Alun-alun kebanggaan warga ini ramai. Akhir pekan menjadi kesempatan bagi para keluarga untuk menemukan hiburan dengan bersantai bersama keluarga. Ada pula yang melakukan kegiatan lain seperti olahraga, senam, atau jualan. 

Tempatnya yang strategis menjadi favorit banyak orang. Terlebih dikelilingi oleh fasilitas umum seperti museum, perpustakaan daerah, rumah sakit, masjid agung, pusat pemerintahan daerah, dan lainnya. Memang tempat yang pas untuk kumpul-kumpul melepas lelah atau mencari hiburan.

Itulah alun-alun Rangkasbitung yang menjadi kebanggaan warga.

Sayangnya keindahan alun-alun dirusak oleh pemandangan sampah yang berserakan di sana-sini. Di lapangan rumput, lapangan futsal, paving blok, air mancur, dan lainnya. Nyaris tidak ada tempat yang tidak ada sampahnya. 


Melongok ke selokan, plang Rangkasbitung, depan perpustakaan atau museum pun banyak sampah terutama sampah plastik yang tak hanya berwarna putih tapi juga merah dan hitam.

Bahkan dekat tempat duduk pun banyak sampahnya. Berfoto-foto pun menjadi tidak indah lagi. Meskipun begitu, tetap ada saja yang berfoto-foto. Tapi pastinya tidak indah karena sampah itu. Dibutuhkan skill khusus mengambil angle atau sudut pandang agar pas, tidak terambil pemandangan sampah tadi. Tapi tidak semua yang bisa melakukannya. Hanya beberapa saja yang punya skill ini.

Padahal banyak kegiatan yang bisa dilakukan di tempat seperti nongkrong komunitas seperti Komunitas sepeda, skateboard, pecinta satwa, dan lainnya. 

Apakah di lokasi ini tidak ada tempat sampah? Ada. Bahkan banyak. Di pinggir-pinggirnya ada tempat sampah yang terdiri dari dua atau tiga jenis tempat sampah yaitu sampah organik dan organik. 

Kebanyakan ada di pinggir atau sekeliling alun-alun. Jaraknya nggak jauh lho kalau mau membuang sampah. Tapi entah kenapa malah membuang sampah sembarang sehingga merusak pemandangan alun-alun. 

Sampai ada pengunjung yang nggak sabar dengan pemandangan itu lalu menyapu. Di saat masih padat aktivitas pengunjung alun-alun. Maka debu pun beterbangan. Kurang tepat juga sih karena debu itu bisa terisap oleh pengunjung atau nempel pada makanan yang dijual di sana.

Mungkin ada yang kurang. Saya tidak melihat imbauan seperti membuang sampah pada tempatnya atau larangan membuang sampah sembarang. Harusnya ajakan seperti ini diperbanyak agar warga terasa diingatkan saat membacanya. 

Malah kalau bisa ada semacam pemberitahuan lewat suara berulang-ulang misalnya 5 sampai 10 menit sekali agar pengunjung selalu teringatkan. 

"Mari buang sampah pada tempatnya. Jaga keindahan alun-alun kita. Dilarang buang sampah sembarang," atau semisalnya.

Biar tidak capek mungkin bisa lewat rekaman saja. Sudah banyak kok sistem seperti ini. Misalnya di alun-alun Bandung, Malang, dan lainnya. 

Lumayan efektif untuk mengurangi sampah yang berserakan.

Tentu dibutuhkan kerjasama pengunjung juga. Ya, pengunjung adalah pihak yang paling menentukan adanya sampah ini. Cobalah untuk sama-sama menjaga keindahan alun-alun. Toh, kalau bersih dan asri, pengunjung juga yang menikmati kenyamanannya. Sepakat nggak nih?

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post