Seingat saya baru kali ini sakit dalam waktu yang lama. Sampai tiga pekan lewat dua hari masih tergolek di rumah. Saya tidak sekolah atau beraktivitas seperti biasanya. Sebetulnya ke sekolah juga sih tapi nggak sampai full tapi setengah hari saja sudah pulang lagi. 


Awalnya saya demam. Dari hari Jumat sampai Ahad demam tinggi. Senin sebetulnya mau nggak masuk tapi karena mengajar enam jam maka saya memaksakan ke sekolah. 


Sebetulnya di pagi hari itu hujan. Pas mau berangkat tinggal rintik-rintik. Saya nekat berangkat.  Belum lima menit keluar rumah, hujan menjadi lebat. Maka saya kehujanan. Sempat berhenti untuk memakai  jas hujan. Hujan semakin deras saja. Sepatu pun basah. Agak demam dikasih hujan makan demam semakin terasa. Hari itu memang  hujan merata. Di daerah-daerah lain juga hujan. 


Saya pun mengajar dengan rasa badan nggregesi, dalam bahasa Jawa. Rasanya pengen segera selesai dan pulang. Tapi enam jam ini harus ditunaikan. 


Setelah menyelesaikan enam jam, saya pun segera pulang. Suhu badan semakin tinggi. Saya bawa istirahat saja. Besoknya saya tidak ke sekolah. Tidak ada jam juga. Dua hari saya mendekam di rumah. Atas saran istri, saya periksa ke klinik. Sebenarnya ada BPJS, tapi biasanya kalau pakai BPJS fasilitasnya ehm...tahu sendiri ya... Hehe.. maka saya tidak menuju ke faskes BPJS. 


Malangnya, saat menuju ke klinik saya kehujanan lagi. Mana tidak bawa jas hujan pula. Sempat beberapa saat kehujanan, saya mampir ke minimarket. Sekitar satu jam di sana. Dengan penuh perjuangan sampailah saya di klinik. 


"Apa di kantor ada yang kena covid-19 Pak? Soalnya kan kasusnya lagi naik," tanya sang dokter. 


"Sepertinya nggak Bu. Sebab saya mulai terasa demamnya Jumat. Saat itu tidak ada warga sekolah karena sedang acara Pramuka."


Saya dikasih obat yang banyak. 


"Tinggal di mana Pak?"


"Sentral, Bu."


Sekitar 7 kilometer dari klinik ini. Biaya obatnya Rp. 150 ribu. Saya tidak tahu apakah dengan menyebutkan tempat yang lantas ketahuan jaraknya itu mempengaruhi biaya pengobatan.


Berhari-hari obat diminum. Yang tadinya banyak semakin berkurang. Obat seplastik pun akhirnya ludes bertepatan dengan sepekan saya di rumah saja. Sempat mikir apakah ini Covid-19? Sebab saya juga sudah pernah isoman, lho. Masak iya kena lagi?


Eh tapi kalau dirasa-rasakan emang mirip kena covid-19. Ada pusingnya begitu. Saya pun dikasih obat yang ada Paracetamolnya. Bahkan kadarnya besar. Mengandung 650 mg Paracetamol. Bahkan mengalahkan Bodrex yang sekitar 500 mg Paracetamol. Eh tapi pusingnya tidak hilang timbul. 


Setelah Satu Pekan


Demam memang sudah surut.  Tapi sekarang berganti dengan radang. Tenggorokan saya memerah. Makan pun jadi tidak enak. Dan tidak hanya itu, batuk pun muncul. Kok bisa ya?


Rasanya karena gatal di tenggorokan. Jadi ibarat gatal di tangan yang butuh digaruk. Lha kalau tenggorokan? Maka batuklah bentuknya. 


Setiap hari saya minum air hangat. Selalu sedia air panas di termos dan air minum di botol minum. Jadi saya tinggal mencampurkan saja untuk bikin air hangat. Selama dua pekan begitulah yang saya lakukan. Kalau malam saya selalu bersiap dengan dua benda ini. Diletakkan di kamar tidur. Jadi kalau batuk tinggal bikin saja. 



Setiap hari setiap malam tersiksa dengan batuk ini. Kalau malam hampir setiap jam saya batuk. Saya pernah menandai. Kalau saya jam 8 tidur, jam 9 terbangun, jam 11, jam 2 pagi, jam 3 pagi, dan subuh batuk juga. Yah, hampir tiap jam!


Sepekan kemudian saya merasa sudah mendingan. Saya pun memutuskan untuk ke sekolah. Badan juga terasa ringan. Meskipun masih ada batuk satu dua. 


"Masih kelihatan pucet, Pak."


"Kelihatan kalau habis sakit, lha emang sakit ya, hehe..."



Setengah hari di sekolah, saya pulang lagi lantaran merasa kembali drop. Di rumah pun batuk belum mereda. Rasanya gatal di tenggorokan. Dua hari kemudian masih terasa. Eh, hari ketiga berubah jadi pilek. Hidung rasanya gatal-gatal. Malamnya beberapa kali bersin.


Dua pekan ini saya juga tidak jadi imam kalau ke musola. Sebab suara hilang. Atau batuk yang selalu muncul. Sebetulnya bukan batuk berdahak. Justru yang ada batuk kering. Tapi saat batuk sampai terasa pusing atau perut kaku.


Kalau dibawa ngomong biasanya lebih terasa gatalnya. Tapi saya tidak mungkin puasa bicara, kan....


Sekarang sudah berjalan tiga pekan dua hari. Jika hati ini adalah hari Selasa, berarti sudah tiga pekan dua hari saya dalam kondisi seperti ini. Sekarang sih kalau malam jarang terbangun batuk. Tapi kalau pagi, siang , sampai sore masih batuk. Apalagi kalau dibawa ngomong... Deuh ...

Post a Comment

Kata Pengunjung:

Previous Post Next Post