Anak kita adalah generasi masa depan namun kita sering kali abai memenuhi dan melindungi mereka saat ini. Kondisi anak yang masih labil sangat rentan dipengaruhi industri rokok  yang menggunakan berbagai strategi pemasaran untuk menggoda anak merokok.

Generasi muda telah menjadi korban dari pengaruh buruk rokok. Mereka mungkin saat ini baru coba-coba atau ikut-ikutan teman. Tapi yakinlah kalau tidak ada kepedulian kita untuk mencegah dan menghindarkan mereka dari rokok bukan tidak mungkin mereka akan menjadi pecandu.


Perlu diketahui, remaja Indonesia yang merokok merupakan tertinggi di ASEAN. 

 


 

Bagaimana langkah untuk mengurangi perokok termasuk perokok anak? Salah satunya adalah dengan menaikkan harga rokok. Kalau harga rokok tinggi orang pun akan mikir-mikir beli rokok. Termasuk anak-anak. Mereka pasti susah payah beli rokok kalau harganya melambung.

Selanjutnya pemerintah harus bisa melarang iklan rokok yang massif. Sebab iklan itu sangat berpengaruh pada anak-anak. Kalau terus digencar dengan iklan rokok wajar saja mereka jadi tertarik. Sekali lagi, pemerintah harus lebih ketat mengatur iklan rokok.

Yang tidak kalah penting adalah keteladanan dari orang tua. Orang tua jangan mengajari anaknya merokok. Kalau saat ini masih merokok bagaimana? Harus berhenti. Minimal dikurangi. Kalau merokok harus sembunyi-sembunyi atau memberikan edukasi bahwa orang tua sudah terlanjur. Orang tua banyak-banyak memberitahukan anaknya tentang dampak merokok.

Ini harus jadi perhatian kita bersama. Ini masalah masa depan mereka bahkan masa depan bangsa. Kalau dibiarkan terus bisa-bisa masa depan bangsa kita tidak berubah dari kondisi seperti sekarang ini.

Masyarakat pun harus peduli. Pemilik warung jangan menjual rokok kepada anak-anak. Anggap mereka seperti anak-anak kita. Apakah kita mau anak-anak kita jadi perokok? Tentu tidak kan?

 

 

Cegah Rokok Dimulai Dari Keluarga

Keluarga bisa menjadi lingkungan paling efektif menjadi pencegahan merokok. Caranya orang tua mengajark anak untuk menghindari rokok dan jangan sampai terjerumus pada rokok. Orang tua harus bisa memahamkan bahwa rokok tidak ada faedahnya. 

Rokok pengganti atau rokok elektrik pun tidak kalah mencemaskan karena punya zat-zat yang berbahaya pula.

Dalam webinar “Masihkah Pemerintah Berkomitmen Menurunkan Prevalensi Perokok Anak” salah satu pembicara, Oktavian Denta dari IYCTC menyatakan banyak anak-anak di bawah umur yang sudah mulai merokok dengan cara sembunyi-sembunyi. Ada juga kajian yang dilakukan di 9 kota ditemukan banyak sekali rokok elektrik yang dijual kepada anak-anak.


 

Kita juga harus mendorong pemerintah untuk memperketat rokok elektronik. Dari webinar itu juga kita tahu bahwa di Asia, Indonesia satu-satunya yang belum mengatur rokok elektronik secara tegas.

 

 


Sepertinya tidak ada orang yang berdoa yang baik untuk perokok. Justru sering ada doa yang buruk karena terganggu dengan asap atau abu dari perokoknya.

Rokok memang menjadi masalah bagi banyak orang. Bahkan bagi si perokok sendiri. Saya yakin betul kalau si perokok sebetulnya tahu kalau merokok itu kebiasaan yang tidak bagus. Tahu kalau rokok itu merusak kesehatan, membuat pengeluaran semakin besar, atau meracuni orang-orang di sekitarnya. Baik itu tetangga, saudara, bahkan keluarga terdekatnya.

Pasti banyak yang tahu kalau merokok itu merugikan kesehatan. Tapi bagi perokok, hal ini dibantah aja lho. Pasti mereka bisa membantah. “Lha aku merokok masih sehat-sehat aja. Nggak sakit-sakitan. Nggak pernah ke dokter.” Meskipun banyak juga atau malah tidak terhitung contoh kasus orang yang sakit karena bibit penyakit dari kandungan rokok yang mereka isap selama bertahun-tahun itu.

Menyadari sedemikian gawatnya pengaruh buruk dari merokok maka tidak ada keraguan lagi bagi para perokok untuk menghentikan rokok tegas rokok harus kita tinggalkan karena banyak menimbulkan kerugian baik dalam segi ekonomi maupun sosial budaya jangan mengikis karakter-karakter baik termasuk anak muda. Kalau udah mengalami sendiri baru tahu rasanya. Baru nggak bisa membantah.

Saya pernah heran dan kesal dengan teman SMP. Dia merokok tapi kok kuat main futsal, larinya kencang, nafasnya juga kuat. Dibanding saya yang tidak merokok, dia menang kalau olah raga. Saya menyimpan keheranan ini bertahun-tahun lamanya.

Nah, suatu hari saya dapat kabar teman SMP saya meninggal. Padahal dia kelihatan normal saja. Ya itu tadi, kalau olah raga  selalu menang dari saya. Kemudian saya dapat informasi bahwa dia punya penyakit jantung. Dia merupakan perokok aktif sejak kecilnya. 

Bisa jadi organ dalamnya telah rusak karena bertahun-tahun memasukkan racun ke dalam tubuhnya.

Nah, begitulah kondisi sebenarnya perokok. Jika saat ini masih terlihat sehat, bukan berarti mereka sehat-sehat saja sebab dalam tubuh mereka tersimpan banyak racun yang mematikan. Ayo segera sadar bahaya merokok, terutama di kalangan anak-anak. Ayo selamatkan generasi Indonesia dari rokok. (*)

 

Referensi tulisan ini bersumber dari:

https://hellosehat.com/hidup-sehat/berhenti-merokok/bahaya-merokok-pada-daya-tahan-tubuh/

https://lenteraanak.org/content/berita_terkini/hasil_survei_lentera_anak_keterpaparan_iklan_rokok_elektronik_pada_perokok_anak_dan_hubungan_preferensi_merek_rokok_dan_iklan_rokok_konvensional

https://www.merdeka.com/peristiwa/kementerian-pppa-22-juta-pelajar-pakai-narkoba-pintu-masuknya-adalah-rokok.html

 

  Desain grafis diolah sendiri dengan menggunakan aplikasi Canva Pendidikan.


22 Comments

Kata Pengunjung:

  1. Ngeri kalau lihat anak anak sudah merokok. Orang dewasa yang merokok saja merugikan orang orang di sekitarnya. Apalagi anak kecil. Pola didik anak harus diawasi nih. Biasanya anak kecil perokok dibarengi dengan tingkah laku kasar dan melawan orang tua loh. Bahaya tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul KAk. Ada banyak mudharat dari rokok. Bukan cuma kesehatan tapi karakter perokok juga cenderung negatifnya. Bisa mengundang berbohong atau memeras pula.

      Maka kita harus sadar kalau rokok sangat berbahaya.

      Delete
  2. Ngeri sekali, Indonesia tertinggi.
    Alhamdulillah di sekolah saya ada larangan merokok, terutama guru harus memberi contoh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Bu. Angkanya tinggi juga. Mudah-mudahan kita bisa tersadar kalau sudah akut. Sudah berbahaya. Dari mana mulainya?

      Dari lingkungan kita. Lingkungan terdekat.

      Delete
  3. Keluarga menjadi pondasi awal untuk solusi permasalahan remaja termasuk rokok.
    Yuk jaga anak kita dari rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari jaga anak-anak kita dari rokok semoga semakin berkurang perokok anak. Semoga semakin berkurang perokok di Indonesia. Aamiin

      Delete
  4. Kerjasam antara keluarga lingkungan dan sekolah
    Tapi tetap utama
    Adalah pendidikan keluarga sebagai solusi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat Bu. Kalau keluarga sudah kuat pendidikannya maka bisa memberikan pondasi yang kuat untuk anak. Jadi di manapun dia berada, dia memegang nilai yang sudah tertanam dalam keluarga.

      Delete
  5. "Membantu menghilangkan rokok di negara Indonesia", begitu kira-kira jawaban seorang teman yang perokok, ketika ditanya mengapa merokok.

    Miris memang, bahkan guru yang seharusnya digugu dan ditiru, masih banyak yang menghidap tembakau tersebut.

    Jadi bagaimana caranya? Hmmm, menarik sekali yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawabannya miris ya. Dari rokok, lebih banyak mana untung atau ruginya ya Pak.
      Pasti banyak ruginya. Terutama untuk generasi muda. Apa jadinya kalau mereka jadi generasi rokok. Mudah-mudahan perokok anak semakin berkurang. Aamiin

      Delete
  6. Replies
    1. Hehe... Mari pak. Setop merokok. Supaya bisa menghindari merugikan orang lain .

      Delete
  7. Kalau membahas rokok, selalu berujung penasaran. Bagaimana caranya menghentikan? Beribu alasan para perokok bikin nyesek kaya asap rokoknya.

    ReplyDelete
  8. Hehe .. harus kita komitennya ya Bu. Sama lingkungan juga berpengaruh. Kalau bisa jauhi lingkungan perokok

    ReplyDelete
  9. Sungguh miris sekali ketika kita melihat generasi penerus bangsa , apalagi setingkat SD sudah merokok. Pak ibu jagain anaknya dong perhatikan, jangan selalu sibuk cari uang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sebuah tantangan ya Bu. Ayah dan ibu harus terus mendampingi agar anaknya terhindar dari perilaku buruk. Salah satunya merokok ini. Termasuk pemerintah ya. Yang harus juga andil menjaga dan mencegah perokok anak.

      Delete
  10. Menyedihkan memang....
    Betul kita mulai dari keluarga untuk mengatasi masalah tikok anak-ansk..stop rokok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Bu. Dimulai dari keluarga, lalu dilanjutkan oleh lingkungan. Masyarakat harus peduli dengan pencegahan perokok anak. Selain itu, pemerintah juga harus lebih ketat mengatur iklan rokok..

      Delete
  11. Ya sih, ini mah semua lapisan masyarakat harus diedukasi dan dicegah untuk memberikan rokok kepada anak, terutama para pedagang. Tapi biasanya mereka berdalih, anak yang beli rokok jika ditanya buat siapa mereka akan menjawab buat ayahnya. Nah kan... Gimana tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. harus jeli juga ya Bu. Para ayah jangan nyuruh anak beli rokok kali ya. Atau ayah harus mendatangi warung setempat. Bilang kalau dia nggak bakal nyuruh anak beli rokok. Jadi pas anak datang ke warung, pastilah itu hujan untuk ayahnya. Jadi pemilik warung bisa tegas menolak jual rokok.

      Delete
  12. Minimal dari diri saya sendiri tidak merokok.. menjadi contoh mulai dari diri sendiri akan sedikit mudah menularkan semangat utk tidak merokok kepada yng lain...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat bang. Dari kita dulu ya nggak merokok. Kita tunjukkan kita sehat dan tetap keren walaupun nggak merokok. Eh emang yang bener mah merokok itu yang nggak keren ya bang..

      Mudah-mudahan para perokok bisa semakin sadar kalau rokok itu nggak bagus. Yuk sadar juga perokok anak sudah mengkhawatirkan.

      Delete

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post